bernasnews – Pemerintah Kota Yogyakarta kembali mengambil langkah strategis dalam mengendalikan inflasi yang memengaruhi daya beli masyarakat.
Melalui Dinas Perdagangan, Pemkot akan memperluas program Warung Masyarakat Lan Pedagang Tanggap Inflasi, yang lebih dikenal dengan sebutan Warung Mrantasi, ke dua pasar tradisional lain, yakni Pasar Prawirotaman dan Pasar Sentul.
Diberitakan tujujogja.id, program ini sebelumnya telah berjalan di Pasar Beringharjo sejak Juli 2024 dan melibatkan 25 pedagang sebagai percontohan. Keberhasilan tahap awal tersebut mendorong pengembangan lebih lanjut yang direncanakan akan melibatkan 49 pedagang baru di dua pasar berbeda.
“Kami akan mengembangkan Warung Mrantasi di Pasar Prawirotaman dan Sentul. Kami libatkan sebanyak 49 pedagang agar pengendalian inflasi semakin optimal,” ujar Veronica Ambar Ismuwardani, Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, dalam forum High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Selasa, 22 Juli 2025.
Veronica menjelaskan, program Warung Mrantasi diluncurkan sejak Mei 2024 sebagai bentuk intervensi langsung terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok.
Tujuannya adalah mengajak para pedagang untuk lebih tanggap dan patuh dalam menetapkan harga, khususnya dengan berkomitmen menjual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kami tidak ingin pedagang hanya mencari keuntungan tinggi tanpa peduli kondisi ekonomi sekitar. Kami ajak mereka sadar bahwa harga di pasar berpengaruh langsung pada inflasi Kota Yogyakarta,” tegasnya.
Langkah lanjutan dari program ini adalah peluncuran Sekolah Mrantasi, yang dijadwalkan mulai 28 Juli 2025. Sebanyak 160 pedagang dari berbagai zona komoditas akan dilibatkan secara bertahap hingga November mendatang.
Veronica menjelaskan bahwa Sekolah Mrantasi bukan sekadar edukasi formal, melainkan wadah untuk menanamkan kesadaran soal asal-usul barang, rantai pasok, dan harga wajar. Harapannya, pedagang bisa lebih bijak dalam menentukan margin keuntungan dan tidak terjebak dalam praktik spekulatif.
Salah satu contoh konkret yang disampaikan Veronica adalah situasi di Pasar Beringharjo, di mana harga komoditas yang terlalu tinggi berpengaruh langsung ke harga di warung eceran. Ketika ini terjadi secara luas, maka inflasi akan terdorong naik, dan masyarakat kecil yang paling terdampak.
Sementara itu, Sri Riswanti, Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, mengonfirmasi bahwa 23 pedagang di Pasar Prawirotaman dan 17 pedagang di Pasar Sentul akan menjadi bagian dari pengembangan Warung Mrantasi tahap selanjutnya.
“Kami rencanakan pengembangan Warung Mrantasi di Prawirotaman dan Sentul pada September 2025,” jelasnya saat dikonfirmasi pada Kamis, 24 Juli 2025.
Ia menyebutkan beberapa syarat untuk menjadi bagian dari Warung Mrantasi, antara lain: tidak menunggak retribusi, menjual sembako sesuai HET, tidak menimbun barang, tidak menjual ke tengkulak, serta siap mendukung sistem pembayaran nontunai (cashless).
Dukungan dari Bulog juga akan diberikan berupa prioritas pasokan dan akses ke program stabilisasi harga.
“Kami beri pedagang manfaat besar. Mereka akan dapat prioritas pasokan barang pokok dari Bulog, ikut program stabilisasi harga seperti operasi pasar bersubsidi atau non-subsidi, dan mendapat kemudahan akses modal melalui Bank BPD DIY,” ujar Riswanti menambahkan.
Pemkot Yogyakarta berharap langkah ini menjadi solusi jangka panjang, bukan hanya untuk mengendalikan inflasi, tetapi juga untuk membangun sistem distribusi dan perilaku pasar yang lebih sehat dan berdaya.
Dengan memperbanyak Warung Mrantasi dan mendirikan Sekolah Mrantasi, pemerintah daerah tidak hanya berupaya menahan laju kenaikan harga, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif bahwa stabilitas harga adalah tanggung jawab bersama.
Pedagang pasar, dalam hal ini, dipandang sebagai garda terdepan dalam menjaga keseimbangan ekonomi lokal. (Eln)












