Kapan Rebo Wekasan 2025? Benarkah Tak Ada di Tahun 2025?

bernasnews – Rebo Wekasan adalah tradisi yang dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Islam atau kalender Hijriah.

Tradisi ini masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Indonesia, terutama di wilayah Jawa, sebagai bentuk ikhtiar menolak bala.

Apa Itu Rebo Wekasan?

Dalam tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di kalangan orang Jawa, Sunda, dan Madura, terdapat sebuah kepercayaan lama yang dikenal sebagai Rebo Wekasan atau Arba Mustamir. Istilah ini merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan kedua dalam penanggalan Hijriah.

Secara turun-temurun, hari Rebo Wekasan diyakini sebagai momen yang rawan akan bencana dan malapetaka. Karena itu, sebagian masyarakat cenderung menghindari menggelar acara penting seperti pernikahan, pindahan rumah, hingga sunatan pada hari tersebut.

Bahkan, ada pula yang mengadakan doa bersama, sedekah, dan ritual mandi safar sebagai bentuk perlindungan diri dari mara bahaya yang diyakini akan turun di hari itu.

Namun, apakah benar di tahun 2025 tidak ada Rebo Wekasan? Mari kita telusuri lebih jauh berdasarkan data dan dalil keagamaan.

Penanggalan Hijriah dan Rebo Wekasan Tahun 2025

Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah, Rebo Wekasan hanya bisa ditentukan ketika kita mengetahui secara pasti kapan bulan Safar berlangsung dan kapan hari Rabu terakhir dalam bulan tersebut jatuh.

Menurut informasi dari berbagai sumber, termasuk kalender hijriah 1446 H dan penanggalan masehi 2024–2025, diketahui bahwa hari Rabu terakhir bulan Safar atau Rebo Wekasan untuk periode ini jatuh pada 4 September 2024.

Dengan kata lain, tahun 2025 tidak memiliki hari Rebo Wekasan, karena di tahun tersebut bulan Safar tidak memuat hari Rabu terakhir yang memenuhi kriteria Rebo Wekasan. Maka, Rebo Wekasan hanya bisa ditemukan di tahun sebelumnya, yaitu 2024.

Keyakinan tentang Bala dan Kesialan di Rebo Wekasan

Sebagian masyarakat masih mempercayai bahwa Rebo Wekasan merupakan hari turunnya berbagai macam bala dan malapetaka ke muka bumi.

Inilah sebabnya mengapa banyak yang melakukan ritual seperti doa tolak bala, mandi safar, hingga berbagai upacara adat di hari tersebut. Namun, bagaimana pandangan Islam mengenai hal ini?

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah Muhammad SAW dengan tegas menyatakan:

لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ولا هَامةَ ولا صَفَرَ
Artinya: “Tidak ada penyakit menular (yang berdiri sendiri), tidak ada kesialan karena ramalan, tidak ada keyakinan buruk terhadap burung hantu, dan tidak ada kesialan karena bulan Safar.”
(HR Bukhari)

Hadits ini menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan adanya waktu, hari, atau bulan tertentu yang mengandung kesialan. Segala sesuatu yang terjadi di dunia adalah atas izin dan kehendak Allah SWT. Maka, mempercayai bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar membawa celaka secara otomatis bertentangan dengan ajaran tauhid.

Penjelasan Ulama tentang Rebo Wekasan

Dalam kitab Faidh al-Qadir, seorang ulama besar bernama Imam Abdurrauf al-Munawiy menegaskan bahwa kepercayaan terhadap ramalan buruk adalah bentuk kemunduran akidah:

“Ramalan buruk bukan bagian dari agama, melainkan termasuk perbuatan jahiliyah dan kebiasaan para tukang ramal dan ahli nujum. Mereka menyebut hari Rabu sebagai hari malapetaka karena dikaitkan dengan planet Merkurius yang dianggap membawa sial. Anggapan ini keluar dari batas ajaran Islam.”

Meski demikian, menyebut suatu hari sebagai hari yang perlu diwaspadai diperbolehkan jika tujuannya untuk memperingatkan agar manusia lebih berhati-hati, memperbanyak doa, serta memperbarui tobat kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika melihat mendung di langit, beliau segera menunaikan salat dan berdoa agar hujan tersebut tidak membawa adzab seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu.

Jadi,  tidak ada Rebo Wekasan di tahun 2025 karena berdasarkan penanggalan Hijriah, hari Rabu terakhir di bulan Safar tahun tersebut jatuh pada bulan September 2024. Jadi, Rebo Wekasan hanya ada di tahun 2024, bukan 2025.

Menyikapi tradisi ini, hendaknya kita tetap berpedoman pada ajaran Islam yang tidak mempercayai adanya hari sial. Namun, menjadikan Rebo Wekasan sebagai waktu untuk bermuhasabah, memperbaiki diri, serta memperbanyak doa dan amal, tentu menjadi sesuatu yang positif.

Semoga kita semua senantiasa dijauhkan dari bala, diberi perlindungan oleh Allah SWT, dan mampu menjalani hidup dengan penuh ketakwaan, tidak hanya di bulan Safar tetapi sepanjang waktu.

***