Ibu Kota ASEAN di Mana? Benarkah di Jakarta? Cek Penjelasannya Berikut Ini

Ilustrasi Ibu Kota ASEAN di Mana? Benarkah di Jakarta? Cek Penjelasannya Berikut Ini/Unsplash

bernasnews – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Kementerian Luar Negeri dan ASEAN telah menetapkan Jakarta sebagai Ibu Kota ASEAN.

Simak penjelasan dan berbagai penguatan simboliknya, termasuk penggantian nama Stasiun MRT dan revitalisasi taman kota.

Jakarta sebagai Ibu Kota ASEAN: Simbol dan Strategi Baru untuk Kota Global

Banyak orang bertanya: Ibu kota ASEAN itu di mana? Meski tidak setara dengan ibu kota negara, kawasan Asia Tenggara kini memiliki sebuah kota pusat yang menjadi lokasi resmi berbagai kegiatan regional.

Jawabannya: Jakarta, yang selama ini menjadi rumah bagi Sekretariat Jenderal ASEAN, kini semakin diperkuat perannya sebagai Ibu Kota ASEAN.

Langkah konkret menuju pengakuan ini terlihat dari berbagai kebijakan simbolik dan infrastruktur yang diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Mulai dari penggantian nama Stasiun MRT hingga rencana revitalisasi taman-taman kota, Jakarta perlahan menjelma menjadi simpul utama kerja sama regional Asia Tenggara.

Penggantian Nama Stasiun MRT Jadi Stasiun ASEAN

Salah satu momen penting penegasan posisi Jakarta sebagai Ibu Kota ASEAN terjadi pada 10 April 2019, saat Gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Baswedan, meresmikan penggantian nama Stasiun MRT Sisingamangaraja menjadi Stasiun ASEAN.

Peresmian tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir serta Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi. Anies menjelaskan bahwa perubahan nama ini tidak bermuatan komersial. Bahkan, ASEAN tidak mengeluarkan biaya apapun untuk penamaan tersebut.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa Jakarta bukan hanya ibu kota Indonesia, melainkan juga ibu kota ASEAN,” ujar Anies dikutip dari berbagai sumber.

Letak Stasiun ASEAN ini sangat strategis, karena berada tepat di depan Kantor Sekretariat Jenderal ASEAN di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan. Dari Stasiun Bundaran Hotel Indonesia, perjalanan ke Stasiun ASEAN hanya memakan waktu sekitar 15 menit melalui tujuh stasiun.

MRT dan Konektivitas Delegasi ASEAN

Dengan dibangunnya MRT di Jakarta, Indonesia menjadi negara kelima di Asia Tenggara yang memiliki moda transportasi bawah tanah, menyusul Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Sekretaris Jenderal ASEAN, Dato Lim Jock Hoi, mengungkapkan harapannya agar keberadaan MRT dapat mempermudah mobilitas para delegasi ASEAN. Ia menyebutkan bahwa setiap tahun ada lebih dari 1.600 pertemuan ASEAN, dan sekitar 500 di antaranya dilaksanakan di Sekretariat Jakarta.

“Kami berharap ke depannya jumlah pertemuan dapat ditingkatkan, seiring dengan peningkatan infrastruktur transportasi seperti MRT,” ucapnya.

Wakil Menteri Luar Negeri pun berharap delegasi yang menginap di hotel-hotel sekitar jalur MRT dapat menggunakan moda ini sebagai transportasi utama, sehingga menambah nilai ekonomis dan efisiensi dari sistem transportasi publik Jakarta.

Renovasi direncanakan dimulai pertengahan tahun 2025, dan akan mencakup perbaikan toilet, area parkir, penambahan jogging track, serta penataan area terbuka untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Menariknya, proyek ini akan dibiayai menggunakan skema kontribusi pengembang melalui Koefisien Lantai Bangunan (KLB), bukan dari dana APBD.

TOD dan Ekonomi Kota: Potensi Jakarta sebagai Hub ASEAN

Jakarta juga sedang membangun kawasan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Hal ini tertuang dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 44 Tahun 2017, yang menjelaskan bahwa kawasan TOD adalah area yang memiliki perpotongan dua atau lebih jalur transportasi massal, salah satunya berbasis rel.

Ketua Komisi Teknis Transportasi Dewan Riset Nasional, Danang Parikesit, menekankan bahwa kawasan TOD memiliki potensi untuk menciptakan pendapatan nontiket yang besar, seperti yang terjadi di MTR Hongkong. Di sana, 70 hingga 90 persen pendapatan diperoleh dari sektor properti dan bisnis di sekitar stasiun.

Model seperti ini diharapkan bisa diadopsi oleh Jakarta melalui pengelolaan properti di sekitar stasiun dan taman-taman kota yang terintegrasi.

Jakarta Menuju Kota Global

Dengan pengembangan taman bertema ASEAN, integrasi transportasi MRT-TransJakarta, serta fasilitas diplomatik dan ruang publik yang tertata, Jakarta tengah membuktikan dirinya sebagai kota dengan peran penting dalam percaturan kawasan Asia Tenggara.

Penamaan Stasiun ASEAN, keberadaan Sekretariat Jenderal ASEAN, pembangunan infrastruktur transportasi dan taman-taman kota bertema regional, serta rencana strategis dari pemerintah daerah menjadi bukti nyata bahwa Jakarta tidak hanya menjadi simpul ekonomi nasional, tetapi juga simpul diplomasi kawasan.***