News  

Pokdarwis Panembahan Gumregah Gelar Diskusi Potensi Wisata

Ketua Pokdarwis Panembahan Gumregah Y. Sri Susilo (Kiri baju putih) saat menyampaikan sambutan dalam acara diskusi. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews — Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Panembahan Gumregah menyelenggarakan acara “Diskusi Potensi Wisata Panembahan & Kraton”, bertempat di Joglo Resto Njeron Beteng, Jalan Siliran Lor, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta, Jumat malam (11/7/2025).

Hadir dalam kegiatan tersebut, perwakilan dari LPMK Panembahan, Ketua Kampung se-Kelurahan Panembahan, Pengurus Harian Pokdarwis Panembahan Gumregah, Pengurus Kamwis (Kampung Wisata), Perwakilan Pemangku Kepentingan dan Pendamping Kamwis dari Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.

Dalam sekapur sirih, Ketua Pokdarwis Panembahan Gumregah Y. Sri Susilo mengatakan, bahwa kegiatan ini sebatas untuk silaturahmi serta update informasi Pokdarwis dan Kamwis Panembahan, serta diskusi potensi wisata di wilayah Kelurahan Panembahan dan wilayah nJeron Beteng Kraton Jogja.

“Seperti diketahui bahwa kelembagaan Pokdarwis Panembahan Grumegah ini telah terbentuk pada tahun 2022, namun untuk Kamwis barusan terbentuk dan berjalan dua bulan ini, yang nanti akan dijelaskan oleh Mas Candra, yang juga Ketua Pokdarwis Kadipaten yang ditugasi oleh Dinpar sebagai pendampingan pembentukan Kamwis di Kota Yogya” ujar Susilo.

Menurut Susilo, jika menyimak diskusi dalam whatsapp group (WAG) masih banyak yang masih saling surup pemahaman antara tugas Pokdarwis dan Kamwis. Juga pemahaman keberadaan homestay yang masih berbeda apabila mencermati gayengnya diskusi di grup.

Setelah ini, imbuh Susilo, nanti akan kami share Pergub Nomor 40 Tahun 2020, sebagai acuan Pokdarwis, Desa Wisata/ Kampung Wisata. Di dalam pergub tersebut Pokdarwis fungsinya lebih bagaimana menyadarkan masyarakat terkait pariwisata atau tugas normatifnya.

Kedua, tugasnya sebagai jembatan antara pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain dengan Kampung Wisata. Ketiga, dan yang terpenting adalah membentuk Kampung Wisata. Jadi kalau ada Pokdarwis namun belum ada Kampung/ Desa Wisatanya itu belum komplit.

“Kalau kita cermati dalam pergub itu, yang menjalankan bisnis atau usaha berkaitan wisata di kampung atau desa itu adalah Kampung Wisata/ Desa Wisata,” ujar Susilo.

Dikatakan, anggota dari Kamwis/ Dewis adalah para pelaku usaha dan itu sudah betul apabila berjalan sendiri-sendiri. Pasalnya peran dari Kamwis/ Dewis adalah membuat paket-paket wisatanya. Artinya memasarkan potensi wisata yang ada di wilayahnya, dengan paket-paket itu.

“Selanjutnya fungsi Pokdarwis adalah mendukung, mefasilitasi, mensupervisi dan mempromosikan. Termasuk jika ada pelatihan yang diinginkan oleh Kamwis maka Pokdarwis dapat mengajukan ke dinas terkait,” terang Susilo.

Jadi Pokdarwis tidak langsung membuat event dan sebagainya namun ada keterlibatan. Pasalnya belum ada Kamwis di Kelurahan Panembahan maka kemarin Pokdarwis “terpaksa” turun tangan. Sebab kekhususan Pokdarwis di Njeron Beteng ini oleh Kraton dikoordinasikan dengan melibatkan tiga Pokdarwis yang ada.

Suasana diskusi yang digelar Pokdarwis Panembahan Gumregah. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

Sementara itu, Candra selaku Pendamping Kamwis mengemukakan, pada dasarnya sesuai dengan dawuh kraton bahwa ketiga pokdarwis (Panembahan, Patehan, Kadipaten) harus berkolaborasi. Sebagai tugas pendampingan kemarin diminta oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta agar mempecepat dalam pembentukan Kampung Wisata di Kota Yogya.

Menurut Candra, dari 45 Kelurahan, yang terbentuk baru 24 Kamwis sehingga dalam waktu 10 hari pihaknya didorong untuk membentuk 21 Kamwis. Kalau dilihat dari Pergub dan Permen, Pokdarwis itu seperti halnya LPMK namun hanya saja tugasnya lebih fokus pada pariwisata.

“Bahkan dalam kementerian pariwisata ada istilah Local Champion yang posisinya bisa di tengah antara Pokdarwis dan Kamwis atau juga bisa di atasnya karena tugasnya adalah menengahi jika terjadi permasalahan-permasalahan,” beber Candra.

Dalam pergub diperbolehkan untuk membentuk lebih dari satu Kampung Wisata tapi dari kebijakan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk satu kelurahan cukup satu saja Kampung Wisata sehingga di sini (Kelurahan Panembahan) dibentuk Kamwis Panembahan untuk 5 Kampung.

“Untuk menyiasati itu di bawah Kamwis dapat dibentuk pengelola destinasi wisata. Misalnya untuk di Kamwis Panembahan, ada unit pengelola destinasi wisata area Wijilan dan sebagainya,” pungkas Candra.

Selanjutnya dalam sesi diskusi yang cukup renyah tersebut, terungkap di mana Pokdarwis di pedesaan bisa dikatakan sukses lantaran ada dukungan dari BUMDes setempat sebagai sumber pendanaan. Juga penggalian potensi-potensi wisata selain sentral kuliner gudeg Wijilan, yang ternyata wilayah Kelurahan Panembahan cukup kaya.

Dari eksplorasi toponime kampung yang cukup banyak seperti Kampung Musikanan, Kampung Sekulanggen, beberapa bangunan heritage, Pasar Kluwih, Masjid Batu, Masjid Margoyuwono, permainan tradisional, jemparingan, kuliner khas, wahana kekinian Jokteng RC Track, dan lain sebagainya. Acara diskusi ini didukung oleh manajemen Joglo Resto Njeron Beteng. (ted)