bernasnews — Program Studi Magister Manajemen konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia FEB UAD melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Pendampingan Lansia Berbasis SDM Profesional: Mewujudkan Layanan Holistik”, bertempat di Kabupaten Bantul, Jumat, 30 Mei 2025.
Kegiatan dipimpin oleh Dr. Agus Siswanto, M.M., dosen sekaligus Ketua Tim Pengusul, dengan tim terdiri dari para dosen dan mahasiswa Program Studi S2 Magister Manajemen serta kader Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah, yang dikenal aktif dalam gerakan sosial berbasis keagamaan.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar rutinitas akademik akan tetapi menjelma menjadi gerakan yang hidup menyentuh hati, memberi makna, dan menanamkan harapan baru, terutama bagi para lansia yang selama ini lebih banyak menerima ketimbang diberi ruang untuk terlibat.
“Berbeda dari kegiatan sosial biasa, program ini menghadirkan pendekatan yang terstruktur dan professional. Mereka (Tim Pengabdian) tidak datang sekadar memberi, tetapi belajar bersama masyarakat.,” ungkap Agus Siswanto, dalam rilisnya yang dikirim, Selasa (8/7/2025).
“Kami ingin membuktikan bahwa pengabdian bukanlah ajang pamer pengetahuan, tetapi proses saling tumbuh,” tegasnya.
Menurut Agus, kerja sama dengan Ranting Aisyiyah Singosaren bukanlah tanpa alasan. Wilayah ini selama beberapa tahun terakhir menunjukkan komitmen kuat terhadap pelayanan sosial lansia berbasis komunitas.
“Namun, keterbatasan pengetahuan kader dalam hal pendekatan holistik—baik fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual—mendorong tim pengabdi untuk turun tangan. Bukan menggantikan, melainkan memperkuat,” ungkapnya.
Disambut dengan senyum dan sapaan akrab oleh para mahasiswa yang bertugas menjadi pendamping personal. Ada yang memandu senam, ada yang mendampingi pemeriksaan kesehatan, sebagian lain mencatat riwayat keseharian lansia untuk keperluan tindak lanjut.
Salah satu lansia, Mbah Siti (74), mengaku bahagia bisa mengikuti kegiatan ini. “Biasanya cuma duduk di rumah. Tapi hari ini saya merasa seperti tamu kehormatan. Dipijiti, dicek tensi, diajak senam, dan bisa cerita-cerita,” tuturnya sambil tersenyum.
Kajian spiritual interaktif, yang membahas tentang makna hidup di usia senja, pentingnya sabar dan ikhlas, serta semangat untuk terus bermanfaat. Lebih dari sekadar kegiatan teknis, atmosfer kegiatan sangat humanis.
Agus Siswanto pun secara khusus menyusun metode pelibatan mahasiswa berbasis experiential learning, agar pengabdian ini memberi makna ganda: memberi manfaat kepada masyarakat sekaligus mengembangkan kapasitas profesional mahasiswa. Salah satu keberhasilan program ini adalah tingginya partisipasi dan kesiapan mitra.
Ranting Aisyiyah Singosaren yang dipimpin oleh Sri Hartatik menyambut baik program ini dengan kesiapan yang luar biasa. “Kami sudah lama menginginkan pelatihan dan pendampingan seperti ini. Tapi belum ada yang datang membawa ilmu sekaligus merangkul dengan hati. Biasanya hanya seremonial. Tapi hari ini berbeda,” ujarnya.
Menurut Sri Hartatik, setelah program berjalan, para kader Aisyiyah berinisiatif untuk membentuk Tim Sahabat Lansia Berdaya, yang bertugas melanjutkan kegiatan-kegiatan sederhana seperti kunjungan rutin, pendampingan spiritual, dan diskusi kelompok kecil untuk lansia.
Di akhir kegiatan, tim pengabdi dan mitra berkumpul untuk refleksi bersama. Dalam suasana santai, para mahasiswa menyampaikan apa yang mereka pelajari. Kader pun memberi umpan balik secara jujur. Salah satu pesan yang muncul adalah pentingnya menjadikan kegiatan ini sebagai program berkala, bukan sekadar sekali jalan.
“Kami percaya pengabdian itu bukan proyek, namun proses yang harus dibangun dari niat tulus dan relasi jangka panjang,” tegas Dr. Agus Siswanto. (*/ ted)












