News  

Waspadai Leptospirosis dan Hantavirus, Pemkot Yogya Ajak Warga Terapkan PHBS

Tikus rumah (Rattus rattus). Foto: Tedy Kartyadi/ bernasnews.

bernasnews — Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan menekankan pada masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), dalam rangka mewaspadai penyakit Leptospirosis dan Hantavirus yang ditularkan oleh tikus.

Leptospirosis dapat menular melalui kencing tikus yang terinfeksi bakteri Leptospira. Adapun Hantavirus ditularkan melalui kontak dengan kotoran, urin, air liur tikus yang terinfeksi Orthohantavirus.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Lana Unwanah menjelaskan, bahwa pihaknya telah membuat Surat Edaran (SE) guna kewaspadaan Leptospirosis dan Hantavirus.

Dikatakan Lana, SE tersebut sedang dalam proses untuk ditandatangani kepala daerah. SE itu juga untuk menindaklanjuti Surat dari Gubernur DIY terkait kewaspadaan Kejadian Luar Biasa Leptospirosis dan Hantavirus.

“Kami sudah membuat surat edaran untuk kewaspadaan Leptospirosis. Saat ini on proses (penandatanganan),” kata Lana, dikutip dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta, Senin (30/6/2025).

Menurut dia, Hantavirus adalah virus yang menyebabkan sindrom yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Virus ini ditularkan melalui kontak dengan kotoran, urin, air liur tikus yang terinfeksi, inhalasi partikel aerosol dari ekskresi tikus.

“Hantavirus dapat menyebabkan gangguan pernafasan akut dan gangguan ginjal yang berpotensi fatal,” tegas Lana.

“Melalui SE kewaspadaan Leptospirosis, Pemkot Yogyakarta mengimbau kepada seluruh pihak terkait untuk meningkatkan upaya deteksi, pencegahan dan pengendalian Leptospirosis dan Hantavirus di wilayah Kota Yogyakarta,” lanjut dia.

Edukasi dan Terapkan PHBS

Langkah-langkah yang harus dilakukan  antara lain dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengedukasi masyarakat agar berperan aktif dalam mencegah Leptospirosis dan Hantavirus dengan menerapkan PHBS.

“Selain itu memberikan edukasi terkait tanda-tanda klinis Leptospirosis dan segera periksa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama<’ ujarnya.

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat sejak Januari sampai akhir Juni 2025, sudah ada 18 kasus Leptospirosis dengan 5 kasus meninggal dunia. Sementara Hantavirus ada 1 kasus. Menurut Lana, kasus Leptospirosis terutama yang meninggal dunia lantaran sering kali masyarakat atau pasien terlambat mengakses layanan kesehatan.

“Memang saat awal terinfeksi gejalanya tidak terlalu spesifik. Mirip-mirip dengan gejala infeksi bakteri atau virus lainnya, sehingga seringkali masyarakat atau pasien terlambat mengakses layanan kesehatan,” bebernya.

Gejala-gejala Sakit

Sementara itu, gejala tubuh yang terinfeksi Leptospirosis yaitu demam, nyeri kepala, nyeri otot, khususnya di daerah betis, paha, mata kuning, merah dan iritasi serta diare. Sedangkan gejala awal Hantavirus antara lain demam tinggi mencapai 39 derajat celsius, terkadang disertai  bintik perdarahan pada wajah, sakit kepala, nyeri pada bola mata, rasa lelah, nyeri otot, sesak nafas dan detak jantung cepat.

“Jika mengalami gejala-gejala tersebut kami harap masyarakat segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama,” ujar Lana.

Pihaknya juga menyampaikan kepada puskesmas dan rumah sakit diminta meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam deteksi dini dan respon terhadap Leptospirosis dan Hantavirus dengan mengoptimalkan fasilitas penunjang. Misalnya Rapid Diagnostic Test (RDT).

Sedangkan dinas-dinas terkait juga diminta terlibat dalam mencegah dan mengendalikan Leptospirosis dan Hantavirus. Misalnya, dari Dinas Lingkungan Hidup dapat meningkatkan pengelolaan sampah dan limbah organik agar tidak menjadi sumber makanan bagi tikus. (ted)