Temu Kangen Cakep IV’75: Omon – Omon dan Nying Nyong

Suasana saat anggota komunitas Cakep IV'75 menyanyikan lagu "Yogyakarta". (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews – Selamat datang ke kota kami – Yogyakarta indah dan megah – Selamat datang kawan – Kami menyambutmu – Selamat selamat datang. Selamat datang ke kota kami – Yogyakarta indah dan megah. Itulah penggalan lirik lagu lama berjudul “Yogyakarta”, yang dipopulerkan oleh penyanyi Jatu Parmawati dan Grup band Geronimo, era 70an.

Lagu kenangan itu sebagai pembuka dalam acara “Reuni Tipis-tipis atau Temu Kangen” oleh belasan anggota Komunitas Cakep IV’75 (Cah/ alumni SD Keputran IV Yogyakarta, Tahun 1975), bertempat di Omah Regol Kuning, Jalan Bantul Km 6, Nyemengan, Kasongan, Bantul, DIY, Sabtu (28/6/2025).

“Sebenarnya acara ini adalah sepontanitas saja untuk mengisi liburan sekolah, barangkali ada teman-teman yang akan berlibur atau pulang mudik ke Jogja sehingga bisa saling bertemu untuk bersilaturahmi. Jadi hanya sekadar kumpul-kumpul bukan perhelatan reuni resmi,” terang Ketua Suku (Ketua Kelas) Cakep IV’75 Berbudi Hartono, saat memberikan sekapur sirih.

Sebagian anggota Cakep IV’75 peserta pertemuan foto bersama di sudut ikonik venue Omah Regol Kuning. (Foto: Istimewa)

Menurut Berbudi, bahwa pertemuan serupa juga pernah digelar lebih kurang setahun lalu di sebuah resto di Jalan Brigjend Katamso, Yogyakarta. Setahun ada 12 bulan dan 360 hari tentu ada kisah dan pengalaman baru yang dapat diceritakan atau sebagai pengetahuan bagi teman-teman lain.

“Meskipun kita juga mempunyai WA Grup (Whatsapp Group). Namun seandainya bisa bertemu langsung kan rasanya akan beda. Kita bisa saling bersyukur bersama-sama dalam usia yang sudah tidak muda lagi masih bisa guyonan, omon-omon (ngobrol) dan nying nyong (nyanyi),” ujarnya.

Selain bernyanyi bersama dan unjuk kebolehan nyanyi, dengan iringan musik organ tunggal oleh Widodo dari Pleret. Acara juga diisi ngobrol kisah-kisah lama saat sekolah di SD Keputran IV Yogyakarta serta sharing tentang perkembangan media sosial maupun media online yang ada di Jogja.

Juga perkembangan kemajuan teknologi digital AI/ Artificial Intellgence (Kecerdasan Buatan), yang diibaratkan seperti pisau, di sisi positifnya bisa untuk memotong sayur-sayur kala memasang tetapi sebaliknya juga dapat untuk “membunuh”, sehingga perlu bijak dalam menyikapinya maupun dalam ber-media sosial. (ted)