bernasnews – Malam 1 Suro 2025 di Yogyakarta akan kembali diisi dengan tradisi sakral Mubeng Beteng. Ketahui jadwal lengkap, rute prosesi, dan tata cara berpartisipasi dalam ritual tahunan ini.
Tradisi Sakral di Jantung Yogyakarta
Malam 1 Suro atau Tahun Baru Jawa selalu menjadi momen sakral yang ditunggu oleh masyarakat Yogyakarta.
Salah satu tradisi yang paling khas dan penuh makna spiritual pada malam ini adalah Mubeng Beteng, yakni prosesi mengelilingi benteng Keraton secara hening dan tanpa alas kaki. Pada tahun ini, malam 1 Suro 1959 Dal dalam kalender Jawa bertepatan dengan Kamis Wage, 26 Juni 2025, dan puncaknya jatuh pada Jumat Kliwon, 27 Juni 2025.
Apa Itu Mubeng Beteng?
Secara harfiah, Mubeng Beteng berarti “mengelilingi benteng”. Namun lebih dari sekadar jalan kaki, ini adalah ritual spiritual yang telah dilakukan sejak zaman Mataram Kuno.
Dalam kepercayaan Jawa, prosesi ini merupakan bagian dari lampah ratri atau perjalanan malam yang penuh laku prihatin dan perenungan.
Pelaksanaannya dilakukan dengan tapa bisu, yakni berjalan tanpa berbicara, serta tanpa alas kaki, sebagai bentuk kesederhanaan dan ketundukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi ini bertujuan untuk menyucikan diri dan lingkungan, sekaligus mengusir bencana dan keburukan yang mungkin mengintai di tahun yang baru.
Jadwal Mubeng Beteng 2025
Mengutip pengumuman resmi dari akun Instagram @kratonjogja, prosesi Mubeng Beteng tahun 2025 akan berlangsung pada:
- Tanggal: Kamis, 26 Juni 2025
- Waktu: Dimulai pukul 23.00 WIB hingga selesai
- Lokasi Awal: Bangsal Pancaniti, Kompleks Kamandungan Lor (Keben), Keraton Yogyakarta
Prosesi diawali dengan pembacaan kidung Macapat selepas salat Isya, dilanjutkan dengan iring-iringan berjalan kaki mengelilingi beteng keraton.
Rute Lengkap Mubeng Beteng
Peserta akan mengikuti rute yang telah ditetapkan, yaitu:
- Start dari Bangsal Pancaniti – Keraton Yogyakarta
- Menuju Jalan Rotowijayan
- Berlanjut ke kawasan Kauman dan Jalan Agus Salim
- Melewati Jalan Wahid Hasyim hingga ke pojok Beteng Barat
- Lalu melalui Jalan MT Haryono dan pojok Beteng Timur
- Diteruskan ke Jalan Brigjen Katamso
- Melewati Jalan Ibu Ruswo
- Dan finish di Alun-alun Utara Yogyakarta
Uniknya, jalur yang diambil berlawanan arah jarum jam sebagai simbol “lampah prihatin” atau langkah keprihatinan untuk refleksi spiritual. Berbeda dengan prosesi kegembiraan yang biasanya dilakukan searah jarum jam.
Bagaimana Cara Ikut Prosesi Mubeng Beteng?
Masyarakat umum dipersilakan untuk ikut serta, namun ada beberapa etika dan aturan yang wajib dipatuhi demi menjaga kekhidmatan acara:
- Berbusana rapi dan sopan (tidak diperkenankan mengenakan celana pendek)
- Tidak berbicara selama prosesi (menjaga tapa bisu)
- Tidak menggunakan alas kaki sebagai simbol ketulusan niat
- Menjaga ketertiban dan kekhusyukan di sepanjang perjalanan
- Hadir tepat waktu sebelum prosesi dimulai pukul 23.00 WIB
Keraton juga mengimbau peserta untuk menjaga kenyamanan bersama, serta tidak mengganggu suasana sakral selama acara berlangsung.
Siapa Saja yang Terlibat dalam Kirab Ini?
Barisan depan dalam kirab Mubeng Beteng dipimpin oleh abdi dalem Keraton yang mengenakan pakaian adat berwarna biru tua, tanpa membawa senjata (keris), dan bertelanjang kaki.
Mereka membawa bendera merah putih dan sejumlah panji tradisional seperti:
- Panji Bangun Tolak (Yogyakarta)
- Panji Pare Adnom (Kulon Progo)
- Panji Podang Ngisep Sari (Gunungkidul)
- Panji Pandan Binetot (Bantul)
- Panci Mega Ngampak (Sleman)
- Panci Gula Klapa (Keraton Yogyakarta)
Di belakang mereka, ratusan peserta dari masyarakat umum ikut berjalan dalam diam. Panjang rombongan bisa mencapai hingga 500 meter, yang terdiri dari berbagai usia, mulai dari orang tua, remaja, hingga wisatawan yang ingin ikut merasakan kekhusyukan malam 1 Suro.
Langkah ini diambil agar seluruh masyarakat, baik di dalam maupun luar Yogyakarta, tetap bisa mengikuti prosesi spiritual yang penuh makna ini dari mana saja.
Mubeng Beteng bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi warisan spiritual yang mengajarkan kita arti kesunyian, refleksi, dan penyucian diri. Di tengah hiruk pikuk dunia modern, tradisi ini menjadi pengingat bahwa perenungan dan ketenangan tetap dibutuhkan dalam perjalanan hidup.
Jika Anda ingin mengawali tahun baru Jawa dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, bergabunglah dalam prosesi Mubeng Beteng malam ini. Bila tidak memungkinkan, rasakan atmosfer spiritualnya melalui layar digital.***











