bernasnews — Kelompok Srikandi Gebyar Nusantara (SGN) bersama Foreder Yogyakarta, Sanggar Sekar Kinanti, Portal Media Info IKM dan UMKM serta Lembaga Pemerhati Industri Kecil Menengah akan menyelenggarakan kirab hasil bumi “Jagung Sebakul”.
Mewakili Panitia P Dono mengemukakan, bahwa kegiatan kirab akan dilaksanakan dengan hari krida dan berbarengan kegiatan Sambat Kampung, hari Jumat pagi, 4 Juli 2025, Pukul 09:00 WIB. Kirab rencana akan dilepas di Pura Wisata, Keparakan, Kemantren Mergangsan, Yogyakarta.
“Kegiatan kirab ini bertujuan untuk mempromosikan kegiatan Industri Kecil Menenengah (IKM). Juga mengenalkan kembali pasar-pasar tradisional sebagai tempat belanja berbagai hasil bumi warga Jagung Sebakul (Jogja, Gunungkidul, Sleman, Bantul, Kulon Progo),” jelas Dono, Rabu (25/6/2025).
Menurut Dono, kirab atau pawai yang biasa diselenggarakan masyarakat pada umumnya adalah kirab seni budaya. Namun kirab yang akan digelar bertema keistimewaan mata dagangan dan produk unggulan Jogja, yang terdiri dari unduhan hasil kebun dan sawah, ternak serta hasil industri kecil.
“Barang dagangan tersebut nantinya akan dibawa dengan bakul atau digendong sendiri oleh para pedagang dan pelaku industri serta wisata,” ujarnya.
Peserta kirab dalam busana daerah tempo dulu berpawai dengan membawa tenggok, tumbu dan kronjot, berisi dagangan dan hasil IKM. “Dalam pawai mengikuti iringan gending serta mengikuti sumbu filosofi garis imajiner Gunung Merapi dan Laut Kidul,” imbuh Dono.
Rute kirab usai dilepas dari halaman parkir Purawisata, menyusuri Jalan Ireda ke selatan menuju halaman Museum Perjuangan, Jalan Kolonel Sugiono, Yogyakarta. Kemudian produk dan hasil bumi yang dibawa peserta pawai akan dibagikan pada penonton serta masyarakat.
Dibalik dari kegiatan kirab “Jagung Sebakul” ini, panita dan peserta kirab mempunyai harapan agar warga masyarakat membatasi pembelian kuliner bermerek manca dan produk impor. Memanfaatkan perangkat digital untuk kegiatan distribusi dan penjualan.
“Juga dapat menciptakan produk-produk kreatif yang dimaui pasar dengan memasukkan estetika budaya lokal,” pungkas Dono. (ted)












