News  

Pemkot Yogya Wujudkan Budaya Pelayanan Publik: Adaptif, Kolaboratif, Berorientasi pada Pelayanan Publik yang Berempati

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat memaparkan branding Kota Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Kualitas sumber daya manusia (SDM) salah satunya yang paling penting harus bersih, tidak punya keinginan korupsi dan tidak punya kepentingan. Oleh karena itu dimulai dari nilai-nilai dasar ASN Berakhlak dengan yakni Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.

Demikian dikemukakan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, saat menjadi narasumber Workshop Penguatan Budaya Pemerintahan, bertempat di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (18/6/2025).

“Dimulai dari Berakhlak, salah satunya A-nya adalah akuntabilitas. Sebetulnya kuncinya pantaskanlah dirimu dan lihatlah hasilnya terhadap job yang diberikan,” kata Hasto, dilansir dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta ini guna penguatan budaya pemerintahan untuk mewujudkan human-centered development atau yang berorientasi pada manusia.

Juga untuk menyelaraskan perangkat daerah dan menguatkan ASN Pemkot Yogyakarta dalam mengimplementasikan budaya pemerintahan adaptif, kolaboratif, berorientasi pada pelayanan publik yang berkeadilan dan berempati.

Menurut Wali Kota Yogyakarta, perlu kekuatan dukungan publik dan membangun empati dalam pelayanan kepada masyarakat. Harus banyak bekerja dengan hati, dan jiwa yang ikhlas. Termasuk harus bisa partisipatif, berorientasi pada meningkatkan kesejahteraan dan berkeadilan yang menjadi komponen human-centered development.

“Saya sudah sampaikan berkali-kali bahwa di Kota Yogyakarta kuncinya memang SDM menjadi perhatian utama. Karena kita punya modalnya hanya SDM,” tegas orang nomor satu di Pemkot Yogyakarta.

Pihaknya juga mengemukakan, bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Yogyakarta sudah juara. IPM Kota Yogyakarta tahun 2024 di angka 89,10. Meski demikian Hasto mengingatkan supaya yang naik tidak hanya IPM atau human development indeks.

“Tapi juga harus berorientasi pada human capital indeks di mana Indonesia di angka 0,54 berada di urutan ke-96 dari 100,” harap dia.

Hasto menegaskan, Inilah yang harus diperjuangkan sebab human capital indeks menentukan seberapa daya ungkit seseorang apabila bekerja dalam satu institusi. Tugas kepada masyarakat yang harus dilayani menyangkut kualitas SDM warga .”Komponennya seperti probability of survival sampai usia 5 tahun, partisipasi sekolah, dan survival rate usia 15-60 serta kontribusi besar stunting,” ungkapnya.

Hasto memaparkan branding Kota Yogyakarta pada tiga pilar yaitu Kota nyaman lingkungan sehat, kota pelajar pendidikan SDM sehat unggul dan kota budaya pariwisata. Hal itu mengacu pada branding Kota Yogyakarta yang sudah kuat selama ini yaitu kota budaya, pariwisata dan pelajar, pendidikan.

“Itu sudah cukup tinggal ditambah satu pilar yaitu kota yang nyaman lingkungan yang sehat. Lingkungan yang nyaman akan mendukung kota pariwisata dan budaya. SDM sehat dan unggul seperti sarana pelayaan kesehatan yang memadai, kualitas sekolah memadai, penurunan angka stunting signifikan, penurunan angka kematian ibu bayi dan balita penurunan pengangguran,” terang Hasto.

Dikatakan, branding Kota Yogyakarta pada tiga pilar yaitu sebagai kota nyaman lingkungan sehat, kota pelajar pendidikan SDM sehat unggul dan kota budaya pariwisata. Hal ini mengacu pada branding Kota Yogyakarta yang sudah kuat selama ini yaitu kota budaya, pariwisata dan pelajar, pendidikan.

“Tinggal ditambah satu pilar yaitu kota yang nyaman lingkungan yang sehat. Lingkungan yang nyaman akan mendukung kota pariwisata dan budaya. SDM sehat dan unggul seperti sarana pelayaan kesehatan yang memadai, kualitas sekolah memadai, penurunan angka stunting signifikan, penurunan angka kematian ibu bayi dan balita. Juga penurunan pengangguran,” ujar Hasto Wardoyo. (ted)