bernasnews — KADIN DIY bersama Diskop dan UKM DIY menyelenggarakan diskusi informal terbatas dengan topik “Ekosistem Industri Keju (Cheese)”, bertempat di Poenokawan Café, Jalan KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta, pada hari Kamis, 5 Juni 2025.
Narasumber sebagai pematik diskusi adalah Jamie Najmi Misnah, Owner Mazaraat Cheese/PT. Mazaraat Lokanatura Indonesia. Peserta aktif diskusi antara lain Robby Kusumaharta, Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Kemahasiswaan KADIN DIY; Srie Nurkyatsiwi, Kepala Diskop dan UKM, dan Tazbir Abdullah,Penasehat KADIN DIY.
Hadir juga dalam diskusi informal tersebut fungsionaris KADIN DIY yaitu Rahadi Abra, Eddy Purjanto, Agus Imon dan Y. Sri Susilo. Sedangkan dari Diskop dan UKM DIY hadir Agus Mulyono dan Wisnu Hermawan.
Jamie Najmi Misnah mengawali diskusi tersebut mengemukakan, bahwa keju tak hanya lezat secara citarasa, tetapi juga kaya nutrisi termasuk protein, kalsium, dan vitamin B12. Menurut Jamie, seperti produk fermentasi pada umumnya, keju kaya akan probiotik yang berguna bagi kesehatan sistem pencernaan manusia.
Seperti diketahui, selain konsumsi keju, yogurt, dan sauerkraut sebagai contoh hasil fermentasi susu juga dinyatakan dapat membantu menjaga berat badan, serta punya potensi mengurangi resiko diabetes, kanker selain dari penyakit kardiovaskular.
“Usaha Mazaraat Cheese saya rintis bersama istri sejak tahun 2011,” kata Jamie, dalam keterangan rilis yang dikirim, Sabtu (7/6/2025)
Lebih lanjut Jamie menjelaskan awalnya produksi dilakukan Rotowijayan, Kelurahan Kadipaten, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta. Sejalan dengan peningkatan kapasitas produksi dan agar lebih dekat dengan peternak sapi perah maka lokasi produksi pindah di Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman.
“Pasar produk kami adalah hotel dan restoran bintang lima yang berlokasi di Bali, Jakarta, Surabaya dan kota besar lainnya,” ungkap dia. Menurut Jamie, produk keju murni merupakan produk yang relatif tidak awet sehingga tidak dapat diperdagangkan antar benua. Berkaitan dengan hal tersebut produk Mazaraat Cheese sudah dirintis untuk pasar di Singapura serta negara ASEAN lainnya.
“Perusahaan kami tidak hanya mengambil susu dari peternak sapi perah namun juga ikut terlibat dalam pendampingan,”jelas Jamie. Dengan demikian terjadi “simbiosis mutualisme” yang benar-benar nyata. Selanjutnya juga dibentuk koperasi multi pihak “Mazaraat Dairy Ecosystem”.
Kata Jamie, “Mazaraat Dairy Ecosystem” adalah sebuah konsep koperasi multi-stakeholder yang bertujuan untuk membangun rantai ekosistem produk susu yang berkelanjutan dan transparan, dengan fokus pada produksi keju artisan organik.
“Ini melibatkan petani lokal yang memelihara hewan ternak secara organik, pengrajin keju yang membuat produk dengan tangan, dan konsumen yang mendukung produk lokal dan berkelanjutan,” bebernya.
Hasil dari diskusi informal terbatas tersebut, diperoleh catatan sebagai berikut. Pertama, produk Mazaraat Cheese sudah memenuhi kualitas global dan layak untuk “go internasional”. Kedua, Usaha keju harus didukung oleh ekosistem yang melibatkan multi pihak antara lain,produsen keju, peternak susu sapi perah, produsen pakan hijauan dan non-hijauan, pemasok bibit sapi dan pihak terkait lainnya.
Jika ekosistem sudah terbentuk maka pembentukan koperasi multi pihak menjadi sangat relevan. Ketiga, DIY mempunyai potensi untuk dikembangkan peternakan susu sapi perah. Kendala saat ini ketersediaan lahan yang memenuhi skala ekonomi untuk budidaya tanaman pakan sapi perah.
“Diskusi informal terbatas semacam ini penting untuk memperoleh informasi dunia usaha sekaligus mencoba mencari solusi atas masalah yang timbul,”ungkap Robby Kusumaharta.
“Selanjutnya diskusi sejenis akan dilakukan secara rutin dengan melibatkan pemangku kepentingan seperti Pemda DIY, BI DIY, OJK DIY, Perguruan Tinggi, Asosiasi Pengusaha dan Perbankan,” pungkas pengusaha senior itu. (*/ ted)












