News  

Dinas Pariwisata Sleman Siap Menyambut Liburan Sekolah Tahun 2025

Kepala Dinas Pariwisata kabupaten Sleman Ishadi Zayid, S.H saat menyampaikan paparannya. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

bernasnews — Data sementara  sampai tanggal 31 Mei 2025, jumlah kunjungan destinasi wisata di Kabupaten Sleman sebesar 3.510.750 kunjungan, ada 97,82% atau setara dengan 3.434.215 kunjungan yang didominasi wisatawan Nusantara.

Dibandingkan tahun 2024 ada kenaikan sebesar 8,92%  atau 3.223.229 kunjungan dan terbanyak dari pulau Jawa dan destinasi wisata yang masih menjadi favorit ada 3 yaitu Kaliurang, Candi Prambanan dan Ibarbo Park.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata kabupaten Sleman Ishadi Zayid, S.H kepada media saat Jumpa Pers, bertempat di Pendopo Parasamya, Rabu (4/6/2025).

“Dari sektor wisata sampai dengan 27 Mei 2025 sementara ini total PAD-nya  sebesar Rp. 157.527,- Milyar dibandingkan dengan target PAD sektor wisata yang ditetapkan di tahun 2025. Capaian ini setara dengan 43,16%,” ungkap Ishadi.

“Sedangkan untuk menghadapi libur sekolah tahun 2025 ini, dari tanggal 23 Juni – 11 Juli 2025 Dinpar akan melakukan pencacatan kunjungan  wisata ke destinasi wisata Kabupaten Sleman, mulai 21 Juni – 13 Juli 2025,” lanjutnya.

Menurut Ishadi, untuk prediksi kunjungan wisatawan, lenght of stay, ocupansi hotel, capaian restribusi pariwisata  yang dikelola Pemkab Sleman dan belanja wisatawan selama periode liburan sekolah jumlah kunjungan antara 300.000 – 450.000 kunjungan.

“Terkait dengan masa libur sekolah yang akan datang, kami (Dinas Pariwisata Sleman) akan mengeluarkan Surat Edaran tentang Penyelenggaraan  Kegiatan  Wisata yang Aman, Nyaman dan Menyenangkan pada saat libur sekolah,” ucap Ishadi.

Surat Edaran tersebut diantaranya beisi tentang , memastikan pelaksanaan SOP, standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di destinasi wisata dan usaha wisata secara ketat. Melakukan perawatan terhadap fasilitas/ wahana usaha secara berkala terutama yang beresiko, termasuk menjamin keselamatan bagi wisata dan karyawan.

Selanjutnya pengelola wisata juga agar dapat beker jasama dengan UMKM setempat terkait dengan kebutuhan wisatawan guna meningkatkan perekonomian lokal, serta memastikan Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability (CHSE) di destinasi wisata, desa wisata, usaha jasa pariwisata  dan lain-lainnya.

Juga termasuk waspada tentang perubahan cuaca, koordinasi dan kerja sama dengan BPBD, menjamin keselamatan bagi wisatawan dan karyawan, tidak menaikkan harga produk/ layanan melebihi batas kewajaran, mengelola sampah dan limbah akibat aktivitas di destinasi wisata. “Kami juga akan melakukan monitoring dan evaluasi  terhadap usaha jasa pariwisata,” tutup Ishadi. (nun)