News  

Ruang Publik untuk Lansia Perlu atau Tidak Perlu? Bangsa Kita Mudah Bergaul

Para narasumber, penulis dan undangan dalam acara diskusi buku “(Lansia) Indonesia Tanpa Ruang Publik” di DPRD DIY, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu 24/5/2025. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Bangsa Indonesia yang dikenal ramah dan murah senyum pasti mudah bergaul, sehingga wilayahnya akan selalu regeng, karena manusianya hidup rukun dan guyub, bergotong royong, ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul.

“Nah bila hal demikian yang terjadi, bukankah Ruang Publik tidak diperlukan lagi? Namun sayang keguyuban bangsa ini semakin terkikis egoisme, atmosfer individualisme berkembang di Negara Pancasila yang liberal, sila yang mana? 

Bukan tidak mungkin komputer, internet dan Hp telah merusak harkat kemanusiaan kita. Padahal, bangsa ini mempunyai PR belajar disiplin, jujur, serta lurus, hidup sederhana dengan meminimalisir nafsu serakahnya. Ini agar kita punya Ruang Publik yang ideal,” kata Sutradara Teater Genthong HSA dalam bincang buku kumpulan esai “(Lansia) Indonesia Tanpa Ruang Publik” di ruang paripurna 2 lantai 2 Gedung DPRD DIY Jalan Malioboro No 54 Yogyakarta, Sabtu (24/5/2025).

Selain Genthong yang juga penulis naskah/penyair, tampil sebagai narasumber diskusi Anggota DPRD DIY/Fraksi PDI Fajar Gegana, S.T. dan Guru Besar FKG UGM Prof. Dr. Ahmad Syaify, Sp Perio, Subsp RPID (K) FISID, dengan moderator Pengajar Prodi HI FISIP UKI Jakarta V.L. Sinta Herindrasti, M.A. Memberikan sambutan Ketua Fraksi PDI DPRD DIY Yuni Satia Rahayu dan Ketua Sastra Bulan Purnama (SBP) Ons Untoro. Pada kesempatan ini juga diadakan pembacaan puisi oleh Sulis Bambang dan Nia Samsihono, serta musik oleh Joshua Igho. Pembawa acara diskusi adalah Maria Kadarsih.

Buku kumpuan esai dari 25 orang penulis ini adalah karya kedua dari Tonggak Pustaka dan SBP, setelah tahun 2024  lalu menerbitkan buku “Kita Lansia : Terus Berkarya, Bahagia, Penuh Berkah”. Memberikan pengantar pada buku kali ini, Direktur PT Luas Birus Utama Dr. Drs. Harris Susanto, M.Hum, serta editor buku Indro Suprobo dan Ons Untoro. 

Indro dan Ons berharap, manusia lansia semakin sanggup memenangkan konstruksi makna di tengah tatanan simbolis masyarakat sehingga meraih martabat dan hormat. Produksi kebijakan tentang ruang publik dan implementasi layanan ruang publik yang aksesibel dan ramah bagi manusia lansia merupakan salah satu wujudnya. 

Hadir pada acara diskusi ini, sebagian penulis dari berbagai kota, staf dewan, pengurus Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS), SBP, dan undangan. (mar)