Program Magister Hukum UWM Terakreditasi Baik Sekali, Begini Perannya Lingkungan Akademik Jogja

Poster ucapan selamat dan sukses atas Magister Hukum UWM. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Dengan penuh rasa syukur, Dr. Hartanto, SE., SH., M.Hum sebagai UPPS (Unit Pengelola Program Studi) mengucapkan selamat dan apresiasi tinggi kepada segenap sivitas akademika Program Studi Magister (S2) Hukum Universitas Widya Mataram atas pencapaian akreditasi “Baik Sekali” yang telah ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Dr. Aida Dewi, SH., M.H selaku Kaprodi menyatakan pencapaian merupakan hasil visitasi BAN-PT  dengan  asesor, yaitu Prof. Dr. Ade Saptomo dan Dr. FX. Sumarja. Ini merupakan hasil serta Kerjasama dan dedikasi kolektif seluruh dosen, tim penyusun instrumen akreditasi, mahasiswa, alumni, tenaga kependidikan, dan jajaran pimpinan fakultas maupun universitas.

“Akreditasi “Baik Sekali” ini tidak sekadar menjadi simbol prestasi administratif, tetapi menjadi representasi konkret komitmen institusi terhadap keunggulan akademik, tata kelola yang bermutu, serta kualitas layanan Tridharma perguruan tinggi yang bermoral, beretika, dan bermartabat. Keberhasilan ini mencerminkan arah strategis program studi dalam meneguhkan eksistensi pendidikan tinggi pascasarjana,” kata Aida Dewi, dalam rilis yang dikirim, Jumat (16/5/2025).

Menurut Aida Dewi, pencapaian ini bukan sebatas formalitas namun menunjukkan keberhasilan implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan External Quality melalui akreditasi BAN-PT. Di era modern saat ini, proses penjaminan mutu menjadi syarat mutlak dalam menjamin efisiensi, efektivitas, dan relevansi program studi dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Pedoman Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) menekankan pentingnya integrasi mutu dalam seluruh siklus manajemen pendidikan tinggi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, hingga pengembangan berkelanjutan.

”Mutu pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang mengelola. Ketersediaan dosen berkualitas, khususnya yang bergelar doktor, menjadi tantangan tersendiri. Berdasarkan data PDDikti tahun 2023, dari total dosen di Indonesia terdapat sekitar 15-17% yang bergelar doktor. Tantangan ini sangat relevan bagi perguruan tinggi swasta, termasuk Universitas Widya Mataram (UWM), yang terus berkomitmen dalam meningkatkan kapasitas dan kualifikasi dosennya demi menjaga mutu lulusan yang adaptif, solutif, dan siap menghadapi dinamika global. Saat ini kami memiliki 11 dosen bergelar Doktor Hukum. Dan yang sedang menempuh pendidikan Doktor 2 (dua) orang, salah satunya akan selesai akhir tahun ini,” beber Aida Dewi.

Pendidikan yang bermutu hanya dapat berlangsung jika didukung oleh lingkungan akademik yang kondusif. Dalam hal ini, Yogyakarta sebagai kota pelajar memberikan keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh banyak wilayah lain di Indonesia. Dengan jumlah perguruan tinggi mencapai 128 institusi (Data BAPPEDA DIY, 2023) dan lebih dari 640.000 mahasiswa, termasuk sekitar 350.000 mahasiswa dari luar daerah, Yogyakarta telah menjadi pusat pertumbuhan intelektual, budaya, dan sosial nasional.

”Kota ini menawarkan biaya hidup yang relatif terjangkau, fasilitas pendidikan yang lengkap, serta atmosfer multikultural yang mendukung tumbuhnya interaksi akademik dan sosial yang sehat. Lingkungan seperti ini memungkinkan mahasiswa untuk berkembang secara akademis sekaligus secara karakter (local wisdom) dan kepemimpinan,” ujar dia.

Salah satu sudut Kampus Terpadu Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta. (Foto: Kiriman T Surya Adi)

Universitas Widya Mataram (UWM) saat ini dipimpin Rektor Prof. Dr. Edy Sunadi Hamid, SE., M.Ec, WR I Dr. Bhenu Artha, SE, MM., WR II Retno Kusuma Wiranti S.Sos, MPA., WR III Dr. Rony Sulistyanto L, SH., M.H. Sebagai institusi yang berakar pada nilai-nilai budaya Yogyakarta, dengan mengingat amanat pendiri yaitu Sri Sultan HB IX dan dilanjutkan oleh Sri Sultan HB X, bahwa kehadiran pendidikan tinggi tidak hanya untuk memperpanjang deretan panjang perguruan tinggi, tetapi juga sebagai solusi pendidikan bagi seluruh kalangan.

”Komitmen ini tercermin dari penyediaan maupun pelayanan terhadap program beasiswa seperti KIP Kuliah maupun Beasiswa ADIK. Dengan biaya studi yang terjangkau dan kompetitif, Universitas Widya Mataram turut menjamin aksesibilitas pendidikan tinggi bagi masyarakat secara luas,” tegas Aida Dewi.

Akreditasi “Baik Sekali” ini hendaknya tidak menjadi zona nyaman, melainkan menjadi ruang kontemplatif dan pijakan strategis untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan akreditasi. The Guardian of Intellectual in Culture tidak hanya slogan semata, tetapi menjadi dasar dalam mengembangkan sistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, namun juga responsif terhadap kebutuhan sosial dan kebudayaan.

”Harapan kami, pencapaian ini menjadi pemicu sinergi yang lebih luas baik secara lokal maupun internasional, memperkuat kolaborasi kelembagaan, dan memberikan dampak transformasional dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia. Pendidikan menumbuhkan rasa percaya diri, rasa percaya diri menumbuhkan harapan, dan harapan menumbuhkan the art of orientation untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Maka, mari kita terus menapaki jalan perubahan dan inovasi demi keberlanjutan mutu dan reputasi pendidikan tinggi Indonesia,” pungkasnya. (*/ ted)