bernasnews – Tanggal 6 Mei menjadi momen yang istimewa di kalender internasional karena memperingati tiga peringatan penting yang menyentuh aspek kesehatan fisik dan mental.
Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, diajak untuk merefleksikan kembali pentingnya hidup sehat dalam arti yang sesungguhnya—baik itu terkait penerimaan diri, pernapasan, maupun kesehatan mental anak.
Tiga momen tersebut adalah Hari Tanpa Diet Internasional, Hari Asma Sedunia, dan Hari Peduli Depresi Anak Internasional.
Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai makna dan urgensi dari ketiga peringatan tersebut:
1. Hari Tanpa Diet Internasional: Merayakan Penerimaan Diri dan Tubuh
Tujuan dari peringatan ini adalah menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya penerimaan tubuh sendiri, serta bahaya diet ekstrem.
Hari Tanpa Diet Internasional atau International No Diet Day (INDD) diperingati setiap tanggal 6 Mei sebagai bentuk kampanye global untuk menentang standar kecantikan yang tidak realistis dan praktik diet ekstrem.
Peringatan ini pertama kali dicanangkan pada tahun 1992 oleh Mary Evans Young, seorang aktivis asal Inggris yang merupakan penyintas gangguan makan.
Tanggal 6 Mei dipilih secara sengaja agar tidak bertabrakan dengan perayaan Cinco de Mayo. Seiring waktu, Hari Tanpa Diet menjadi simbol penting bagi gerakan penerimaan tubuh (body positivity) dan kesehatan di segala ukuran tubuh (Health at Every Size).
Pesan Utama Hari Tanpa Diet:
- Menghargai keberagaman bentuk tubuh.
- Menolak budaya diet yang merugikan.
- Menyadarkan masyarakat bahwa kesehatan tidak semata ditentukan oleh angka timbangan.
- Mengedukasi tentang bahaya gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia.
Di Indonesia, kampanye serupa mulai banyak digaungkan oleh komunitas kesehatan dan psikologi.
Generasi muda kini lebih terbuka terhadap konsep self-love dan mulai menghindari diet instan yang bisa berdampak buruk bagi metabolisme tubuh.
2. Hari Peduli Depresi Anak Internasional: Suara untuk Generasi yang Sering Terabaikan
Tujuan peringatan ini adalah meningkatkan kesadaran dan dukungan terhadap kesehatan mental anak.
Tak banyak yang menyadari bahwa depresi juga bisa menyerang anak-anak. Hari Peduli Depresi Anak Internasional diperingati untuk mengingatkan dunia bahwa anak-anak pun bisa mengalami gangguan kesehatan mental yang serius.
Depresi anak bukanlah bentuk “kenakalan” atau “drama berlebihan”, melainkan kondisi medis yang perlu perhatian dan penanganan serius.
Menurut data WHO, depresi menjadi salah satu penyebab utama ketidakmampuan pada anak dan remaja di seluruh dunia. Bahkan, kasus bunuh diri pada kelompok usia 10–24 tahun meningkat drastis sejak awal 2000-an.
Sejarah Peringatan:
Pada tahun 1997, beberapa keluarga di Amerika Serikat yang anaknya mengalami depresi membentuk Federasi Keluarga Nasional untuk Kesehatan Mental Anak (National Federation of Families for Children’s Mental Health).
Mereka mencetuskan Hari Kesadaran Depresi Anak yang kemudian didukung dengan kampanye Green Ribbon Campaign pada tahun 2015.
Tindakan Nyata:
- Mengedukasi orang tua, guru, dan pengasuh untuk mengenali gejala depresi pada anak.
- Mendorong dialog terbuka tanpa stigma tentang kesehatan mental.
- Menyediakan ruang aman dan layanan psikologi yang terjangkau.
Di Indonesia, meski stigma terhadap gangguan jiwa masih cukup kuat, kesadaran akan kesehatan mental anak mulai tumbuh.
Layanan konseling di sekolah serta media sosial menjadi sarana penting dalam menyampaikan pesan bahwa anak-anak butuh didengarkan, dirawat, dan dilindungi.
3. Hari Asma Sedunia: Melawan Penyakit Pernapasan Kronis yang Tak Pandang Usia
Tujuan: Meningkatkan kesadaran dan pengelolaan asma di seluruh dunia.
Hari Asma Sedunia atau World Asthma Day pertama kali diperingati pada tahun 1998 dan diorganisir oleh GINA sebagai upaya global untuk menanggulangi salah satu penyakit pernapasan paling umum di dunia.
Menurut WHO, sekitar 262 juta orang di dunia hidup dengan asma, dan lebih dari 460.000 meninggal dunia akibat penyakit ini pada tahun 2019.
Penyebab kematian asma sebagian besar karena kurangnya penanganan tepat atau akses terhadap layanan kesehatan.
Fakta Penting tentang Asma:
- Asma bukan penyakit menular, namun bersifat kronis.
- Gejala umum meliputi sesak napas, batuk, dan dada terasa tertekan.
- Faktor pemicu bisa berupa alergi, udara dingin, aktivitas fisik berlebihan, hingga polusi.
Di Indonesia, penderita asma perlu mendapat perhatian khusus mengingat kualitas udara yang kerap memburuk, terutama di kota besar.
Peringatan Hari Asma Sedunia menjadi momen tepat untuk menggalakkan pemeriksaan rutin, penggunaan inhaler yang benar, serta kebijakan publik yang mendukung udara bersih.
6 Mei sebagai Momentum Refleksi Global
Tiga peringatan internasional pada tanggal 6 Mei 2025, yakni Hari Tanpa Diet, Hari Asma Sedunia, dan Hari Peduli Depresi Anak menjadi pengingat bahwa kesehatan bukan hanya tentang tubuh, tetapi juga pikiran dan penerimaan terhadap diri sendiri.
Momen ini sangat penting untuk dimanfaatkan sebagai ajakan refleksi dan tindakan nyata. Masyarakat Indonesia diajak untuk:
- Menyebarkan pesan positif tentang penerimaan tubuh.
- Mendukung anak-anak yang sedang berjuang secara mental.
- Memberikan perhatian terhadap pengelolaan asma sebagai penyakit kronis.
Dengan membagikan informasi ini, kamu turut menjadi bagian dari gerakan global untuk membangun dunia yang lebih sehat secara holistik.
***












