News  

Inovasi Hidroponik untuk Kemandirian Pangan

Ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Panti Wicoro. Pedukuhan Tlogo, Kebonagung, Imogiri, Bantul. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Inovasi hidroponik dalam konteks ekonomi kreatif dan desa wisata bukan hanya soal teknologi, tetapi juga permainan kekuasaan, budaya, dan identitas pangan. Jika dikelola dengan pendekatan budaya politik yang inklusif, hidroponik dapat memperkuat kemandirian pangan desa, menciptakan ekonomi kreatif berbasis lokal dan mengubah narasi pangan dari ketergantungan global ke kedaulatan lokal.

“Dengan demikian, hidroponik bisa menjadi alat politik pangan progresif yang memberdayakan desa secara berkelanjutan,” kata Puji Qomariyah, Dosen Sosiologi UWM, yang mengampu Mata Kuliah Budaya Politik Pangan, saat memberikan analisis tentang dampak sosial-budaya dari program budidaya pangan hidroponik, Senin (5/5/2025).

“Pertanian hidroponik tidak sekadar soal teknologi, tetapi juga membentuk budaya politik pangan baru di tingkat komunitas. Masyarakat desa, yang selama ini terjebak dalam ketergantungan pada sistem pertanian konvensional, kini mulai membangun kedaulatan pangannya sendiri melalui inovasi ini.” ungkapnya.

Lebih lanjut, Puji menjelaskan, budaya politik pangan tradisional seringkali terbatas pada pola subsisten dan ketergantungan pada tengkulak. Dengan hidroponik, muncul kesadaran kolektif untuk mengontrol rantai produksi-distribusi secara mandiri. Peran perempuan sebagai aktor utama dalam program budidaya hidroponik menunjukkan bagaimana perempuan desa yang selama ini termarjinalkan dalam pengambilan keputusan pertanian kini menjadi subjek perubahan.

Ia juga menekankan bahwa inovasi ini bisa menjadi pintu masuk untuk membahas isu-isu seperti keadilan akses lahan, keberlanjutan ekologis, dan ketahanan pangan berbasis komunitas. “Ini adalah contoh nyata bagaimana transformasi sistem pangan bisa dimulai dari desa, dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” imbuh Puji.

Masyarakat pedesaan, termasuk di Pedukuhan Tlogo, Kebonagung, Imogiri, Bantul sebagian besar menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Ketergantungan ini membuat mereka rentan terhadap kemiskinan akibat gagal panen, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan. Tidak hanya itu, urbanisasi penduduk produktif ke kota semakin meningkat sebagai upaya mencari kesejahteraan ekonomi.

Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melaksanakan program Diversifikasi Ekonomi Kreatif melalui Inovasi Hidroponik dalam Pengembangan Desa Wisata. Program ini bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat potensi Desa Kebonagung sebagai desa wisata berbasis edukasi pertanian tradisional-modern.

Desa Kebonagung yang berstatus sebagai desa wisata pertanian memiliki peluang besar untuk mengembangkan hidroponik sebagai bagian dari atraksi edukasi. Teknologi pertanian modern ini tidak hanya meningkatkan hasil panen tetapi juga menarik minat wisatawan untuk belajar budidaya tanaman tanpa tanah.

Peserta program Diversifikasi Ekonomi Kreatif melalui Inovasi Hidroponik dalam Pengembangan Desa Wisata, yang dinisiasi oleh Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Ketua Tim Pengabdian Dr. Widodo yang diwakili oleh Dr. Aris Slamet Widodo di lokasi hidroponik menjelaskan, bahwa inovasi hidroponik ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Panti Wicoro.

“Selain itu, hidroponik juga akan menjadi daya tarik wisata edukasi yang memperkaya konsep desa wisata Kebonagung,” ujarnya.

Selanjutnya Dr. Aris Slamet Widodo, anggota tim yang juga Dosen Agribisnis UMY, menambahkan, dengan hidroponik, masyarakat bisa menghasilkan sayuran berkualitas tinggi dengan risiko gagal panen yang lebih rendah. Ini menjadi solusi jangka panjang untuk ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi.

Selain memberikan dampak ekonomi langsung, program ini juga mendukung pengembangan status Desa Kebonagung sebagai desa wisata. Desa Kebonagung yang sudah berstatus desa wisata pertanian kini memiliki daya tarik tambahan berupa pusat edukasi pertanian modern melalui teknologi hidroponik.

“Kami optimis bahwa inovasi hidroponik ini akan menjadi salah satu solusi diversifikasi ekonomi masyarakat pedesaan dan memperkuat ketahanan pangan keluarga,” jelas Dr. Aris.

Sementara itu Menik, sapaan akrab Ketua KWT Pati Wicoro Pedukuhan Tlogo, mengakui manfaat program ini. Menurut Menik, sangat terbantu dengan adanya pelatihan hidroponik ini. Selain bisa menanam sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. “Kami juga bisa menjualnya dan mendapatkan penghasilan tambahan,”ucapnya.

Program yang berlangsung selama tiga bulan (Februari-Mei 2025) ini melibatkan KWT Panti Wicoro, yang mayoritas anggotanya adalah ibu rumah tangga. Pelatihan hidroponik diberikan sebagai upaya pemberdayaan ekonomi kreatif, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada pertanian konvensional.

Keberhasilan program ini diharapkan dapat mendorong Desa Kebonagung menjadi desa wisata berbasis edukasi pertanian tradisional-modern. Dengan menggabungkan kearifan lokal dan inovasi teknologi, desa ini berpotensi menjadi destinasi unggulan yang menarik minat wisatawan dan peneliti pertanian.

Ke depan, Tim UMY berencana melanjutkan pendampingan untuk memastikan keberlanjutan program dan memperluas jangkauan pasar bagi produk hidroponik Pedukuhan Tlogo. Sistem pemasaran daring juga akan dikembangkan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. (*/ nun)