bernasnews – Setelah kepergian Paus Fransiskus pada 21 April, dunia Katolik kini tengah memasuki masa-masa penuh doa dan persiapan. Vatikan mulai mengatur tahapan menuju Conclave, yakni pemilihan resmi untuk menentukan Paus baru.
Momen penting ini diawali dengan pemakaman Paus Fransiskus yang dijadwalkan berlangsung di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma, pada Sabtu, 26 April waktu setempat.
Menurut tradisi Gereja Katolik, Conclave dilaksanakan paling cepat 15 hari dan paling lambat 20 hari setelah wafatnya Paus.
Artinya, proses pemilihan penerus Tahta Suci ini diperkirakan akan digelar antara awal hingga pertengahan Mei 2025.
Kapan Conclave Akan Dimulai?
Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, mengungkapkan bahwa Conclave berpeluang dimulai secepat-cepatnya pada 6 Mei mendatang.
Ia menjelaskan bahwa ketentuan Gereja mewajibkan adanya masa berkabung dan penghormatan setidaknya selama 15 hari, baru kemudian para kardinal dapat memulai proses pemilihan.
“Conclave baru dapat dimulai setelah 15 hari dari wafatnya Paus. Jadi, kemungkinan paling cepat adalah tanggal 6 Mei,” ujar Kardinal Suharyo seusai memimpin Misa Requiem di Gereja Katedral Jakarta pada Kamis, 24 April.
Suharyo, yang saat ini berusia di bawah 80 tahun, memenuhi syarat untuk ikut serta dalam Conclave. Dirinya dijadwalkan terbang ke Vatikan pada 4 Mei.
Jika Conclave benar-benar dimulai pada 6 Mei, waktu yang tersedia baginya untuk berinteraksi dengan para kardinal lainnya di Vatikan menjadi sangat singkat.
Meski begitu, Suharyo menegaskan bahwa keputusan final tentang tanggal pelaksanaan Conclave tetap berada di tangan para kardinal yang telah berkumpul di Vatikan.
Mereka akan menentukan bersama apakah proses pemilihan bisa segera dimulai atau memerlukan waktu tambahan untuk persiapan teknis.
Proses Conclave: Tradisi dan Kerahasiaan
Conclave sendiri merupakan prosesi yang sangat sakral dan dilaksanakan secara tertutup. Seluruh kardinal yang berpartisipasi akan disumpah untuk menjaga kerahasiaan proses pemilihan.
Mereka akan diisolasi dari dunia luar selama Conclave berlangsung, tanpa akses komunikasi apa pun.
Tradisi ini bertujuan menjaga kemurnian niat serta mencegah intervensi dari pihak luar. Suasana hening dan penuh doa mewarnai seluruh tahapan, menciptakan kondisi batin yang mendukung untuk menentukan pemimpin baru Gereja Katolik.
Siapa Saja Calon Kuat Penerus Paus Fransiskus?
Dalam menyambut Conclave, sejumlah nama kardinal mulai ramai diperbincangkan sebagai kandidat kuat penerus Paus Fransiskus. Beberapa di antaranya adalah:
- Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina, sosok yang dikenal dekat dengan umat dan memiliki latar belakang kuat di bidang pelayanan sosial.
- Kardinal Malcolm Ranjith dari Sri Lanka, yang memiliki reputasi kuat dalam hal ketegasan dan reformasi gereja.
- Kardinal Charles Bo dari Myanmar, yang selama ini dikenal aktif dalam memperjuangkan perdamaian dan hak asasi manusia di negaranya.
- Kardinal Robert Sarah dari Guinea, figur konservatif yang dihormati banyak kalangan Katolik tradisional.
- Serta beberapa nama dari negara-negara Eropa yang tidak kalah berpengaruh.
Namun demikian, dalam Conclave, semua kardinal yang berhak memilih juga berpotensi untuk dipilih. Artinya, meski ada nama-nama yang digadang-gadang, tidak menutup kemungkinan muncul sosok Paus baru dari luar prediksi publik.
Perjalanan menuju Conclave adalah babak penting dalam sejarah Gereja Katolik. Pemilihan Paus baru bukan hanya menentukan sosok pemimpin spiritual bagi umat Katolik di seluruh dunia, tetapi juga membawa harapan akan arah baru Gereja dalam menghadapi tantangan zaman.
Dengan semangat doa dan ketulusan, para kardinal akan segera berkumpul di bawah naungan Vatikan untuk memilih pemimpin baru yang akan melanjutkan misi kasih dan damai yang diwariskan oleh Paus Fransiskus.
Kita semua menantikan sosok baru yang akan membawa Gereja Katolik melangkah maju dengan semangat pembaruan dan pengharapan.
***












