Kurikulum Tahun Ajaran Baru 2025/2026 Berubah Lagi, Apa yang Diterapkan?

Ilustrasi Kurikulum Tahun Ajaran 2025/2026 (Pixabay.com(

bernasnews – Apa kurikulum Tahun Ajaran 2025/2026 yang bakal diterapkan? Menjelang Tahun Ajaran Baru 2025/2026, dunia pendidikan Indonesia kembali menghadirkan serangkaian perubahan signifikan.

Di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, sejumlah kebijakan baru siap diterapkan sebagai langkah reformasi kurikulum nasional.

Orang tua, siswa, hingga guru diharapkan memahami dan mempersiapkan diri terhadap perubahan yang akan berdampak langsung pada proses pembelajaran di sekolah.

Tahun ajaran baru yang dimulai pertengahan 2025 ini menjadi titik balik penting dalam sejarah pendidikan nasional, mengingat setiap pergantian menteri kerap membawa pembaruan sistem.

Apa saja perubahan kurikulum yang akan diberlakukan pada tahun ajaran kali ini? Simak lima poin penting berikut!

1. TKA Gantikan Ujian Nasional (UN)

Salah satu perubahan paling mencolok adalah penggantian Ujian Nasional (UN) dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Tes ini bersifat tidak wajib dan bukan penentu kelulusan.

Namun, TKA menjadi alat ukur kompetensi siswa secara lebih adil dan objektif, serta digunakan sebagai pertimbangan dalam proses seleksi pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

TKA untuk siswa SMA kelas 12 akan dilaksanakan pada November 2025. Sementara itu, siswa SMP kelas 9 dan SD kelas 6 akan menyusul mengikutinya mulai tahun 2026, dengan pelaksanaan oleh pemerintah pusat, provinsi, atau daerah.

Selain itu, nilai rapor tak lagi menjadi satu-satunya indikator penilaian, mengingat ditemukannya praktik manipulasi nilai di beberapa sekolah.

2. Penjurusan SMA Dihidupkan Kembali

Setelah sempat dihapus pada masa kepemimpinan sebelumnya, kebijakan penjurusan di SMA kini diaktifkan kembali. Siswa kelas 11 dan 12 akan kembali memilih antara jurusan IPA, IPS, atau Bahasa sesuai minat dan kemampuan mereka.

Keputusan ini muncul sebagai upaya mengarahkan siswa pada jalur akademik yang lebih spesifik dan fokus, sekaligus menjawab kebutuhan dunia kerja dan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.

3. Pengurangan Bobot Materi Pelajaran

Untuk menyeimbangkan beban belajar dengan pendekatan deep learning, Kemendikdasmen juga mengumumkan adanya pengurangan bobot materi pelajaran di semua jenjang, dari SD hingga SMA. Bukan berarti jumlah mata pelajaran berkurang, namun materinya akan disederhanakan agar lebih fokus, bermakna, dan kontekstual.

Deep learning diharapkan dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, pemahaman yang lebih dalam, serta koneksi nyata antara materi pelajaran dan kehidupan sehari-hari.

4. Mata Pelajaran Koding dan AI

Kurikulum 2025/2026 juga menandai dimulainya era digitalisasi pendidikan yang lebih progresif dengan menghadirkan koding dan kecerdasan buatan (AI) sebagai mata pelajaran pilihan. Mata pelajaran ini akan diperkenalkan di jenjang SD, SMP, dan SMA secara bertahap, tergantung pada kesiapan masing-masing sekolah.

Sekolah yang memiliki infrastruktur memadai dan tenaga pengajar kompeten akan menjadi pelopor dalam pengajaran teknologi masa depan ini, guna membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21.

5. Penerapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB)

Sebagai bentuk transparansi dan keadilan dalam proses penerimaan siswa, SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) akan mulai diberlakukan.

Sistem ini menggantikan berbagai mekanisme sebelumnya dan diharapkan meminimalisasi praktik kecurangan serta memperkuat asas meritokrasi dalam dunia pendidikan.

Perubahan kurikulum tahun ajaran baru 2025/2026 menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, berkualitas, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Para siswa, guru, dan wali murid diimbau untuk aktif mengikuti informasi terbaru agar dapat mempersiapkan diri secara maksimal.

***