Rangkaian Lengkap Hari Raya Galungan dan Kuningan 2025 dan Jadwalnya: Makna, Tanggal, dan Tradisi Umat Hindu

Rangkaian Lengkap Hari Raya Galungan dan Kuningan 2025/Canva

bernasnews – Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan momen spiritual yang sangat penting bagi umat Hindu di Bali.

Hari besar ini dirayakan setiap enam bulan sekali dalam kalender Bali sebagai simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan).

Tahun 2025, perayaan Galungan akan dimulai pada 23 April, sementara Hari Kuningan jatuh pada 3 Mei.

Rangkaian upacaranya berlangsung dalam beberapa tahap dengan makna yang mendalam, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Makna Filosofis Galungan dan Kuningan

Secara etimologis, istilah Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “bertarung dan menang.”

Hari Raya Galungan dimaknai sebagai saat di mana umat Hindu memperingati keberhasilan dalam melawan pengaruh buruk dalam diri maupun di sekitar.

Sementara itu, Kuningan adalah hari penutup rangkaian upacara Galungan yang menjadi momen memohon keselamatan, perlindungan, serta bimbingan spiritual sebelum roh para leluhur kembali ke alam niskala.

Tradisi dan Simbol-Simbol Sakral

Dalam perayaan Galungan, umat Hindu melakukan persembahyangan di rumah, di sanggah atau tempat suci keluarga, dan di pura.

Salah satu simbol utama perayaan ini adalah penjor—sebatang bambu melengkung yang dihias dengan janur, kelapa, dan hasil bumi. Penjor menjadi lambang persembahan syukur atas berkah kehidupan.

Sementara dalam Hari Kuningan, umat membuat banten Kuningan yang berisi nasi kuning, lauk-pauk, dan sesajen lainnya.

Tak ketinggalan, tamiang—hiasan berbentuk lingkaran—dipasang sebagai simbol perisai pelindung dari kekuatan jahat Adharma.

Jadwal Rangkaian Acara Galungan dan Kuningan 2025

Perayaan ini tidak hanya berlangsung dalam satu hari, melainkan dimulai jauh sebelum hari puncak Galungan dan Kuningan.

Setiap hari memiliki tujuan khusus yang menggambarkan proses penyucian diri dan penyambutan roh leluhur. Berikut adalah rangkaian lengkapnya:

  • Tumpek Wariga (29 Maret 2025): Juga dikenal sebagai Tumpek Bubuh, hari ini menjadi bentuk penghormatan kepada alam, khususnya pohon dan tumbuhan. Umat memberikan sesajen sebagai ungkapan syukur atas kehidupan yang diberikan oleh alam semesta. Tumpek Wariga menjadi penanda awal dari persiapan menuju Galungan.
  • Sugihan Jawa (17 April 2025): Ritual ini fokus pada penyucian Bhuana Agung atau alam besar. Umat membersihkan rumah dan lingkungan pura, sekaligus mempersembahkan sesaji untuk menyucikan alam sekitar.
  • Sugihan Bali (18 April 2025): Jika Sugihan Jawa menyucikan alam luar, Sugihan Bali berfungsi untuk membersihkan diri secara pribadi (Bhuana Alit). Masyarakat melakukan mandi suci dan memohon air suci (Tirta Gocara) dari pemangku atau sulinggih demi kesucian lahir dan batin.
  • Hari Penyekeban (20 April 2025): Kata “penyekeban” berasal dari “sekeb” yang berarti menyimpan. Hari ini umat mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk sesajen Galungan. Kegiatan ini juga merefleksikan usaha menahan hawa nafsu dan mengendalikan emosi negatif.
  • Hari Penyajaan (21 April 2025): Penyajaan adalah fase pengendalian diri dan pembentukan ketenangan batin menjelang hari suci. Biasanya diisi dengan pembuatan kue-kue tradisional Bali dan persiapan sesajen.
  • Hari Penampahan (22 April 2025): Sehari sebelum Galungan, umat menyembelih babi untuk membuat lawar dan berbagai makanan khas Bali. Penjor pun mulai dipasang, menandai kesiapan umat dalam menyambut kemenangan Dharma.
  • Hari Galungan (23 April 2025 & 19 November 2025): Inilah hari puncak yang dipenuhi dengan doa dan persembahyangan di rumah dan pura. Galungan menjadi simbol kemenangan kebaikan atas kejahatan dan menjadi momen berkumpul bersama keluarga besar.
  • Hari Kuningan (3 Mei 2025 & 29 November 2025): Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu memperingati Kuningan sebagai hari perpisahan dengan para leluhur yang kembali ke alam niskala. Persembahan banten Kuningan dan tamiang dibuat sebagai simbol permohonan perlindungan serta keselamatan.

Makna Mendalam di Balik Rangkaian Perayaan

Seluruh rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat nilai-nilai spiritual.

Setiap tahapan upacara mengajarkan tentang introspeksi diri, penghormatan terhadap alam, keluarga, serta leluhur.

Dengan melaksanakan semua rangkaian ini, umat Hindu diyakini dapat memperkuat kesadaran rohani serta keharmonisan antara alam, manusia, dan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Perayaan Galungan dan Kuningan 2025 tidak hanya menjadi momen penting dalam kalender keagamaan umat Hindu, tetapi juga warisan budaya yang terus hidup dan berkembang.

Melalui tradisi ini, masyarakat Bali menunjukkan kedalaman spiritual, kepedulian lingkungan, dan penghargaan terhadap nilai-nilai leluhur yang terus dijaga secara turun-temurun.***