bernasnews — Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Jogja menggelar acara Syawalan dan Silaturahmi, bertempat di Saudah Resto, Yogyakarta, Rabu (16/4/2025). Acara ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antar pelaku industri fashion, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi tantangan industri yang dinamis.
Acara dipandu oleh MC Iffah M Dewi, yang juga desainer modest wear dan batik. Ia membuka acara dengan penuh semangat dan mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun masa depan industri fashion yang lebih inklusif dan berdaya saing.
“Kami berharap, acara ini dapat mempererat silaturahmi dan memberikan inspirasi bagi setiap pelaku industri untuk terus berkarya,” kata Iffah, dengan penuh semangat.
Ketua IFC Chapter Jogja Wening Angga dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi di antara sesama desainer dan pelaku kreatif. Menurut Wening, acara Syawalan ini bukan hanya ajang temu kangen, tetapi juga ruang untuk menyatukan visi dan energi bersama.
“Kita ingin Jogja dikenal sebagai pusat fashion craft yang kuat dan siap menjawab tantangan global,” tegasnya.
Selanjutnya dalam kesempatan yang sama, Lia Mustafa selaku Advisor IFC Jogja memberikan pesan tentang pentingnya solidaritas dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. “Di tengah tantangan ekonomi yang ada, kekuatan kita justru terletak pada kebersamaan. Industri ini hanya bisa bertahan jika kita saling menguatkan,” ucap Lia, dengan semangat dan penuh harap.
Acara ini juga diwarnai dengan refleksi yang mendalam dari Philip Iswardhono, yang mengingatkan bahwa hidup tidak hanya tentang mencari materi, tetapi juga tentang memberikan manfaat dan pengabdian kepada orang lain.
“Jika kita hanya berfokus pada materi, kita akan kehilangan makna hidup yang sesungguhnya. Mari kita gunakan karya kita untuk memberikan dampak positif dan berguna bagi banyak orang,” ungkap Philip, dengan bijaksana.

Sementara itu, Dedi Delmora, desainer kebaya terkenal, berbagi pengalamannya dalam melakukan proyek Raya, yang menyentuh berbagai aspek dalam perencanaan dan pelaksanaan. Dedi menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan untuk memastikan kesuksesan proyek Raya, dimulai dari riset mendalam terkait tren pasar, model, warna, dan kekuatan harga yang diminati.
“Riset ini sangat penting agar kita bisa mengetahui apa yang diinginkan pasar dan menyesuaikannya dengan kemampuan produksi,” ujar Dedi.
Lanjut Dedi menjelaskan, usai melakukan riset, tahap berikutnya adalah membuat sketsa dan mencoba produksi sampel setidaknya enam bulan sebelum proyek dimulai. “Kami pastikan bahwa produksi dan persiapan bahan berjalan tepat waktu dan sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kampanye foto dan video yang solid untuk mempromosikan produk, serta pentingnya branding untuk membangun citra Raya di pasar. Juga tentang strategi pemasaran digital dengan menggunakan Meta Ads dan evaluasi yang terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi ramah tamah guna mempererat ikatan antar anggota dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Syawalan ini menjadi bukti nyata bahwa IFC Jogja bukan hanya komunitas kreatif, tetapi juga rumah bersama yang siap bergerak bersama demi kemajuan industri fashion lokal, yang berakar budaya dan adaptif terhadap perubahan zaman. (*/ ted)











