bernasnews – April Mop atau juga dikenal dengan April Fool’s Day, hari di awal bulan April di mana bebas membuat berita hoax atau prank dengan maksud untuk candaan semata. Seseorang akan membuat sebuah kebohongan kepada yang lain tentang sesuatu atau peristiwa, yang akhirnya akan dikatakan sebagai “April Mop”.
Bagi generasi kekinian tentu sudah tidak familier dengan istilah “April Mop”, yang dahulu dilakukan hanya pada hitungan waktu satu hari saja dan itupun di awal bulan April. Tidak seperti sekarang orang dengan bebasnya bikin konten atau berita berupa hoax maupun prank. Tidak semua April Mop menjadi candaan semata namun bahkan bisa membuat tragedi, peristiwa yang menyedihkan.
Menurut sumber, konon sejarah hari April Mop dimulai pada tahun 1582, ketika Perancis beralih ke sistem kalender Gregorian yang sebelumnya menganut sistem kalender Julian, di mana sistem kalender ini awal tahun dimulai pada tanggal 1 April. Masyarakat yang kurang literasi atas perubahan sistem kalender Gregorian itu gagal menyadari bahwa tahun baru telah berganti menjadi 1 Januari.
Mereka terus saja merayakan selama seminggu terakhir bulan Maret hingga 1April sehingga menjadi sasaran candaan dan lelucon yang disebutnya “April Fools”. Konon lelucon April Mop yang menjadi semacam “budaya” ini, di Indonesia dipengaruhi pada saat zaman kolonial.
Bahkan pada tahun 1960an, setiap ada berita yang beredar maupun yang diterbitkan oleh media cetak, khususnya koran yang terbit harian pada edisi tanggal 1 April tentu akan menjadi perhatian lebih oleh khalayak pembacanya, apakah berita itu hanya “April Mop” atau berita yang berdasar fakta adanya. Sampai segitunya pengaruhnya.
Beberapa “April Mop” yang pernah beredar dan menjadi kenangan bagi generasi usia 60-70 tahun, diantaranya adalah berita dari mulut ke mulut yang mengabarkan bahwa di Kebun Binatang Gembira Loka ada koleksi baru berupa ulat yang segede bantal guling.
Lantas ada lagi cerita tentang “Epek-epek Njaluk Duwit” yakni hantu berbentuk potongan telapak tangan yang bergentayangan minta uang, untuk mengusirnya warga harus memasang uang kepeng senilia 50 Sen di setiap jendela kamar tidur.
Adanya teknologi IT dan kecanggihan media sosial saat ini kebaradaan “April Mop” jelas sudah tidak ada sebab telah tergantikan oleh maraknya pembuatan prank atau pun hoax yang bisa dikatakan setiap hari senantiasa menghiasi media sosial, yang beseliweran di lingkungan kita.
Untuk menyikapi kejadian semua itu baik “April Mop”, prank dan hoax hanya diperlukan kewaspadaan, kejernihan berpikir dan kritis, serta mencari dari sumber-sumber lain yang lebih berkompeten sebagai klarifikasi. (ted)











