News  

Kolaborasi LPM UMY dan Jammah Tani Muhammadiyah DIY Wujudkan Petani Digital

Pengabdian masyarakat LPM UMY di Kantor PDM Sleman, Senin 24/3/2025. (Foto : Istimewa).

bernasnews – Dunia pertanian adalah sektor penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Sektor ini adalah penghasil komoditas yang diperlukan untuk konsumsi manusia. Jika sektor pertanian ini macet, maka rantai kehidupan manusia akan hancur. Namun sayang, belum banyak upaya yang dilakukan banyak pihak untuk peningkatan di sektor pertanian yang secara terstruktur dan sistematis.

Bidang yang cukup penting dalam meningkatkan sektor pertanian adalah penerapan teknologi dan digitalisasi. Hal ini sudah dilakukan di banyak negara maju di sektor pertanian untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas komoditas pertanian.

Hal inilah yang mendorong Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui organisasi di bawahnya yakni Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) DIY untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam penerapan teknologi dan digitalisasi di bidang pertanian di DIY.

Salah satunya adalah dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Melalui program pengabdiannya LPM UMY, maka dilaksanakanlah acara mengenalkan dan membawa sebuah alat analisa kesuburan tanah dan mampu memberikan rekomendasi pemupukan berbasis IOT (Internet of Things) dalam acara sarasehan di kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, Senin (24/3/2025) sore.

“Kita akan kenalkan dan implementasikan alat pengukur kesuburan tanah ini kepada seluruh petani Muhammadiyah di DIY. Ini sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Melalui kegiatan kolaborasi ini, diharapkan dapat menjadi penyemangat dan motivasi untuk petani, agar semakin giat mengembangkan wawasan dan teknologi guna meningkatkan kesejahteraan,” kata Luqman Johannudin, selaku Ketua JATAM DIY.

Alat pengukur kesuburan tanah tersebut adalah Jinawi. Alat yang dapat mengukur kadar nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), pH, dan Electrical Conductivity (EC) tanah secara langsung. Selain itu dapat langsung memberikan rekomendasi dosis pemupukan berdasarkan data kandungan NPK di dalam tanah. Alat yang diproduksi oleh salah satu perusahaan di Yogyakarta ini juga sangat efisien dan praktis. Dapat memberikan rekomendasi data seketika saat pengujian tanah berlangsung. Tinggal menyolokkan probe sensor ke dalam tanah di 9 titik lahan yang membentuk garis silang.

“Selain dapat mengukur kesuburan atau kadar NPK di dalam tanah, alat ini juga dapat memberikan rekomendasi dosis pupuk yang dibutuhkan tanah berdasarkan komoditas tanaman,” tambah Luqman.

Dalam acara ini, Dr. Eng Sholahuddin SP., M.Eng. selaku nara sumber dari LPM UMY yang juga dosen di jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian UMY menyampaikan penerapan digitalisasi di dunia pertanian akan sangat membantu petani dalam hal efisiensi penggunaan pupuk. Pemupukan yang dilakukan oleh petani selama ini cenderung boros. Penggunaan pupuk kimia yang berlebih dan tidak sesuai kebutuhan tanaman inilah yang dapat membuat tanah menjadi bantat dan kurang subur.

“Dari uji coba penggunaan alat yang pernah dilakukan di berbagai daerah, dengan kita mengetahui kebutuhan pupuk secara presisi dari tanaman, biasanya akan terjadi efisiensi penggunaan pupuk. Efisiensi penggunaan pupuk rata-rata 30-40 % dari penggunaan pupuk biasanya oleh petani,” kata Solahuddin.

Acara yang dihadiri oleh perwakilan pengurus Jamaah Tani Muhammadiyah tingkat Cabang/kecamatan se-Kabupaten Sleman ini diakhiri dengan buka puasa bersama. Mereka sangat antusias dan tertarik untuk mengaplikasikan alat ini sebagai ikhtiar bersama pertanian yang lebih maju dan modern. Akhir dari semua ini nantinya adalah untuk peningkatan kesejahteraan bersama. (nun)