bernasnews — Majlis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan Pelatihan pembuatan Eco Enzyme bertempat di Rumah Produksi Pengolahan Sampah (RPPS) Dusun Ngablak RT 3, Sitimulyo, Piyungan, Kabupaten Bantul, Minggu 15 Desember 2024. Kegiatan ini diikuti oleh anggota Paguyuban RPPS Mardiko dan warga Bawuran.
Manager RPPS Mardiko Tomy Wahyu Pradana menjelaskan, bahwa pelatihan pembuatan Eco Enzyme (EE) sebagai upaya mengolah dan memanfaatkan banyaknya sampah organik sisa buah yang masuk di RPPS Mardiko.
Menurut Tomy, buah afkir dan kulit buah yang belum busuk dibuat menjadi Eco Enzyme. Sedangkan buah yang sudah busuk bisa diolah menjadi pakan maggot larva dari lalat BSF. “Pasalnya RPPS Mardiko selain mengelola sampah plastik juga mengolah Sampah organik untuk budidaya maggot dan membuat pupuk organik,” kata dia.
Sementara itu, Ketua Eco Enzyme Bantul Tralis Siswati yang didampingi Neni Wulandari Lestari sebagai pemateri menyampaikan bahwa pembuatan EE adalah salah satu cara pemanfaatan sampah sisa buah dan sayuran.
“Namun sampah yang dipergunakan untuk membuat EE adalah sampah buah dan kulit serta sayuran yang segar belum busuk. Sedangkan buah busuk masih bisa dimanfaatkan untuk pakan maggot juga dibuat pupuk organik,” terang Tralis.
Dikatakan, larutan EE mempunyai manfaat yang banyak di setiap kehidupan. Dalam dunia pertanian EE bisa membantu memperbaiki struktur tanah, membantu menjernihkan perairan, bila disemprotkan ke udara bisa mengurangi polutan yang ada di udara.
EE juga bisa dipergunakan di dalam rumah tangga bisa untuk cairan pengepel lantai, cuci baju, cuci piring. Untuk kesehatan EE bisa sebagai pencuci luka, handsanitezer, untuk berkumur. “EE tidak boleh diminum namun apabila tertelan juga tidak berbahaya,” ungkap Tralis.
Untuk EE murni disarankan tidak diperjualbelikan. Hal ini dimkasudkan untuk menghormati penemu EE oleh Dr. Rosukon Poompanvong yang telah mendedikasikan penelitian selama kurang lebih 30 tahun untuk kesejahteraan umat tanpa minta royalti.
“Yang diperbolehkan untuk dijualbelikan adalah EE generasi kedua atau turunannya. Bisa berupa sabun cuci dan sabun mandi, sampho, pengharum ruangan dan lainnya,” tegas Tralis.
Neni Wulandari Lestari menambahkan, bahwa membuat EE itu mudah dan yang perlu disiapkan gelas ukur, pisau, talenan, timbangan, wadah fermentasi. Menurut Neni, untuk wadah bisa menggunakan botol air mineral, toples atau drum.
“Yang penting wadah bukan dari logam, wadah harus bisa ditutup dengan rapat karena dalam proses fermentasi anaerob selama tiga bulan tidak boleh bersinggungan dengan udara,” jelas dia.
Bahan yang diperlukan untuk membuat EE adalah air, bahan organik, gula atau molase. Ketiga bahan tersebut dicampur dengan perbandingan 10 bagian air, 3 bagian bahan organik, 1 bagian gula atau molase. Ketiga bahan tersebut dicampur dalam wadah ditutup rapat.
Difermentasi selama tiga bulan. Jangan lupa dikasih lebel atau catatan berisi tanggal pembuatan dan tanggal panen, jenis bahan organik yang dipakai. Setelah minimal tiga bulan boleh dipanen dengan diambil larutan EE dengan cara disaring.
“Adapun ciri fisik EE yang berhasil dan bagus ditandai warna coklat, bau segar seperti tape tidak berbau busuk. Jika dicek dengan pengukur keasaman atau PH pada angka empat,” ujar Neni. (nun/ Kusnadi, KIM Berbah)












