bernasnesw — Sekber Keistimewaan DIY bekerja sama dengan Alra Corner mengelar acara Diskusi Publik, dalam rangka Peringatan Haul Ke-15 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bertempat di Alra Corner, Jalan Surami, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Senin sore (16/12/2024).
Acara diskusi publik dengan topik “Memperkokoh Humanisme dan Kerukunan Umat Beriman” menghadirkan narasumber dr. Hasto Wardoyo Sp. OG (K) selaku Walikota Yogyakarta Terpilih; Dr. H. Hilmy Muhammad (Gus Hilmy), Anggota DPD RI DIY, dan V. Murwaningsih, Jurnalis Majalah HIDUP. Adapun sebagai Moderator Widihasto Wasana Putra, Ketua Sekber Keistimewaan DIY.
Dalam sambutan selamat datang, Wawan Harmawan, SE, MM selaku tuan rumah dan Wakil Walikota Yogyakarta Terpilih mengatakan bahwa, acara ini dipersiapkan sangat singkat untuk nguri-nguri Haul Ke-15 Gus Dur dan ini adalah moment yang sangat luar biasa.
Menurut Wawan, Gus Dur telah mengajarkan pada kita semua selalu berjiwa egaliter dan bagaimana mengharga sesama mengingat Kota Yogyakarta juga sebagai miniaturnya Indonesia. Adalah sebuah keniscayaan warganya mengedepankan kebersamaan.
“Sehingga kami berharap setelah pelantikan nanti bersama dr. Hasto sebagai Walikota Yogyakarta dan saya mendampingi sebagai Wakil Walikota, bersama warga bisa bersatu padu mengedepankan kebersamaan dan gotong royong,” ungkap Wawan.
Kegiatan ini dihadiri lebih dari 100 orang yang terdiri dari berbagai organisasi antara lain dari Kelompok Difabel Merdeka, Warga NU, kader PDI Perjuangan, Kelompok Profesi, dari beberapa pelaku UMKM Kota Yogyakarta, serta beberapa tokoh masyarakat.
Kesempatan pertama untuk menyampaikan pandangan terhadap sosok Gus Dur disampaikan oleh dr. Hasto yang mengemukakan, bahwa Gus Dur sebagai tokoh dan guru bangsa tentu bayak hal yang bisa kita ambil sebagai hikmah dalam kehidupan sehari-hari.
“Sebagai catatan penting bagi saya, Gus Dur sebagai guru bangsa tentu memorinding untuk perlu dibicarakan didiskusikan. Kalimat atau kata-kata yang dulu pernah membuat terkejut adalah anggota DPR seperti “Taman Kanak-kanak”, kadang-kadang apa yang disampaikan oleh beliau itu bisa kita rasakan,” ungkap dia.
Hal itu, imbuh dr. Hasto mengatakan, menjadi inspirasi yang luar biasa sebagai pembelajaran seperti kami yang harus belajar dinamika di dalam penyelenggaraan pemerintahan. Bagi kami yang pernah dilahirkan sebagai pemimpin dari perut demokrasi.
Sementara kami harus bekerja sama penuh dengan birokrasi itu juga mejadi pengalaman sendiri, ibarat kebo ketemu sapi yang sama-sama berkaki empat bentuknya sama tapi kalau kawin tidak bisa hamil. Pembelajaran yang harus kita lakukan dalam menyelami kehidupan berdemokrasi.
“Kita menyadari betul bahwa Gus Dur adalah sebagai pejuang demokrasi, beliaulah yang luar biasa ikut berjuang bagaimana pada tahun 1998 yang betul-betul kira rasakan, beliau sangat tidak menyekuai hal-hal yang berbau abtenar tentunya. Bagaimana ketika pemimpin menindas beliau sangat tidak menyukai,” ujarnya.
Menurut dr. Hasto, atas pembelajaran itu, kita jadi tahu bagaimana birokrasi yang tidak harus abtenar sehingga be service menjadi new public service, yang dulunya pangreh praja menjadi pamong praja. Ini bagian dari menghilangkan jiwa-jiwa yang bersikap abtenar itu. Sebagai pelayan publik haru betul-betul menampatkan diri sebagai pelayan.
Pemimpin yang di bawah dan yang dilayani itu yang di atas sebab yang memaknai hidup kita itu adalah justru orang yang lebih banyak dan kesannya lebih rendah sebab mereka yang memaknai. Contoh, sebagai kepala daerah yang memaknai adalah warganya.
“Tanpa warga kita tidak bisa menjadi kepala daerah, ada warga tapi tidak ada kepala daerah presiden bisa tunjuk Plt atau Pjs selesai. Meskipun tidak ada warga tapi ada kepala daerah tidak ada artinya,” kata dr. Hasto.
“Sebagai penerus Gus Dur kita masih punya PR besar apa yang dicita-citakan beliau bahwa supaya demokrasi itu membuahkan kesejahteraan ternyata hingga kini belum. Toleransi yang diajarkan oleh Gus Dur ini adalah mengajarkan kedewasaan bagaimana kita bisa memaklumi orang lain, menahan diri. Belajar memahami esensi, bahwa ensesinya hidup itu mau apa,” tandasnya.

Sementara itu, Gus Hilmy sebagai narasumber kedua menyampaikan apresiasi atas digelar acara Haul Ke-15 Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur merupakan sosok yang sangat sederhana dan kebersahajaan yang luar biasa. “Berkat pemikiran Gus Dur, perkembangan pendidikan santri pun menjadi luar biasa dan profesi pekerjaan terbuka lebar. Beliau yang membuka wacana agar kita bisa ikut ngurusi negara,” ungkapnya.
“Ketika melanjutkan pendidikan di Sudan, sungguh mengharukan saat melihat Gus Dur dilengserkan sementara melihat beberapa teman bersorak sorai. Padahal tidak ada bukti bahwa dilengserkan gara-gara persoalan hukum dan sebagainya. Ini menjadi catatan mendalam bagi bangsa kita, bahwa jangan mudah kita menilai orang berdasar like and dislike, melainkan berdasar prestasi dan argumentasi yang benar,” beber Gus Hilmy.
Selanjutnya Murwaningsih sebagai narasumber ketiga mengungkapkan sosok Gus Dur dari berbagai tokoh masyarakat yang pernah diwawancarai maupun dari artikel-artike beberapa buku yang pernah disunting kala menjadi editor di sebuah perusahaan cetak terbesar di Jogja.
“Saya sangat mengagumi Gus Dur persahabatannya dengan Romo Mangun, yang kita ketahui bersama bahwa dua tokoh ini merupakan sosok yang benar-benar humanis dan sangat menjunjung tinggi pluralisme dan demokrasi,” ungkap Murwaningsih.
Adapun narasumber keempat, Koh Hwat selaku Tokoh Tionghoa dan Budayawan berhalangan hadir dikarenakan kondisi kesehatannya. Ia hanya mengirimkan beberapa poster yang berisi geguritan (puisi dalam bahasa Jawa), yang menggambarkan sosok Gus Dur sebagai Guru Bangsa.
Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, beberapa peserta menanya program-program ke depan serta harapannya kepada Walikota Yogyakarta dan Wakil Walikota Yogyakarta terpilih saat memimpin nanti, terkait dengan kondisi kota yang berhubungan dengan toleransi serta pluralisme sehingga menjadi kota yang benar-benar nyaman dan aman. (ted)











