bernasnews — Pengurus Santa Angela Merici Suryoputran menyelenggarakan kegiatan Wisata Religi, dengan tujuan Gereja Kapal, di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dan Gua Maria “Ratu Kenyo” di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Sabtu (7/12/2024).
Kegiatan wisata religi ini dilaksanakan dalam rangka untuk mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan diantara umat Katolik, warga Kampung Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta. Lingkungan di bawah naungan Gereja Paroki Hati Tuhan Yesus, Pugeran.
Menurut Leonarda Pinahayu, bahwa kegiatan wisata religi yang diselenggarakan merupakan agenda rutin tahunan dari Wanita Katolik (WK) Kampung Suryoputran, yang dilaksanakan setiap bulan Desember. “Dalam pertemuan bulanan Santa Angela yang lalu, para bapak-bapaknya juga pingin ikut serta, apalagi dengan tujuan Gereja Kapal Pacitan maka diputuskan untuk berpergian bersama-sama dengan armada dua bus,” terang Bu Pipin sapaan akrabnya, Sabtu (7/12/2024).
Menurut ibu berputra satu ini, dipilihnya wisata religi di Gereja Kapal Pacitan selain memiliki daya tarik lantaran bangunan arsitekturnya yang unik dan penuh makna filosofi rombongan Santa Angela Suryoputran juga ikut doa misa di gereja tersebut, bersama warga setempat atau rombongan wisatawan lainnya.
“Usai doa misa, kemudian wisata di salah satu pantai di Pacitan. Selanjutnya dalam perjalanan pulang mampir ke Gua Maria “Ratu Kenyo” Wonogiri untuk memberikan kesempatan bagi peserta yang belum pernah ke sana,” imbuh Bu Pipin, di sela-sela persiapan ikuti misa, di Gereja Kapal Pacitan.

Sementara itu, Ignatius Viska Eka Budi Mahendra selaku Koster Gereja Kapal kepada bernasnews menjelaskan, bahwa Gereja Kapal atau juga disebut Gereja Katolik St. Frasiskus Xaverius ini berada di Jalan Piere Tendean, Pucangsewu, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
“Gereja ini sudah ada sejak tahun 1970, kemudian baru diadakan rehab dalam bentuk bangunan kapal ini pada tahun 2021. Keunikan dari bangunan gereja ini dibangun full semuanya memakai bahan yang merupakan kekayaan alam Pacitan,” jelas dia.
“Gereja Kapal ini selain mempunyai makna filosofi keagamaan (Katolik) juga mempunyai makna filosofi berdasar budaya Jawa. Hal itu bisa dilihat dari pernak pernik hiasan pada altar gereja. Juga arsitektur bentuk kapal dan pondasi yang cukup tinggi adalah guna antisipasi dari bahaya yang diakibatkan bencana alam,” beber Eka.
Selanjutnya dalam misa yang dipimpin oleh Romo RD. Ferdinandus Eltyan Prayudi mengatakan, bahwa banyak pelayanan seperti domba-domba tanpa gembala. Artinya banyak sekali kegiatan pelayanan banyak sekali orang-orang yang butuh dilayani tapi pelayannya sedikit.
“Seperti tamu-tamu yang berkunjung di Gereja Kapal ini sudah lebih dari 16 ribu (per bulan). Sehingga misa harian seperti ini bisa sampai empat kali. Untuk misa hari Sabtu – Minggu tiga kali dari pagi hingga malam dan romonya hanya satu. Pasalnya gereja ini merupakan gereja stasi,” tutur Romo Yudi, dalam penggalan khutbahnya.
Untuk diketahui Gereja Kapal sebagai tempa peribadatan ini juga memperikan kesempatan pada UMKM setempat, berupa kios atau lapak penjualan kuliner khas Pacitan, souvenir, dan beberapa peralatan untuk ibadah. Selain itu, pengunjung juga dapat membaca narasi makna filosofi spiritual dan 36 contoh batu-batuan alam bumi Pacitan sebagai bahan pembangunan Gereja Kapal. (ted)












