News  

Film 1 Kakak 7 Ponakan Tutup Rangkaian Acara JAFF 2024

Film 1 Kakak 7 Ponakan Tutup Rangkaian Acara JAFF 2024. (Foto : Wulan/ bernasnews)

bernasnews – Pemutaran film 1 Kakak 7 Ponakan atau 1K7P menutup rangkaian acara Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024, Sabtu (7/11/2024).

Adapun acara JAFF 2024 itu telah digelar selama 8 hari berturut-turut sejak 30 November silam.Film yang disutradarai oleh Yandy Laurens itu tayang perdana dan sukses memukau para penonton di Empire XXI Jogja.

Yandy Laurens menjelaskan film ini mengangkat tema besar yang bersinggungan dengan kehidupan masyarakat modern khususnya generasi sandwich.

Dalam perjalanannya, akan mengisahkan perjuangan seorang paman, Moko (diperankan oleh Chicco Kurniawan), yang harus merelakan mimpinya demi mengasuh tujuh keponakan.

Moko juga harus memilih antara kehidupan cintanya, karier, dan keponakan-keponakannya. Akankah Moko berhasil menjalani kehidupan barunya.

“Ketika menonton karya Mas Arswendo, saya mencoba mengadopsi isi hatinya apa yang beliau ingin sampaikan. Esensinya tetap relevan hingga kini,” ungkap Yandy, Sabtu (7/12/2024).

Bagi Yandy Laurens, 1 Kakak 7 Ponakan lebih dari sekadar film. Pasalnya, film ini tak hanya menyajikan hiburan semata tetapi juga menggali isu-isu komunikasi keluarga yang sering kali menjadi tabu. 

Banyak pesan yang disampaikan dalam sinetron dengan judul serupa yang diadaptasi ke film 1 Kakak 7 Ponakan. Betapa hubungan keluarga, diri sendiri, dan pandangan terhadap karier menjadi topik yang terus relevan untuk dibahas dan diperbincangkan sampai kapanpun.

“Melalui kisah ini, kami ingin membuka ruang diskusi bagi penonton untuk membicarakan isu-isu keluarga yang mungkin sulit diungkapkan,” tambahnya.

Sementara Chicco Kurniawan yang memerankan tokoh sentral, Mas Moko mengaku film yang mengangkat sandwich generation tersebut memunculkan perspektif hidup yang baru. 

Dia yang mewakili Gen Z akhirnya memahami dibalik fenomena sandwich generation, ada banyak hal yang melatarbelakanginya.

“Kalau ngomongin sandwich generation, aku juga merasa ada di generasi yang sering melupakan hal-hal kecil, tapi aku gak pernah sadar akan itu,” ceritanya.

“Aku belajar banyak tentang hubungan dengan keluargaku, diriku sendiri. Film ini membuatku tumbuh sebagai manusia. Kami menjalani proses dengan banyak menangis, seperti diketuk hatinya untuk terhubung lagi dengan keluarga, mengutarakan hal-hal yang selama ini kita simpan dan kami sangat ingin membagikan hal itu dengan penonton,” tandasnya. (lan)