bernasnews – Cita-cita Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia masih terus digencarkan. Saat ini diketahui implementasi dalam memperkuat sektor maritim belum terpenuhi secara maksimal di akhir masa jabatan Presiden ke-7 RI, Jokowi, sehingga menjadi PR bagi pemerintahan baru selama 5 tahun kedepan.
Dalam rangka mengembalikan bangsa Indonesia ke jati dirinya sebagai negara maritim, Pemerintahan baru dinilai bisa mencontoh strategi dan nilai-nilai yang diwariskan oleh Jenderal Soedirman. Hal ini disampaikan oleh Staf Khusus Kasal, Laksda TNI Hanarko Djodi Pamungkas dalam acara Round Table Discusion yang mengusung tajuk Ketahanan Ekonomi dan Kemaritiman untuk menggali filosofi kepemimpinan Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Hanarko menilai salah satu sosok pahlawan nasional ini selalu mengedepankan ketahanan, adaptasi, strategi dan pengabdian dalam menjaga kedaulatan. Sehingga bisa menjadi inspirasi dalam menjaga kedaulatan dan ketahanan nasional.
“Nilai-nilai yang diwariskan Panglima besar Jenderal Soedirman ini menjadi sumber wawasan perjuangan bagi pengembangan karakter dan strategi pertahanan kita, terutama di sektor maritim,” kata Staf Khusus Kasal, Laksda TNI Hanarko Djodi Pamungkas saat membacakan sambutan Kasal dalam diskusi yang digelar oleh Yayasan Panglima Besar Soedirman di Yogyakarta.
Di sisi lain, semangat Jenderal Soedirman ini juga bisa dicontoh untuk memainkan peran sentral RI dalam isu-isu seperti perdagangan internasional, pengelolaan sumber daya alam, dan keamanan maritim Indonesia.
Pemerintah kedepan dengan sumber kekayaan alam maritim yang melimpah diajak bisa mengoptimalkan kolaborasi dengan mitra internasional sebagai katalis untuk membuka potensi laut Indonesia mengingat secara keseluruhan, sebesar 84% wilayah Indonesia merupakan lautan.
Sinergi antara pemahaman sejarah dan nilai filosofi dengan konteks pertahanan maritim modern diyakini akan membantu bangsa Indonesia merumuskan kebijakan yang lebih adaptif, kolaboratif dan berkelanjutan dalam pengembangan sektor maritim.
“Diharapkan kita dapat mengindentifikasi strategi kongkrit dalam mempertahankan kedaulatan maritim yang lebih relevan dengan tantangan yang dihadapi bangsa ini,” ungkapnya.
Ketua Yayasan Pangsar Soedirman, Tisa Bugianggri Soedirman mengungkapkan pengembangan sektor maritim di Indonesia itu sangat perlu kolaborasi stakeholder. Diskusi ini, kata dia, ingin mengajak generasi muda untuk mengingat sejarah perjuangan rakyat dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam membentuk Indonesia.
“Kami ingin agar generasi-generasi sekarang tetap mengingat sejarah, karena kita tidak bisa lepas dari sejarah yang telah membentuk Indonesia,” kata Tisa.
Lewat kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan strategi pertahanan dan keamanan maritim yang lebih adaptif dan berkelanjutan yang mengambil semangat Jenderal Soedirman sebagai inspirasi. Yayasan Pangsar Soedirman juga optimistis bahwa generasi muda dapat ikut menjaga kedaulatan dan keamanan maritim Indonesia.
“Semangat eyang Soedirman, saya pikir dulu berjuang tanah air juga buat generasi-generasi yang akan datang (yakni kita), ya jadi kayaknya kok saya lihat generasi-generasi sekarang itu tahunya nama jalan saja tanpa tahu sejarahnya gimana. Harapannya, mudah-mudahan nanti yang kami diskusikan ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman semua termasuk di bidang kemaritiman ini,” terangnya.
Hal senada juga disampaikan oleh WKU Kadin Bidang Kelautan & Perikanan, Yugi Prayanto. Dia menilai nilai survive yang ada pada sosok Jenderal Soedirman ini bisa dijadikan strategi yang baik untuk menggarap potensi kemaritiman di Indonesia termasuk di Yogyakarta.
“Yang mau kita sinergikan dengan semangat dan strategi ketahanan dari Jenderal Soedirman itu bisa survive, (itu yang kita ambil), supaya kita kedepan dibawah pemerintahan Presiden yang baru ini lebih gigih dalam mencari peluang usaha dan semangat yang tinggi dari Panglima Soedirman,” ucap dia.
Sementara anggota DPD RI, Ahmad Syauqi Suratno tak menepis dari sisi tantangannya, pemerintah ke depan di bawah Presiden Terpilih Prabowo Subianto memiliki sederet PR, utamanya dalam menyelesaikan permasalahan di laut yang belum tertangani dengan baik sebelumnya.
“Maka pentingnya kita duduk bersama (dengan mengimani) semangat panglima besar itu menjadi bagian yang bisa kita pegang menjadi referensi. Tantangannya tentu berbeda (dulu dan sekarang), tapi geopolitik kita ini mestinya diketakkan bukan sebagai bagian dari kelemahan tapi bagian dari kekuatan,” ucapnya.
“Insyaallah Pemerintah kedepan bisa aktif dan kita bersama-sama maksimalkan potensi kita semua, lima tahun inilah kita lihat bersama-sama, kita kawal bersama-sama bangsa ini kembali menjadi bangsa yang disegani,” tandasnya. (lan)












