bernasnews – Salah satu organisasi kemanusiaan berbasis agama, ACT Alliance mengadakan Sidang Raya ACT Alliance bertajuk “Iklim yang Menantang: Bagaimana Polarisasi Politik Berkontribusi terhadap Kerusakan Iklim” di Yogyakarta.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah perwakilan aliansi organisasi agama dan kemanusiaan internasional serta perwakilan masyarakat sipil dari Indonesia.
Pembicara yang dihadirkan antara lain, Rudelmar Bueno de Faria (Sekretaris Jenderal ACT Alliance), Erik Lysén (Moderator Dewan Pengurus ACT Alliance dan Direktur Act Church of Sweden), Rev. Prof. Dr. Jerry Pillay (Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Dunia), Alissa Wahid (Direktur Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia), dan Arshinta (Direktur YAKKUM PKMK).
Dalam diskusi ini, Moderator Dewan Pengurus ACT Alliance dan Direktur Act Church of Sweden, Erik Lysén menyampaikan dunia saat ini membutuhkan solidaritas untuk melawan krisis iklim dengan adil. Dampak polarisasi politik terhadap upaya keadilan iklim dan tanggapan dalam menghadapi kerusakan lingkungan yang semakin parah, juga menjadi topik bahasan dalam Sidang Raya ACT Alliance yang bertepatan dengan COP29.
Untuk memperbaiki kondisi itu, masyarakat sipil termasuk organisasi berbasis agama memainkan peran penting dalam memperjuangkan keadilan iklim serta memastikan hak asasi manusia dan keadilan gender dalam setiap langkah yang diambil.
“Tahun ini, di COP29, para pemimpin dunia memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan ambisi iklim yang sejalan dengan tujuan Perjanjian Paris. Namun, polarisasi politik semakin meningkat, menghambat keadilan iklim yang dibutuhkan untuk menjaga suhu global tetap di bawah 1,5 derajat,” ucap dia dalam Sidang Raya ACT Alliance yang digelar di Yogyakarta.
Sementara, Rev. Prof. Dr. Jerry Pillay dari Dewan Gereja Dunia (WCC) menyampaikan pentingnya keadilan iklim dalam menghadapi perubahan iklim. Sejak Sidang Majelis di Karlsruhe pada 2022, WCC menjadikan keadilan iklim sebagai prioritas ekumenis, dengan membentuk Komisi Keadilan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan.
“Waktu terus berkurang karena dampak negatif pemanasan global dan eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali. Hal ini merusak ekosistem, membahayakan kehidupan makhluk hidup, dan memperburuk ketidakadilan global,”ujar Jerry.
Hal senada juga disampaikan oleh perwakilan dari Indonesia yang juga merupakan Direktur Nasional Jaringan Gusdurian, Allisa Wahid.
Allisa tak menepis saat ini dunia termasuk Indonesia sedang menghadapi tiga jurang besar. Pertama, jurang spiritual dimana banyak masyarakat yang sudah mulai meninggalkan nilai luhur dan mengejar duniawi. Kedua, jurang sosial yang membuat sesama manusia banyak berkonflik, baik internal kelompok, antar agama maupun antar suku.
“Terakhir adalah jurang ekologis dimana kita mengeksploitasi ibu pertiwi ini sedemikian rupa sehingga kemarahannya itu juga terasa dalam bentuk bencana alam. Di Indonesia, kita banyak sekali mengalami peningkatan bencana alam tetapi sebagian besar masyarakat Indonesia tidak sadar bahwa ini akibat dari perubahan iklim, ” katanya.
Allisa menyebut, banyak masyarakat yang merasa bahwa bencana alam ini merupakan nasib dan takdir yang harus diterima. Maka di sinilah letak persoalan besar yang harus diurai. Karenanya, organisasi masyarakat sipil terutama organisasi berbasis agama punya posisi unik dalam penyadaran dan pencegahan masyarakat terhadap perubahan iklim.
“Organisasi agama itu landasannya nilai-nilai spiritual. Kedua, organisasi berbasis agama itu hubungan antara umat dan pemimpinnya sangat dekat. Mudah untuk dimobilisasi. Ketiga, pengambil keputusan itu rata-rata juga umat beragama, karena itu sebetulnya organisasi beragama juga bisa mempengaruhi pengambil keputusan dan organisasi umat beragama juga punya banyak resources sampai pedalaman,” ucapnya.
Sementara Direktur YAKKUM PKMK, Arshinta turut menegaskan pentingnya keadilan dalam akses sumber daya dan partisipasi masyarakat.
“Kami memahami bahwa ketidakadilan iklim dan penurunan partisipasi masyarakat sipil dalam pembangunan adalah tantangan besar. Kami ingin berkontribusi dalam membangun perubahan bersama masyarakat sipil dan LSM lainnya,” tandasnya.












