Revolusi Hijau di Desa Karangsari, Wonosobo : Inovasi Agribisnis Jamur Tiram 

Kegiatan sosialisasi program pemberdayaan desa binaan tiga kampus di Wonosobo, Jawa Tengah. (Foto : Humas UMY)

bernasnews – Desa Karangsari di Wonosobo, Jawa Tengah, tengah mengalami transformasi berkelanjutan melalui program pengabdian masyarakat yang inovatif. Dengan skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah Ruang Lingkup Pemberdayaan Desa Binaan, tema yang diangkat berdasarkan potensi wilayah adalah tentang “Pengembangan agribisnis jamur berbasis teknologi pemanfaatan limbah serbuk gergaji sebagai bahan bakar biomasa steamer baglog”.

Program yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ini menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu paket pemberdayaan yang komprehensif, tahun anggaran 2024.

Highlight dari program yang merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Purworejo, dan Universitas Widya Mataram (UWM) ini adalah pelatihan budidaya dan perawatan jamur tiram yang diikuti oleh KWT Rukun Sejati, Kelompok Shodaqoh Sampah dan BUMDes Mutiara Desa Karangsari pada pekan pertama September 2024. Dosen Agroteknologi UMY Ir. Mulyono, MP.  memperkenalkan teknik budidaya jamur tiram yang tidak hanya ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan.

“Inovasi penggunaan limbah serbuk gergaji sebagai bahan bakar biomassa untuk steamer baglog meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi limbah industri perkayuan lokal,” kata Ir. Mulyono, MP.

Menurut dia, jamur tiram, atau Pleurotus ostreatus, adalah jenis jamur yang populer karena rasanya lezat dan nilai gizinya yang tinggi. Jamur ini kaya akan protein, serat, vitamin B, dan mineral seperti kalium dan fosfor. Selain itu, budidaya jamur tiram relatif cepat, dengan siklus panen sekitar 1-2 bulan.

“Dalam budidaya jamur tiram, media tanam adalah kunci utama keberhasilan. Kita akan menggunakan campuran serbuk gergaji, bekatul, dan kapur dengan rasio 100:10:1. Serbuk gergaji yang kita gunakan berasal dari limbah industri perkayuan di sekitar Wonosobo, sehingga kita juga berkontribusi pada pengelolaan limbah,” kata dia.

Kepala Divisi Pengabdian Mahasiswa UMY Dr. Aris Slamet Widodo menekankan potensi program ini dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendiversifikasi ekonomi desa.

Sementara itu, Sosiolog UWM Puji Qomariyah memandang program ini sebagai katalis perubahan sosial yang signifikan. “Ini bukan sekadar tentang produksi pangan, tetapi juga transformasi cara masyarakat berinteraksi dengan lingkungan dan satu sama lain,” ujarnya.

Program ini juga sejalan dengan konsep kedaulatan pangan dan ketahanan pangan jangka panjang. Pendekatan sirkuler dalam sistem pangan yang diperkenalkan dapat menjadi model adaptasi terhadap perubahan iklim di tingkat lokal. 

Dengan menggabungkan teknologi modern, kearifan lokal, dan prinsip keberlanjutan, program ini diharapkan dapat menjadi contoh sukses pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di daerah lain. (*/nun)