News  

Mahasiswa KKN UNY Gelar Sosialisasi Rumah Tahan Gempa, Harus Begini Struktur Bangunannya

Suasana sosialisasi rumah tahan gempa oleh mahasiswa KKNR 10045 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang bertempat di Ngento, Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Gempa yang pernah mengguncang DIY dan sekitarnya tentu meninggalkan kisah pilu yang tidak akan pernah terlupakan. Banyaknya korban baik luka ataupun meninggal akibat tertimpa oleh bangunan rumah bisa disebut jumlahnya cukup banyak.

Kejadian tak terduga yang menimbulkan korban tersebut karena kurang diantisipasi dengan pembangunan model rumah tahan gempa pada masa lalu. Pasalnya masih minimnya pemahaman masyarakat dalam membangun rumah atau juga kurangnya sosialisasi dan edukasi dari pihak yang kompeten.

Oleh karena itu mahasiswa KKNR 10045 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang bertempat di Ngento, Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, melakukan sosialisasi rumah tahan gempa pada warga setempat. Penanggungjawab program kerja sosialisasi rumah tahan gempa adalah Muhammad Iqbal Zainurrizar dan Eva Fatimah dari program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik UNY.

Menurut Iqbal, bahwa filosofi bangunan tahan gempa jika terjadi gempa ringan, bangunan tidak boleh mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural yang terdiri dinding retak, genting dan langit-langit jatuh, kaca pecah. Maupun pada komponen strukturalnya, yakni kolom dan balok retak, pondasi amblas.

“Bila terjadi gempa sedang, bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non-strukturalnya akan tetapi komponen struktural tidak boleh rusak,” kata Iqbal, di sela-sela kegiatan sosialisasi, Selasa (27/8/2024)

Bila terjadi gempa besar, bangunan ‘boleh’ mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural maupun komponen strukturalnya, namun penghuni bangunan tetap selamat. “Artinya sebelum bangunan runtuh masih cukup waktu bagi penghuni bangunan untuk keluar/mengungsi ketempat aman,” ungkap dia.

Muhammad Iqbal Zainurrizar dan Eva Fatimah dari program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik UNY. (Foto: Istimewa)

Kata Iqbal, prinsip dasar dari bangunan tahan gempa adalah membuat seluruh struktur menjadi satu kesatuan sehingga beban dapat ditanggung dan disalurkan secara bersama-sama dan proposional. Bangunan juga harus bersifat daktail (liat), sehinga dapat bertahan apabila mengalami terjadinya perubahan bentuk yang diakibatkan oleh gempa.

“Konsep bangunan tahan gempa adalah berbentuk simetris (bujursangkar, segi empat) dan mempunyai perbandingan sisi yang baik yaitu panjang lebih kecil dari 3 kali lebar. Ini dimaksudkan untuk mengurangi gaya puntir yang terjadi pada saat gempa,” terang Iqbal.

Selanjutnya, Eva Fatimah menjelaskan, bahwa tanah bergeser atau pergeseran tanah adalah fenomena di mana lapisan tanah bergerak dari posisi awalnya. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk aktivitas seismik, erosi, curah hujan tinggi, dan kondisi geologis tertentu.  

“Di wilayah seperti Kulon Progo yang memiliki kondisi tanah yang rentan, pergeseran tanah biasanya terjadi di daerah perbukitan atau lereng yang curam. Dampak pergeseran tanah ini menyebabkan retakan pada struktur bangunan, penurunan atau fondasi amblas, kegagalan fondasi serta kerusakan infrastruktur penunjangnya,” papar Eva.

Mahasiswa prodi Teknik Sipil UNY itu mengatakan, untuk mengurangi dampak bangunan pada tanah yang bergeser melalui perencanaan dan pemilihan lokasi, desain pondasi yang tepat, penguatan struktur serta teknik konstruksi yang fleksibel.

“Pondasi harus diletakkan pada tanah yang keras kedalaman minimum 60 cm. Juga harus mempunyai hubungan kuat dengan sloof, dan inovasi pondasi konstruksi sarang laba-laba (KSLL),” terang dia.

Lanjut Eva menjelaskan, struktur utamanya tinggi kolom maksimum untuk rumah yang menggunakan dinding sebesar 3 meter. Jika tinggi kolom lebih dari 3 meter maka pada bagian tengah dinding (antara sloof dan ringbalk) diberi balok latei. Jarak maksimum antar kolom untuk bangunan yang menggunakan dinding lebih dari 3 meter.

“Jika jarak antar kolom lebih besar dari 3 meter maka di tengah bentang harus menggunakan kolom praktis. Jika menggunakan kuda2 beton, gunung-gunung harus diberi kolom dan balok miring beton bertulang dengan ukuran dan tulangan sama dengan ringbalk,” ujarnya. (*/ted)