News  

UGM dan University Groningen Kaji Potensi Hidrogen untuk Dukung Percepatan Transisi Energi di Indonesia 

Kegiatan Summer Course, bertajuk 'Hydrogen's Role in Energy Transition: Perspective and Challenges', Senin (18/8/2024). (Foto : Wulan/ bernasnews)

bernasnews – Sebagai upaya untuk mendorong pengembangan hidrogen hijau di Indonesia, Pusat Studi Energi UGM bersama Universitas Groningen Belanda yang didukung oleh PLN menggelar acara Summer Course, bertajuk ‘Hydrogen’s Role in Energy Transition: Perspective and Challenges’, Senin (18/8/2024).

Acara ini menjadi jembatan dalam mewujudkan penerapan Energi Baru & Terbarukan (EBT) dan membantu pemahaman masyarakat, dunia profesional serta civitas akademik mengenai energi Hidrogen, transisi energi, dan kontribusinya terhadap energi berkelanjutan. 

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengatakan energi hidrogen merupakan energi yang potensial sebagai energi dengan kepadatan tinggi, tetapi menghasilkan karbon yang rendah. 

Meskipun demikian, ia mengakui implementasi hidrogen di Indonesia masih memiliki sejumlah kendala, misalnya biaya hidrogen yang masih mahal dan permasalahan logistik. Sehingga perlu banyak kolaborasi riset terkait pengembangan bidang teknologi ini. 

“Kami di UGM berkomitmen untuk dapat secara aktif melakukan riset teknologi hidrogen,” kata Rektor UGM, Ova Emilia, Senin (19/8/2024).

Kepala Pusat Studi Energi UGM, Prof. Dr. Ir. Deendarlianto, S.T., M.Eng., mengatakan para peserta yang ikut dalam summer course ini diharapkan bisa mengimplementasikan teknologi hidrogen dalam kebijakan dan strategi nasional untuk menghadapi tantangan energi dan perubahan iklim. 

Apalagi penggunaan hidrogen sebagai energi alternatif diyakini dapat membantu menurunkan emisi karbon, memperkuat ketahanan energi nasional, serta meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Berbagai pakar energi terbarukan yang berasal dari dalam dan luar negeri juga hadir guna memperkuat pemahaman mengenai pentingnya hidrogen kepada masyarakat umum, sebagai energi alternatif dalam transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

“Masa depan dunia itu ada di green hydrogen. Kenapa migrasi ke hidrogen? Karena di dunia internasional memang sedang berupaya mengurangi emisi karbon karena adanya kenaikan suhu bumi melebihi 1,5 derajat Celcius. Maka, perlu menjadikan alam semesta berada di situasi emisi nol,” jelas dia.

Dia menjelaskan, adanya tuntutan untuk menurunkan suhu bumi dari ambang maksimal 1,5 derajat Celcius membuat banyak negara mencari energi baru terbarukan (EBT). Masing-masing negara, kata dia, memiliki target sendiri. 

“Saat ini, kalau dari sisi pembangkit listrik, lebih dari 60 persen dibangkitkan batubara. Ada juga dari gas dan lain sebagainya,” paparnya.

Prof. Dr. Aravind P. Vellayani dari University of Groningen Belanda menjelaskan sejumlah negara optimis untuk mengembangkan hidrogen sebagai EBT.

Namun, proses pembentukan hidrogen hijau tidak menghasilkan emisi langsung, karena bahan bakunya berasal dari sumber terbarukan seperti air, surya, angin, atau biomassa. Ketika digunakan sebagai bahan bakar, hidrogen hanya menghasilkan air dan panas sebagai produk sampingan, tanpa meninggalkan jejak karbon yang merugikan lingkungan. 

“Ini adalah kesempatan untuk bisa mencanangkan kembali ekonomi energi yang ada di Groningen. Ada peluang untuk menggunakan kembali fasilitas untuk bahan bakar baru,” ungkapnya.

Aravind mengungkap, pengembangan hidrogen itu menarik di Eropa dan diharapkan harga produksi hidrogen bisa turun ketika diterapkan di Indonesia.

“Konsep Hidrogen Valley ini penting karena bisa muncul di banyak tempat. Mereka bisa terkoneksi dan bisa menjadi perekonomian hidrogen yang besar di dunia,” tandasnya. (lan)