bernasnews — Jogja sebagai kota budaya cukup banyak menyimpan tradisi atau sebuah ritual tertentu terkait dengan kebudayaan. Hal itu apabila dieksplorasi sedemikian rupa selain sebagai upaya pelestarian budaya juga bisa dikemas untuk tujuan daya tarik pariwisata.
Salah satunya adalah ritual tapa mbisu mubeng beteng Kraton Yogyakarta. Tradisi mubeng beteng yang merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTb,) Indonesia dari DIY, adalah tradisi budaya yang terus dilestarikan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram atau Tahun Baru Jawa 1 Sura menurut penanggalan Kalender Jawa, karya Sultan Agung.
Acara ini sendiri diawali dengan lantunan tembang Macapat yang dinyanyikan oleh para abdi dalem di bangsal Srimanganti Kraton Yogyakarta, menjadi momentum merefleksikan diri melalui laku mubeng beteng dengan membisu alias tidak banyak berbicara atau tapa bisu lampah mubeng beteng.
Hal itu dikemukakan oleh IB Crisnayudha, pengusaha muda bidang transportasi travel dengan nama perusahaan Permana Trans di Yogyakarta kepada bernasnews, saat ditanya tentang tradisi atau budaya sebagai daya tarik para wisatawan atau pariwisata Jogja, Sabtu (17/8/2024).
“Menurut pendapat saya, sangat bagus sekali tetap melestarikan dan menghormati tradisi budaya tersebut (tapa bisu lampah mubeng beteng). Sebagai simbol evaluasidiri sekaligus keprihatinan terhadap segala perbuatan yang dilakukan selama setahun terakhir,” ujar Crisna, sapaan akrab pemilik akun Instagram @pramanatrans ini.
Lanjut Crisna menjelaskan, pada zaman kekinian pun tradisi tersebut masih sangat diminati oleh para wisatawan lokal maupun manca negara. “Seperti usaha saya dalam ibidang transportasi travel Pramana Trans. Sudah biasa kami akan selalu memberikan rekomendasi destinasi wisata budaya yang wajib untuk dikunjungi, mulai dari tempat, sejarah, dan tradisinya,” beber dia.
Dikatakan, biasa para wisatawan tertarik tentang sejarah dan tradisi apalagi ketika apda hari itu bertepatan dengan tanggal pelaksanaan suatu tradisi yang sangat beragam khususnya di Yogyakarta, yang bisa diikuti oleh semua kalangan.
“Dengan melestarikan budaya dan tradisi maka sangat baik untuk memikat para wisatawan untuk datang berkunjung ke Jogja,” tandas Crisna.
Adapun rute Mubeng Beteng dimulai dari Keben- Ngabean -Pojok Beteng Kulon – Plengkung Gading – Pojok Beteng Wetan – Jalan Ibu Ruswo – Alun alun Lor – Keben. Tak sedikit pula masyarakat maupun wisatawan yang ikut berjalan sepanjang kurang lebih 4 kilometer, mengikuti prosesi ini di belakang barisan para Abdidalem Kraton Yogyakarta. (ted)












