bernasnews – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) melalui Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan ikut melestarikan olahraga jemparingan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam program Residensi Pemajuan Kebudayaan (RPK) 2024.
Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbudristek Restu Gunawan mengatakan program ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah untuk melestarikan budaya Indonesia sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda sebagai bentuk pembinaan para pelaku budaya.
Ada tiga lokasi Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang difokuskan dalam RPK 2024 ini antara lain Cirebon yang mengangkat Tari Topeng Losari, Riau yang mengangkat Musikalisasi Pantun dan Tradisi Lisan, dan DIY yang mengangkat Olahraga Tradisional Jemparingan.
“Keluaran program ini diharapkan menciptakan bentuk-bentuk kolaborasi pelestarian OPK berupa karya kreasi baru atau bentuk lainnya dari hasil residensi atau pembelajaran intensifnya bersama pelaku budaya. Hasil dari kolaborasi tersebut, nantinya akan ditampilkan di Halaman Museum Fatahillah Kota Tua Jakarta,” ujar Restu Gunawan, saat dijumpai di sela-sela acara RPK di Yogyakarta.
Kegiatan ini berkolaborasi dengan pelaku budaya internasional yang berasal dari Australia, Meksiko, Italia, India, Kanada, Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, Kolombia, Thailand, Mesir, Ekuador, Yordania dan Kolombia.
Kata dia, pembinaan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci dalam pelindungan dan pemajuan kebudayaan. Restu juga menekankan pentingnya memberikan perhatian terhadap komunitas pelaku budaya untuk bisa melestarikan kebudayaan. Restu lalu mencontohkan pergerakan oleh komunitas Langenastro dalam melestarikan kebudayaan Jemparingan.
Selama dua minggu, residensi terhadap kebudayaan Jemparingan telah dilakukan dan diikuti pelaku budaya nasional juga internasional. Dukungan terhadap pelaku budaya ini diyakini dapat menjadi semangat melestarikan kebudayaan ini.
Apalagi Residensi Pemajuan Kebudayaan menjadi bentuk pelaksanaan pembinaan yang termuat dalam salah satu di antara empat aspek penguatan tata kelola kebudayaan lainnya, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.
“Bagaimanapun kebudayaan ini harus diregenerasi. Ini juga bentuk penghormatan kita terhadap para maestro, kalau nanti ada pengembangan dan pemanfaatan kita serahkan pada seniman-seniman ini. Kami tugasnya sebagai fasilitator,” terangnya.
Sementara Ketua Umum Langenastro Agung Sumedi menuturkan olahraga jemparingan ini hanya ada satu-satunya di dunia. Ia menyebut Jemparingan memiliki makna mendalam secara filosofisnya. Bukan sekadar melepas anak panah dari busurnya tetapi juga melatih konsentrasi sekaligus refleksi diri.
Beruntungnya, saat ini diadakan Residensi Pemajuan Kebudayaan 2024 di Langenastro, sehingga pelaku budaya nasional dan internasional dikumpulkan untuk mendalami kebudayaan Jemparingan.
“Sekarang di dua minggu ini ada 26 peserta dari nasional, lokal juga internasional. Nantinya mereka akan tampil secara kolaboratif dengan peserta residensi yang berlokasi di Cirebon yang mereka mempelajari Tari Topeng Losari juga kolaborasi dengan tradisi lisan di Kampar, Riau yang disebut Koba atau Bokoba, yakni tradisi lisan jenis cerita yang disampaikan dengan cara bernyanyi,” ungkap dia.
Salah satu partisipan internasional dari Mesir, Rania Khaleed Hussein mengungkapkan dirinya tertarik mengikuti program jemparingan ini karena bisa melatih konsentrasi dan fokus meski merupakan hal yang baru dan terbilang sulit.
Kendati begitu, ia mengaku ini menjadi pengalaman belajar kebudayaan yang sangat baik untuk dirinya.
“Benar-benar susah dari panahan karena posisinya duduk. Tapi konsennya sangat deep karena konsentrasi dalam diri dan bagaimana kita bisa bermanfaat untuk masyarakat dan sekitarnya,” imbuhnya. (lan)











