bernasnews – Gajah, singa, celeng, ular, dan segala hewan buas tiba-tiba menerabas menerjang padi menguning yang siap dipanen. Malam itu, dua orang penjaga padi yakni Mbah Wongso Plopok dan Mbah Wignyo tercekat kaget dan takut bukan kepalang melihat pemandangan itu. Sampai menjelang terbit matahari, keduanya tidak berani bergerak dan tidak sepatah kata pun terungkap.
Namun, setelah matahari mulai terang, padi masih utuh tegak berdiri seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Itulah sekelumit cerita zaman dahulu yang disampaikan Slamet Mulyono (84 tahun) salah satu sesepuh Dusun Grojogan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta di malam 10 Asyura (Selasa 16/7/2024).
Dalam rangka menyambut malam 10 Muharam atau malam Asyuro, warga bersama tokoh masyarakat Grojogan, Tamanan menggelar kegiatan “Umbul Donga lan Sarasehan”. Kegiatan itu dilaksanakan di sekitar kompleks Makam Pangeranan. Makam Pangeranan merupakan makam tua yang ada di Padukuhan Grojogan dan menjadi bagian sejarah dan cerita rakyat di padukuhan tersebut. Cerita di atas merupakan kisah turun temurun mengenai kesakralan Makam Pangeranan.
Kegiatan ini mendapat dukungan dan antusias tinggi dari warga terlebih dari para sesepuh. Acara semacam ini sudah mulai ditinggalkan seiring dengan kemajuan zaman. Kepala Dukuh Grojogan Roi Hermawan, S.M. menyampaikam banyak terima kasih kepada warga dan tokoh masyarakat yang telah bersedia hadir dan membantu terlaksananya kegiatan tersebut. Menurut dia, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti aspirasi warga agar kegiatan di malam 10 Muharam (Suran) diselenggarakan kembali.
Ditemui setelah acara berlangsung, dukuh yang masih muda dan enerjik ini menyampaikan bahwa sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan melestarikan budaya adiluhung yang sejak zaman dahulu sudah berjalan sebagai hasanah dan kekayaan budaya di Padukuhan Grojogan.
Selain mendoakan para leluhur, kegiatan ini dilanjutkan dengan sarasehan dan rembug budaya. Warga diajak berperan aktif menjaga dan melestarikan budaya. Sarasehan yang dipimpin oleh Dr. Ratun Untoro, M.Hum menggarisbawahi terkait keberadaan Makam Pangeranan sebagai salah satu aset berharga di Padukuhan Grojogan. Makam ini sarat dengan nilai sejarah dan tradisi lisan.
Ratun juga mengungkapkan pentingnya mewariskan cerita lisan itu kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman. Pada acara itu, Kepala Dukuh diharapkan dapat memperkuat program-program budaya.
Warga dan sesepuh Padukuhan sepakat untuk mengadakan acara semacam ini di setiap malam 10 Muharam. Selain itu, beberapa program untuk kemajuan padukuhan khususnya program revitalisasi Makam Pangeranan juga disepakati. (*/mar)











