bernasnews — Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menggandeng lembaga agama dan rumah-rumah ibadah untuk ikut mengelola sampah. Dengan Upaya ini diharapkan target pengolahan sampah sebanyak 200 ton perhari dapat terealisasi.
Penjabat Wali Kota Yogyakarta Sugeng Purwanto mengatakan, dalam mengolah sampah memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak, baik mengolah sampah dari hulu sampai hilir. Menurut Sugeng, para tokoh agama menjadi pihak yang tepat untuk diajak berkolaborasi karena masyarakat Kota Yogyakarta merupakan masyarakat religius yang masih sangat patuh terhadap para tokoh agama.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus bersama mengatasi persoalan sampah, bersama tokoh agama. Kita mengajak para jamaah untuk bisa mengolah sampah,” kata Sugeng, dikutip dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta.
Pihaknya mengungkapkan, bahwa berbagai teknik pengolahan sampah telah dikampanyekan oleh Pemkot Yogyakarta. Mulai dari teknik biopori, ember tumpuk, hingga komposting. Meskipun demikian Pemkot Yogyakarta akan terus mengoptimalkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS 3R).
“Kami pun tidak akan tinggal diam. Kami terus berupaya melakukan penanganan. Baik melalui pembangunan TPS 3R maupun program dan edukasi ke masyarakat. Tujuannya agar penanganan sampah berlangsung dari hulu ke hilir,” jelas Sugeng Puwanto.
Pendapat serupa dengan Sugeng Purwanto disampaikan oleh Ketua Forum Bank Sampah Kota Yogyakarta Aman Yuriadijaya yang juga merupakan Sekda Kota Yogyakarta. Ia mengungkapkan upaya pengolahan sampah perlu didukung upaya-upaya yang konsisten dari berbagai pihak salah satunya adalah tokoh agama.
Menurut Aman Yuriadijaya, mengajak masyarakat agar aktif mengolah sampah melalui pendekatan agama sangatlah tepat. “Kami melihat banyak masyarakat yang aktif di pengajian-pengajian dan di situlah kami ingin para ustadz dan ustadzah saat menyampaikan tausiahnya dapat menyinggung dan mengajak jamaahnya untuk mengolah sampah,” ujar dia. (ted)












