News  

Ribuan Wisatawan Saksikan Jogja Cross Culture

Pembukaan Jogja Cross Culture 2024. (Foto : Wulan/ bernasnews)

bernasnews – Ribuan masyarakat dan wisatawan yang datang dari berbagai daerah tumpah ruah memadati kawasan Malioboro untuk menyaksikan gelaran Jogja Cross Culture atau JCC yang diinisiasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta sejak 6 tahun silam.

Mereka datang berbondong-bondong untuk melihat secara dekat pertunjukan seni yang ditampilkan oleh 14 Kemantren yang ada di Kota Jogja. Pengambilan tema “Rikat Rakit Raket” menjadi spirit tersendiri bagi para pelaku seni dan seluruh masyarakat yang terlibat.

Penjabat Wali Kota Yogyakarta, Sugeng Purwanto mendorong agar Jogja Cross Culture dapat menjadi salah satu ikon promosi dan peluang bagi pelaku usaha, juga masyarakat pemerhati seni budaya di Yogyakarta. Hal ini juga dalam rangka membawa ekonomi Kota Jogja naik kelas, hingga dapat jauh lebih kuat lagi daripada sebelumnya.

Apalagi dalam fesival itu, pihaknya memberi wadah bagi seniman-seniman lokal melaui panggung terbuka, untuk mengeksplorasi ide-idenya.

“Kolaborasi penampilan 14 Kemantren, semua unjuk kebolehan untuk meningkatkan ekosistem dalam membranding Kota Yogyakarta. Tentunya juga menjadi ikon promosi dan peluang yang sangat menarik bagi segenap pelaku usaha maupun segenap pelaku seni di kota Yogyakarta ini,” ujar Penjabat Wali Kota Yogyakarta, Sugeng Purwanto, Sabtu (25/5/2024), malam.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menuturkan konsep JCC 2024 ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya. Pihaknya menghadirkan panggung JCC yang terdiri dari 14 panggung dan satu panggung besar atau panggung utama.

Panggung pertunjukan itu tersebar di 14 titik sejauh 1,2 kilometer di sepanjang Jalan Malioboro.

“Ini merupakan laboratorium seni juga ruang ekspresi bersama, yang menghadirkan kolaborasi antara para seniman lokal dari 14 kemantren di Kota Yogya, sekaligus menjadi panggung terpanjang untuk menampilkan potensi yang dimiliki setiap wilayah,” kata Yetti.

Terkait tema yang diambil, Yetti menyebut itu diambil berdasarkan budaya kehidupan bermasyarakat di Kota Yogyakarta yang selalu bergerak dan bekerja cepat tanpa bertele-tele (rikat), berproses saling melengkapi dan menyempurnakan (rakit), serta kebersamaan yang saling mendukung (raket).

“Perhelatan tahun ini merupakan Pesta Warga Kota Yogyakarta dalam lingkup kebudayaan. Berbagai macam potensi seni budaya wilayah akan disajikan dalam sajian yang unik dan menarik hasil dari laboratorium warga bersama seniman Kota Yogyakarta,” pungkasnya. (lan)