News  

PLN EPI Tinjau Pengembangan Sirkular Ekonomi Lewat Program Tanaman Multifungsi di Gunungkidul

PT. PLN Energi Primer Indonesia Tinjau Program Green Economy Vilagge di Kabupaten Gunungkidul. (Foto : Wulan/ bernasnews)

bernasnews – PT. PLN Energi Primer Indonesia bersama Pemerintah Daerah DIY terus berkomitmen mengembangkan program green economy vilagge di Kabupaten Gunungkidul sebagai rantai pasok biomassa menuju target Net Zero Emissions (NZE) 2060.

Bertepatan dengan 1 tahun dilakukannya program penghijauan melalui penanaman pohon multi fungsi di dua Kalurahan yakni Kalurahan Gombang dan Karangasem di Gunungkidul itu, kini PT PLN EPI, Pemda DIY bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI ikut meninjau progres perkembangannya.

Ada empat lokasi yang dikunjungi dan menjadi fokus dalam revitalisasi lahan kritis energi menjadi ladang sirkular ekonomi tersebut antara lain yang pertama lokasi pembibitan tanaman multifungsi di Desa Karang Asem, tempat penamaan tahap pertama & pruning perdana di desa Gombang, tempat penanaman tahap pertama & peresmian penanaman perdana di Embung Ngrejek, Gombang serta tempat peternakan kambing dengan pakan dari daun tanaman multifungsi.

“Ditanam awal sekitar 50 ribu kemudian dibibitkan dan disemaikan lagi. Dan tahun ini penanaman perdana sudah 1 tahun dan sudah menyebar di beberapa lokasi,” ujar Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia, Antonius Aris Sudjatmiko, Jumat (22/3/2024).

Tak hanya mensupport bibit nya saja, Antonius mengatakan pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat terkait program tersebut pun turut dilakukan.

Ia tak menepis selain menggunakan tanah Sultan Ground, saat ini masyarakat juga sudah melakukan penanaman mandiri di lahan milik pribadi termasuk juga di lahan-lahan kritis. Secara tidak langsung, program ini dikatakan sukses memberikan manfaat positif kepada masyarakat apalagi semua bagian pohon yang ditanam itu rupanya memberikan manfaat yang besar bagi kebutuhan pakan ternak di Gunungkidul.

Kendati demikian, pihaknya terus menargetkan pada tahun 2024 akan ada 100 hingga 300 hektar lahan yang ditanami pohon multiguna tersebut. Saat ini, mereka sudah menanam di 50 hektar lahan Sultan Ground tersebut.

“Diharapkan program ini terus berkelanjutan dan juga masyarakat disini sudah mulai menanam sendiri,” ucap dia.

Analis Kebijakan Ahli Madya Deputi PLK, Kemenko Marves, Fatma Puspitasari menyambut baik pengembangan lahan kritis yang sudah dimulai di Gunungkidul itu. Ia mengatakan program itu sangat strategis dan telah menjadi pilot project pengembangan biomassa yang juga bisa diduplikasi di wilayah-wilayah lain.

“Ini bisa diduplikasi di daerah daerah lain yang punya kendala yang sama misalnya lahan kritis dengan tanaman yang cocok, dengan ternak yang cocok, nanti masyarakat akan lebih mandiri,” kata Fatma.

Mengingat Indonesia juga menargetkan penurunan emisi, kata dia, upaya ini sekaligus sebagai bentuk pemulihan lahan kritis, lahan terdegradasi dan ekonomi serkuler, sekaligus menjawab tantangan kebutuhan energi masyarakat yang semakin komplek.

Masyarakat terlibat langsung dan mendapatkan benefit dari upaya menumbuhkan energi terbarukan ini.

Tempat penamaan tahap pertama & pruning perdana di desa Gombang. (Foto : Wulan/ bernasnews)

“Sekarang Indonesia sedang menghadapi bonus demografi berarti perlu persiapan dan regenerate. Dari kegiatan kegiatan seperti ini kita ingin membuat lapangan kerja mandiri. Kita bisa membuat aplikasi terbaik karena bagaimanapun juga ketahanan pangan dari level dasar bisa kita pertahankan,” jelasnya.

Ketua Bebadan Pangreksa Loka Keraton Yogyakarta, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo tak menutup kemungkinan bahwa masih banyak lahan Sultan Ground yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan serupa.

Marrel menilai, program dari PT PLN EPI ini memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat utamanya untuk menumbuhkan perputaran ekonomi di desa.

“Masyarakat pun menjadi bagian dari rantai pasok utama untuk energi terbarukan itu, sehingga manfaat ini tidak hanya dirasakan oleh golongan-golongan tertentu tetapi juga sampai di masyarakat desa. Jadi ekonomi yang terasa bisa sampai kesitu,” ucap Marrel.

“Yang kita maksud dari enggak cuman ketahanan pangan yang sering kita dengar tetapi ketahanan energi juga perlu dimulai dan akhirnya ketahanan energi ini menumbuhkan ketahanan ekonomi dan ini yang kami kejar juga,” pungkasnya. (lan)