Begini Perbedaannya ‘Warung Kejujuran’ yang Ada di Jogja dengan di Belanda

Penampakkan salah satu lapak atau Warung Kejujuran, di sebuah rute pedesaan menuju hutan wisata, di Belanda. (Foto: Kiriman Yan Suyoputri)

bernasnews — Beberapa waktu lalu sempat terdengar ada beberapa sekolah yang mempunyai program kegiatan berupa Kantin atau Warung Kejujuran, di mana para siswa berlatih mengelola usaha (kantin) dengan menerapkan azas kepercayaan dan kejujuran.

Siswa boleh mengambil barang dagangan seperti kue dan minuman juga membayar sesuai harga yang tetera pada barang yang dijual juga mengambil uang kembalian tanpa pengwasan dari penjualnya/ petugas yang menunggu. Namun entah program itu masih berlanjut atau telah berhenti karena merugi.

Warung atau lapak semacam itu, yang mengandalkan azas kepercayaan dan kejujuran ternyata juga bisa dijumpai di obyek wisata religi Goa Maria Lawangsih, Dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kolon Progo, DIY. Bernama lapak ‘Mawar Rinonce’ (Rangkaian bunga Mawar, red).

Ibu Upik selaku Koordinator Pengelola Lapak menjelaskan, bahwa ada seorang bruder bernama Anastasius BM dari Jakarta memberikan material dan peralatan mengajarkan ketrampilan merangkai rosario kepada ibu-ibu di Lawangsih. Hasil rangkaian karya ibu-ibu tersebut dipasarkan di Goa Maria Lawangsih.

“Sistem pembayaran dengan cara self service. Pembeli memasukkan uang ke dalam kotak yang telah disediakan. Karena lapak tempat menggelar dagangan tidak ditunggu oleh petugas. Kegiatan ini diawali pada tanggal 9 Januari 2020 hingga kini,” terang Upik, kepada bernasnews, Senin (4/3/2024).

Mantan guru lulusan IKIP Sanata Dharma (sekarang USD, red) menambahkan, perkembangan selanjutnya bentuk dagangan yang dijual bukan hanya rosario saja. “Tetapi berbagai keperluan untuk ziarah, antara lain lilin, bunga, salib, gelang dan kalung salib, gantungan kunci, dan lain-lain,” beber Upik.

Penampakan lapak/ warung berazas kepercayaan dan kejujuran yang ada di Goa Maria Lawangsih, Kulon Progo. (Foto: Kiriman Upik)

Usaha serupa dengan prinsip kejujuran dan kepercayaan seperti di Goa Maria Lawangsih ternyata juga ada di negara Belanda. Seperti dikemukakan oleh Yan Suryoputri yang menerangkan jualan kreasi rumah tangga di pinggir jalan, dengan azas kepercayaan dan kejujuran. Pembeli ambil barang/produk dan memasukkan uang di peti yang tersedia.

“Tapi kegiatan ini hanya ada di pedesaan, rute jalan ke hutan rekreasi. Tapi desa di Belanda jangan disamakan desa di Jogja. Wilayah desa di sini adalah sebuah wilayah di luar kota. Barang yang dijual berganti-ganti atau musiman. Ada yang jual hasil panenan kebun seperti apel, ada telur ayam. Bahkan pernah lihat ada yang jualan arloji bikinan sendiri. Macam-macamlah, biasanya muncul di musim panas,” terang Yan Suyoputri.

Salah satu bentuk Lapak Kejujuran berupa jualan pernak pernik asesoris, di sebuah desa di Belanda. (Foto: Kiriman Yan Suryoputri)

Ada juga lapak yang menjual madu oleh warga secara pribadi yang memelihara lebah. Ketika jalan-jalan di pedesaan bermacam-macam yang dijual, ada kentang, wortel, strawbery yang setiap rumah berbeda. Konsepnya berjualan namun tidak ditunggu, azas jujur dan percaya bagi orang yang ambil membayarnya dimasukkan kotak.

“Kebetulan saya pernah menjumpai yang jualan keluar rumah. Kemudian saya sapa dan tanya apa yang pada ambil (beli) dagangannya pasti bayar? “Ya iya lah,” jawab mevrouw itu,” ujar ibu asli Jogja, yang telah puluhan tahun hidup di negeri kincir angin itu.

“Sekarang di Belanda juga sudah berbeda dengan dulu lantaran banyak warga yang merupakan pengungsi dari negara-negara lain sehingga banyak kasus kriminal. Dahulu ibaratnya kita parkir mobil sebentar ambil barang yang dibutuhkan membayar masukkan uang di kotak, sekarang yang ada seperti itu hanya di rute jalan desa yang masuk ke daerah dalam,” bebernya. (ted)