bernasnews – Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar Sidang Terbuka Senat Universitas dengan agenda Pengukuhan Guru Besar pada Jumat (24/2/2024). Dua guru baru, yakni Prof Kunjana Rahardi di bidang Ilmu Bahasa dan Prof Bambang Soelistijanto di bidang Ilmu Komputasi Bergerak.Keduanya dikukuhkan di hadapan Senat Universitas dan undangan.
Sidang terbuka senat dibuka oleh Ketua Senat yang sekaligus Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana. Sidang diawali dengan pembacaan surat Keputusan Menteri Kebudayaan, Pendidikan, Riset, dan Teknologi mengenai Kenaikan Jabatan Akademik kedua guru besar.
Dalam pidato pengukuhan, Prof Kunjana Rahardi menyampaikan pemikirannya yang berjudul “Dari Formalisme Linguistik hingga Pascafungsionalisme Linguistik: Teroka Paradigma Linguistik, Perspektif Studi Linguistik, dan Konteks Siberteks dalam Cyberpragmatics”. Ia menggali bagaimana di pembelajaran bahasa di era pasca fungsionalisme, harus berdimensi sosial.
“Saat ini terjadi pergeseran paradigma dan perspektif, yaitu berayunnya pendulum pembelajaran bahasa dari semula yang bersifat murni linguistik ke dalam pembelajaran yang berdimensi sosial, societal, kultural, dan situasional. Dengan situasi perkembangan teknologi saat ini, maka studi linguistik yang ada harus kontekstual dengan berciri siberteks,” tuturnya.
Sementara Prof Bambang Soelistijanto, menyampaikan pidatonya yang berjudul “Komputasi Berpusat Pada Manusia: Sebuah Paradigma Baru”. Prof Anto menegaskan bahwa melalui ilmu komputasi bergerak, diharapkan manusia menjadi subjek, dan teknologi sungguh-sungguh melayani manusia.
”Saat ini, ketika kita menginginkan informasi, kita harus mencari dimana servernya. Tetapi di masa depan, kita perlu membangun sistem komputasi dimana manusia tidak lagi menjadi objek, menjadi subjeknya. Dimanapun kita berada, manusia harus selalu diikuti dan dikelilingi informasi,” tuturnya.
Rektor USD, Albertus Bagus Laksana, SJ, juga mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya atas pencapaian dua guru besar yang sangat membanggakan bagi Universitas Sanata Dharma.
“Saya merasa bahwa kedua guru besar ini, lewat pidatonya tadi, sangat mencerminkan bahwa ada rasa dan perasaan yang unik, karena Sanata Dharma tidak hanya bisa menghasilkan dua profesor itu, tetapi apa yang mereka geluti mencerminkan milestone story bagi Sanata Dharma sebagai lembaga akademis,” pungkasnya.











