News  

TPA Piyungan Tahun 2024 Ditutup, Pemkot Jogja Lakukan Desentralisasi Sampah dengan Beberapa Skema

Suasana kegiatan penimbangan sampah pilah di Bank Sampah Surya Indah RW 08 Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta. Foto: Dok. bernasnews.

bernasnews — TPA Regional Piyungan menurut rencana sudah tidak lagi menerima sampah dari kota ataupun kabupaten di DIY pada tahun 2024 mendatang. Sehingga akan diterapkan desentralisasi di mana setiap wilayah akan mengelola sampahnya secara mandiri.

Hal itu termasuk Kota Yogyakarta pada tahun 2024 akan mengelola sampahnya secara mandiri dengan optimalisasi pemanfaatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS 3R) Nitikan dan Karangmiri.

Juga akan ditambah dengan Nitikan 2, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, serta TPST yang akan dikelola oleh BUMD Pemkot Yogyakarta bekerja sama dengan pihak swasta.

Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Aman Yuriadijaya mengemukakan, bahwa dengan adanya pemberlakuan desentralisasi pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta pada tahun 2024, maka akan dilakukan dalam beberapa skema. Pemkot Yogyakarta telah menyiapkan mata rantai pengelolaan sampah di hilir dengan memperkuat TPS 3R Nitikan, Karangmiri.

“Kemudian sedang disiapkan TPS 3R Nitikan 2 yang produk akhirnya adalah material untuk industri daur ulang. Ditambah lahan sekitar 2.000 meter persegi di Piyungan yang akan menjadi TPST dengan output Refuse Derive Fuel (RDF),” terang Aman Yuriadijaya, dikutip dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta.

Menurut Sekda, mata rantai pengelolaan sampah di sektor hilir juga akan diperkuat dengan TPST yang sedang dipersiapkan di wilayah DIY, yang nantinya akan dikelola oleh BUMD Pemkot Yogyakarta yaitu PT Jogjatama Vishesha bekerja sama dengan PT Biru Sistem Perkasa. Di mana sampah akan dikelola lewat proses pemusnahan menggunakan teknologi ramah lingkungan.

“Peta jalan proses mata rantai pengelolaan sampah di hilir ini semuanya sedang berjalan dan berproses, yang targetnya sudah bisa berjalan secara sistematis di bulan Mei tahun 2024,” ungkapnya.

“Dengan terus menguatkan pengelolaan sampah di sektor hulu yang menjadi peran utama melalui Gerakan Zero Sampah Anorganik atau GZSA dan Gerakan Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja atau Mbah Dirjo,” lanjut Aman Yuriadijaya.

Pihaknya juga menegaskan penguatan GZSA dan Gerakan Mbah Dirjo. Selain menekankan pada perubahan sosial perilaku masyarakat, agar mau dan mampu mengelola sampah dari sumbernya, serta  optimalisasi peran Bank Sampah Induk yang akan memayungi juga menyelesaikan persoalan dari 666 bank sampah unit di Kota Yogyakarta.

“Potensi timbunan sampah di Kota Yogyakarta sekitar 300 ton per hari, skemanya 150 ton sampah akan selesai di hulu melalui GZSA dan Gerakan Mbah Dirjo juga Bank Sampah Induk. Kemudian 150 ton lainnya akan diproses di hilir, dengan sirkulasi dan proses mata rantai optimalisasi TPS 3R yang akan mengelola 50 ton dan 100 ton sisanya oleh TPST,” pungkas Aman Yuriadijaya. (*/ ted)