bernasnews — Tata letak dan perkembangan kewilayahan kampung di Kota Jogja merunut dari sejarahnya tidak bisa lepas dari keberadaan Kraton Yogyakarta, menilik dari toponame terjadinya kampung, yang kebanyakan berbasis dari kraton sebagai pusat pemerintahan dan budaya.
Ada tiga jenis nama atau toponame beberapa kampung yang masih bisa dijumpai di Kota Jogja, yaitu nama kampung berdasar nama bangsawan kraton yang pernah bertempat tinggal atau berdomisili, kemudian nama kampung berdasar keahlian atau profesi abdidalem kraton, dan nama kampung berdasar tempat tinggal bregada prajurit Kraton Yogyakarta.
Seperti yang pernah ditulis oleh media ini, salah satu kampung berdasar awalnya dari sebuah koloni badidalem yang berprofesi sebagai pesinden di Keraton Yogyakarta, yakni Kampung Pesindenan. Kampung ini secara administrasi berada di wilayah Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta atau tepatnya di RW 08 Suryoputran.
Guna memberi tanda bahwa Kampung Pesindenan dahulunya merupakan hunian dari para pesinden, maka warga melalui pengampu kampung setempat, dalam program pembangunannya mengajukan monument tetenger berupa sebuah patung pesinden, yang ditempatkan di dekat pintu masuk Jalan Pesindenan atau di pinggir Jalan Gamelan, Yogyakarta.
“Pesinden atau Sinden merupakan sebutan untuk penyanyi wanita yang melantunkan lagu-lagu tembang Jawa dengan iringan gamelan. Adapun yang membedakan antara sinden abdidalem dengan sinden biasa adalah pada penampilan dan sikap duduk saat menjalankan tugasnya,” jelas GBW. Imam Karneni, sesepuh kampung dan Ketua RT 26 Suryoputran, Senin (11/12/2023).
Jadi dalam pengajuan pembuatan tetenger atau patung pesinden itu melalui kajian yang mendalam bahkan oleh Pemerintah Kelurahan Panembahan dilakukan saresehan dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten.
“Abdidalem sinden Kraton Jogja berbusana khusus kebaya Janggan, dari kain bermotif kembang batu berwarna hitam. Rambut bersanggul tekuk dengan lungsen polos tanpa hiasan assesori, daun telinga berhias subang sengkan kecil. Mengenakan kain jarik batik gagrak Jogja yang diwiru,” beber Imam Karneni.
“Sikap duduknya juga beda, kalau sinden umum duduk timpuh. Untuk abdidalem sinden duduk bersila cara wanita dan saat melaksanakan tugasnya berkalung samir di lehernya,” lanjutnya.


Sementara itu, Ketua Kampung Suryoputran H. Bandrio Utomo, SE saat dihubungi bernasnews di tempat terpisah mengemukakan, bahwa pengajuan anggaran Pembangunan patung pesinden sebagai tetenger itu bisa dikata cukup lama. Menurut Bandrio, setiap tahun melalui pengampu wilayah setempat baik RT maupun RW selalu diajukan berulang kali, yang akhirnya baru bisa terealisir pada tahun anggaran ini.
“Semoga keberadaan patung tetengger Kampung Pesindenan itu menambah semaraknya ikon pariwisata Jogja, mengingat secara kewilayahan Kampung Pesindenan juga merupakan sayap dari Sumbu Filosofi Jogja, Dimana jalan dan gang kampung juga seringkali dilintasi oleh para wisatawan baik asing maupun luar kota,” ujar Bandrio, yang terpilih kembali sebagai Ketua Kampung, periode 2024-2028.
Patung Pesinden yang dijadikan sebagai tetenger tersebut merupakan karya seniman patung Mujiono, yang beberapa karyanya telah banyak menghiasi di beberapa wilayah Kota Jogja dan Jawa Tengah. Karya seni bersama tim yang paling fenomenal adalah patung sapi perah berukuran raksasa, di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Sementara itu, sebagai pelaksana pembangunan monument tetenger Kampung Pesindenan dipegang oleh CV. Manggala Kusuma, yang dipimpin oleh Sulistiyono, ST sebagai Direktur, dan Sodiq Agus SH, ST sebagai pelaksana. Berdasar catatannya dari tahun 2022-2023, perusahaan tersebut telah beberapa kali mendapat kepercayaan serupa dari beberapa kelurahan di Kota Yogyakarta. (ted)











