bernasnews – Pertemuan Adven II di wilayah Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada pekan kedua Desember 2023 bertema Bergiat sebagai Duta Damai menghadirkan sosok Romo YB Mangunwijaya atau yang akrab disebut Romo Mangun. Dalam pertemuan menuju Perayaan Natal 2023 itu, umat Kristiani diajak untuk menimba inspirasi dari kisah pastur yang telah tiada pada 10 Februari 1909 itu.
Seperti diketahui, pertemuan Adven I pekan lalu umat Kristiani diajak untuk menimba inspirasi dari kisah Ketua Umum Partai Politik Katolik Indonesia IJ Kasimo. Sedangkan pertemuan Adven III akan menimba inspirasi dari kisah Barnabas Sarikromo, serta pertemuan Adven IV akan menimba inspirasi dari Sekolah Muntilan dan Sekolah Mendut.
Menurut buku panduan Adven KAS 2023, secara profesi Romo Mangun adalah pastur, arsitek, novelis, cerpenis, dosen, pendidik, dan juga esais. Sebagai pribadi dia adalah seorang pejuang kemerdekaan, aktivis, humoris, dan humanisyang begitu luwes bergaul, lincah bergerak, lihai berolah pikir dan berhasil masuk ke ruang-ruang publik melintasi banyak sekat dan rintangan.
Sebagai seorang rohaniwan yang sudah menerbitkan 36 karya tuilis baik berupa esai, cerpen, maupun novel ini memulai dari kesadaran untuk “ngopeni” orang-orang kecil dan sederhana, darimana dia merasa tidak saja tumbuh dan belajar bersama orang-orang kecil, tetapi juga menjadi berkembang karena mereka semua.
Hidup Romo Mangun yang kelahiran tanggal 6 Mei 1929 memberi kesaksian tentang kesetiaan pada pilihan untuk tulus mengabdikan diri bagi kepentingan umum sampai Tuhan memanggilnya.
Dalam pertemuan Adven II itu umat Kristiani diajak untuk refleksi : apa yang menarik dari secuil kisah persahabatan antara Romo Mangun, Gus Dur dan BJ Habibie; nilai-nilai apa yang dapat dipetik dari kisah Romo Mangun; bagaimana usaha umat untuk mewujudkan diri sebagai Duta Damai di tengah masyarakat sekitar?
Kenangan kecil
Bagi penulis, paling tidak ada tiga kenangan kecil tentang dan bersama Romo Mangun. Pertama, pada bulan Agustus 1995 Panitia Misa Syukur Pesta Emas Republik Indonesia di Yogyakarta menyelenggarakan aneka kegiatan.
Salah satu kegiatannya adalah menerbitkan buku bertajuk Gereja dan Masyarakat – Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta.
Buku itu membahas aneka sisi dalam sejarah Gereja Katolik di Yogyakarta. Penulisnya adalah Dr Jan Weitjens SJ, DR PJ Suwarno, DR R Supraktiknya, Drs AMade Toni Supriatna, Drs C Bakdi Soemanto, Fred Wibowo, JB S. Amir Marwata, DR Hans J Daeng, St Sunardi dan penulis.
Perihal keikutsertaan penulis dalam buku itu sebenarnya seperti “anggota antarwaktu” alias penulis cadangan yang ditunjuk langsung karena penulis sebelumnya berhalangan atau tidak jadi menulis. Siapa penulis seharusnya itu? Tidak lain adalah Romo Mangun.
Karena batas waktu penerbitan buku setebal 176 halaman itu mepet, penulis yang dihubungi panitia untuk segera menulis tentang Dinamika Pers Katolik di Yogyakarta itu langsung mengiyakan. Perihal Romo Mangun tidak jadi menyumbang tulisan, penulis tidak bertanya kepada panitia maupun Romo Mangun. Biarlah itu jadi kenangan yang mengesankan.
Kedua, penulis melakukan beberapa kali wawancara dengan Romo Mangun untuk media penulis. Ada sebuah karya tulis yang masih terdokumentasikan dalam bentuk buku. Tulisannya bertajuk Bagai Isa dan Gadhi, Mohon Tanpa Kekerasan, sedangkan bukunya berjudul Menulis Itu Nafas Wartawan (1998). Karya tulis itu termuat di Harian Jawa Pos.
Ketiga, ketika penulis menjadi editor koran lokal di Yogyakarta, dikunjungi oleh Romo Mangun yang menyerahkan artikel opini agar dimuat di koran penulis. Alasannya, koran nasional di Jakarta tidak berani memuat karena dianggap terlalu “keras” terhadap penguasa Orde Baru.
Penulis kemudian minta izin kepada pimpinan, apakah artikel Romo Mangun dapat dimuat. Setelah dicermati sejenak, pimpinan mengizinkan artikel itu dimuat. Dua sampai tiga artikel Romo Mangun kami muat dan syukurlah media penulis aman tidak “dipermasalahkan” oleh penguasa Orde Baru waktu itu. (Anto Margono, Pegiat Literasi di Yogyakarta).











