News  

Generasi Milenial Punya Peran Penting untuk Tentukan Wajah Indonesia ke Depan

Pemerhati Digital Ekonomi Bisnis UGM, Dra. Prima Sari menilik peran generasi muda sebagai wajah baru bangsa Indonesia. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Populasi penduduk usia muda terus bertambah. Mengingat Indonesia akan mencapai masa keemasan pada tahun 2045 tepat saat usia kemerdekaan mencapai 100 tahun, seluruh elemen bangsa, utamanya generasi muda punya peran dan tanggung jawab dalam mempersiapkan wajah bangsa Indonesia menjadi lebih kuat dan maju ke depannya.

Pemerhati Digital Ekonomi Bisnis UGM, Dra. Prima Sari melihat generasi Y dan Z ini tumbuh seiring berkembangnya teknologi infomasi, khususnya internet dan gawai. Ia menilai milenial sudah mulai berusaha keras mewujudkan kehidupan yang baik sehingga kegiatan yang menjamin kesejahteraan, dan sebuah tatanan politik yang baik sesuai dengan cita-cita mereka.

“Tak hanya itu, mereka juga ingin terlibat di dalam sebuah aktivitas sosial, ekonomi, dan politik yang terhubung secara emosional. Oleh sebab itu, memahami karakter generasi Y dan Z dalam memandang dunia masa kini, menjadi modal besar untuk memaksimalkan perannya dalam pembangunan,” ujar Prima Sari dalam keterangan rilis yang diterima, Jumat (1/12/2023).

Adapun posisi kalangan milenial saat ini menurut Prima secara bertahap mulai mendapatkan atensi dan sorotan, terkait kontribusi mereka terhadap pembangunan negara bangsa ke depan. Terlebih mulai 2019, kalangan milenial mulai diproyeksikan akan mengisi berbagai macam posisi strategis, baik sektor publik maupun sektor swasta.

“Mereka diharapkan akan membawa restorasi yang lebih baik bagi Indonesia karena mereka adalah generasi yang dibentuk dan dididik dengan berbagai macam fasilitas memadai. Umumnya mereka berada dalam dua posisi dilematis, antara ingin menjadi eksis atau ingin menjadi narsis dalam. “Eksis” itu bisa diartikan sebagai upaya menjadikan dirinya ke dalam bentuk arena pencarian jati diri”, kata dia

Sehingga kalangan milenial ini memiliki peluang untuk melepaskan diri dari stigma sebagai generasi protektif. Pasalnya mereka mampu mengedepankan berjejaring (networking) dalam membangun identitas dan representasi sosial, politik, dan ekonomi yang kemudian dimobilisasi jadi kerumunan (crowd) yang intinya menekan secara politis secara terus-menerus.

“Politik anak muda sekarang ini memang berupaya untuk membangun keriuhan yang tujuannya menarik simpati yang lebih besar, baik secara luring maupun daring. Meskipun masih dikatakan sebagai permulaan, model seperti ini diperkirakan akan membesar pengaruhnya karena kalangan milenial lebih menyukai praktik informal dalam praktik formal. Sementara bagi kalangan milenial yang memilih jalur politik untuk narsis akan cenderung melihat politik sebagai bentuk pengakuan diri maupun kolektif. Mereka berupaya sebisa mungkin untuk diakui sebagai orang/kelompok penting tanpa peduli ideologi ataupun kepentingan,” tuturnya.

Prima tidak mengelak bahwa kondisi Indonesia pada tahun 2030 akan terjadi bonus demografi, yaitu jumlah kelompok usia produktif lebih banyak dari kelompok usia nonproduktif. Sektor ekonomi Indonesia juga diprediksi akan menduduki nomor lima terbesar di dunia. Karenanya diharapkan generasi muda dapat menjadi generasi pembuat dan pencipta kerja.

”Dengan pertumbuhan teknologi digital yang begitu pesat saat ini mestinya memberikan keleluasaan dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Selain karir di ranah politik, tentu saja kelompok ini sebagian besar juga mengarah ke karir dan pengembangan dirinya di sektor ekonomi bisnis”, lanjut Prima.

Dalam kondisi ini, lanjut Prima yang juga pernah mengenyam pendidikan di Fellow Life Insurance LOMA Palo Alto SF USA ini, pasti akan dan bahkan sudah terjadi benturan dengan generasi sebelum nya yaitu boomers, dan generasi X tentunya.

Pertama, perlu diingat bahwa meskipun narasi generasi tersebar luas, narasi tersebut tidak mempunyai dasar ilmiah. Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa generasi Milenial lebih malas atau generasi Baby Boomer lebih keras kepala. Setelah meninjau lebih dari 30 tahun penelitian akademis mengenai topik ini, National Academies of Sciences menyimpulkan bahwa batasan generasi bersifat arbitrer dan dugaan perbedaan generasi—meskipun tidak dibuat-buat—sebagian besar mencerminkan perbedaan situasional dan tahap kehidupan, bukan ciri kepribadian tertentu. dimiliki bersama oleh anggota seluruh generasi. Misalnya, generasi muda tidak “bersembunyi di rumah orang tuanya” karena mereka malas.

“Kondisi ini akan menjadi tantangan bagi pemerintah ke depan. Prima berharap agar pemerintah ke depan lebih banyak menyediakan lapangan pekerjaan baik sektor formal maupun informal terhadap ledakan demografi tahun 2030 ke depan. Demikian juga di sektor pendidikan. tentu saja, mau tidak mau ada perubahan kurikulum dan pembuatan silabus dalam proses belajar mengajar di pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang disesuaikan dengan situasi sosial ekonomi, dan perkembangan teknologi. Para pendidik dan pengajar juga harus menyiapkan diri dalam hal ini,” pungkasnya. (lan)