Proklim Kepatihan : Setiap Kampung agar Mampu Membangun Wilayah Sendiri

Rombongan tim juri lomba Proklim Kota Yogyakarta saat meninjau penghijauan gang RW 09 di sebelah timur Klinik Intan, Purwokinanti, Pakualaman, Senin (27/11/2023). (Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews)

bernasnews – Setiap kampung diharapkan mampu membangun wilayah sendiri. Setiap warga dan elemen di kampung harus dapat menciptakan kehidupan dan kondisi sebagaimana diharapkan bersama. Oleh karena itu, sinergi antarwarga dan antarelemen harus terus dilakukan.

Hal tersebut mengemuka dalam acara verifikasi dan penilaian tim juri atas Program Kampung Iklim (Proklim) Kepatihan, Kelurahan Purwokinanti, di pendopo belakang Puro Pakualaman, Yogyakarta, Senin (27/11). Verifiklasi dilaksanakan berkenaan Lomba Proklim Tingkat Kota Yogyakarta 2023. 

Memberikan sambutan pada kesempatan ini Ketua Tim Juri Christina Endang Setyowati dari Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Yogyakarta, Mantri Pamong Praja (MPP) Kemantren Pakualaman Saptohadi, S.I.P. Sebelumnya, memberikan laporan kegiatan proklim oleh Ketua Tim Proklim Purwokinanti dr. Asdi Yudiono bersama Sugiyono dan Drs Widodo Yuwono. Sedangkan sambutan penutupan disampaikan oleh Lurah Purwokinanti Moch. Ismail, S.H., M.M.

Dokter Asdi Yudiono pada kesempatan itu menyampaikan sambutan tertulis GKBRAA Paku Alam yang memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan Proklim Kepatihan, Purwokinanti. Mengakhiri laporannya, Asdi berpantun ria : Jalan-jalan ke Pakualaman/ Jangan lupa beli rujak es krim/ Mari kita ke Kampung Kepatihan/ Bersama-sama mewujudkan Kampung Proklim.

Seusai pembukaan, tamu mendapat suguhan suara indah dari Paduan Suara Kelurahan Purwokinanti yang menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Purwokinanti. Setelah selesai kunjungan lapangan di empat RW yakni RW 07, RW 08, RW 09, dan RW 10, tamu mendapat suguhan antara lain rujak es krim dan dawet olahan lidah biaya produksi warga Purwokinanti. 

Hijau dan guyub

Ketua tim juri verifikasi lomba Proklim Tingkat Kota Yogyakarta Christina Endang Setyowati mengatakan, awal memasuki kawasan Kampung Kepatihan dia dan tim sudah melihat dan merasakan nyaman dengan hijau daun dan guyub. Keguyuban warga ini penting dan merupakan bukti kepedulian terhadap wilayah sendiri. Hal ini sesuai dengan motto Kelurahan Purwokinanti yakni BERLIAN atau bersih peduli indah asri dan nyaman.

“Kami berharap, kepedulian terhadap wilayah sendiri itu bukan hanya ketika ada verifikasi lomba, namun merupakan komitmen dan berkelanjutan. Saya percaya, wilayah ini sudah melakukan dan akan melestarikan hal itu,” kata dia.

Endang Setyowati mengingatkan bahwa salah satu masalah yang masih dihadapi Pemkot Yogyakarta dan warga kota adalah sampah. Produksi sampah di Kota Yogyakarta perhari 300 ton. Sebanyak 100 ton sudah ditangani antara lain oleh bank sampah. Sisanya 200 ton, dikurangi oleh Mbah Dirjo (Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja) 50 ton. Masih ada sisa lagi 150 ton. Sebanyak 100 ton tertangani, namun masih ada 50 ton lagi yang tertahan di depo.

“Untuk itu, pembiasaan pengurangan produksi sampah sejak dari rumah harus dilakukan terus menerus,” kata dia.  

MPP Kemantren Pakualaman Saptohadi, S.I.P., memberikan apresiasi tinggi atas karya  dan kebersamaan warga Kampung Kepatihan khususnya dan Kelurahan Purwokinanti umumnya. Adanya Proklim Kepatihan itu adalah bukti atas dua hal itu.

“Kalau bukan kita sendiri sebagai warga, siapa lagi yang mau berbuat sesuatu demi keamanan dan kenyamanan kampung kita. Maka mari kita segenap warga kampung untuk peduli terhadap kampung kita sendiri,” kata dia. (mar)