bernasnews — Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) meresmikan 66 unit rumah gratis untuk warga miskin di berbagai daerah di Tanah Air, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta 4 unit. Program ini bernama ‘Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah’ (RSLHS).
Sebanyak 66 unit rumah tersebut diserahterimakan dalam acara Tasyakuran Sumpah Pemuda dan Hari Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke – 95. Kedua peristiwa penting itu terjadi pada Kongres Pemuda ke II, tanggal 28 Oktober 1928.
Acara seremonial dilangsungkan di Pesantren Majma’al Bachrain Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Losari, Ploso, Jombang. Empat unit rumah di DIY terinci di Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Gunungkidul, dan Sleman. Opshid Bantul menyerahkan 1 unit RSLHS gratis kepada ibu Dahumi, warga kurang mampu Dusun Kembaran RT 4, Tamantirto Kasihan Bantul.
Penyerahan RSLHS Bantul dilaksanakan awal Nopember ini dihadiri Panewu Kasihan Sugito, aparat Koramil, Polsek, Kelurahan, Dukuh, Ketua RT 04, Ketua DPW Organisasi Shiddiqiyyah DIY Supadi Miyono, Koordinator OPSHID FKYME Zona 2 Jateng DIY Mukstin Zunaidi, dan warga Shiddiqiyah Bantul.
Ketua DPD OPSHID Bantul Sri Karomah mengemukakan, bahwa 66 rumah syukur mulai dibangun serentak pada 17 September 2023. Ukuran Rumah Syukur di Bantul 5,5 meter x 7 meter, dilengkapi dengan fasilitas meja kursi tamu, dua kasur dan 1 lemari pakaian, jaringan listrik 1300 watt.
“Dibangun dalam waktu 40 hari, hari ini kami nyatakan selesai dan kami serahkan kepada ibu Dahumi secara ikhlas tanpa imbalan dalam bentuk apapun, 100 persen gratis,” ujar Sri Karomah, dalam keterangan yang dikirim, Sabtu (4/11/2023)
Sri Karomah mengatakan, pembangunan rumah syukur Sumpah Pemuda ke-95 dilaksanakan atas perintah dan bimbingan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Muchtarulloh Al-Mujtaba. “Dan mengikuti arahan dan petunjuk pimpinan kami, bapak Moch. Subchi Azal Tsani selaku Ketua Umum OPSHID pusat yang berkedudukan di Losari Ploso Jombang, Jawa Timur,” kata dia.
Berbeda dengan program bedah rumah pada umumnya yang hanya merenovasi sebagian rumah, program RSLHS membongkar total rumah yang tidak layak huni, dan dibangun kembali, 100 persen gratis. Baik material, tenaga kerja, konsumsi dan operasional, semua ditanggung oleh OPSHID, dan warga Shiddiqiyyah.

Koordinator OPSHID FKYME Zona 2 Jateng DIY Mukstin Zunaidi mengatakan, proyek Rumah Syukur yang dilaksanakan sejak tahun 2008 ini tak ada kaitan kepentingan dengan partai politik manapun. Penentuan penerima Rumah Syukur tidak didasarkan pada murid Shiddiqiyyah atau bukan.
Bahkan ada penerima yang berasal dari agama lain, Nasrani, Hindu, Budha. “Rumah Syukur ini untuk seluruh masyarakat Indonesia yang memang membutuhkan, tidak hanya Shiddiqiyyah,”jelas Zunaidi.
Seperti penerima rumah syukur Bu Dahumi beragama Katolik. Pertimbangan Opshid membangunkan rumah gratis kepadanya, karena selama puluhan tahun keluarga bu Dahumi tinggal di rumah yang tidak layak huni.
Rumahnya hanya berukuran 4 x 5 meter beratapkan seng dengan ketinggian dari lantai hanya 3 meter. Ruang tamu, kamar tidur, dapur jadi satu dalam satu ruangan yang hanya dibatasi dengan lemari pakaian dan buffet yang sudah usang.
Ibu Dahumi selaku penerima rumah syukur saat diwawancara seusai penyerahan kunci mengaku tidak menyangka mendapatkan berkah yang begitu luar biasa dapat rumah gratis dari Opshid. “Saya awalnya dulu tak percaya saat Pak Sri Karomah bilang mau bangunkan rumah gratis. Benar ini pak?,” ungkap dia
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Mursid Thoriqoh Shiddiqiyyah eyang Kiai Muchtar Mu’thi, dan bapak Muhammad Subchi telah melimpahkan kebaikannya kepada kami berupa rumah syukur,” lanjut bu Dahumi.
“Ucapan terima kasih juga kepada warga Shiddiqiyyah yang telah membantu kami sehingga kami dapat tinggal di rumah yang layak.” imbuh ibu dua anak ini.
Suami Dahumi, Budi mengatakan, ia merasa bantuan rumah syukur merupakan mukjizat yang luar biasa dari Tuhan yang dengan berkat dan rahmatNya memberi rumah melalui Shiddiqiyyah khususnya Opshid Bantul.
“Ini sungguh luar biasa rasa terima kasih rasa bahagia yang sulit saya ucapkan. Baru sekali dalam hidup kami menerima kebaikan yang sedemikian besar berupa rumah gratis dari Shiddiqiyyah, sesuatu yang tidak pernah terbayang,” kata Budi.
Ia mengaku sudah lama memimpikan bisa bangun rumah yang layak. “Bahkan kami sudah pinjam bank untuk bikin fondasi rumah tapi nggak selesai. Fondasi rumah itu terkatung-katung selama 10 tahun lebih,” ujarnya.
Lantaran tak punya rumah sendiri, Budi mengaku sampai hidup terpisah sama anak istri selama 5 tahun lebih. “Anak istri tinggal sama mertua di RT 07. Saya kontrak sendiri di rumah sederhana di RT 04. Kemudian tiba pertolongan Tuhan melalui santri santri Shiddiqiyyah, khususnya Opshid Bantul. Saya dibangunkan rumah gratis,” tuturnya. (*/ ted]











