bernasnews – Sebanyak 25 siswa kelas 2C Serai (cymbropogon citratus) Sekolah Dasar (SD) Mangunan, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menghadiahkan buku karya mereka berjudul Surat Cinta Buat Bu Felis.
Seorang guru wali kelas di kenaikan kelas tahun ajaran 2022-2023. Acara peluncuran buku dilangsungkan pada Sabtu (30/9/2023) di ruang tengah perpustakaan rumah kayu limasan itu.
“Apa jadinya bila pembelajaran sekolah, lebih menyerupai taman belajar, ketimbang sebuah kelas. Apa jadinya bila seorang Guru lebih berperan sebagai ‘kakak’ buat 25 ‘teman kecilnya’ ketimbang sebagai murid-muridnya belaka…”
Pengantar back cover buku bertajuk Surat Cinta Buat Bu Felis di atas sekadar contoh. Betapa pendidikan di sekolah tersebut–seperti halnya beberapa sekolah inklusi lainnya– mampu mencipta suasana belajar menyenangkan dan penuh imajinasi serta “kreativitas liar”.
Bila di sekolah lain, guru memberi rapor, maka di SD Mangunan ini murid juga menghadiahi buku karya mereka buat sang Guru. Bukan buku seadanya. Namun buku serius berstandar ISBN.
Ide semacam surat cinta buat guru tercinta itu disebut tradisi nggiwar. Dalam bahasa Jawa, nggiwar bermakna, berpikir menyamping, atau berpikir lateral dalam khasanah ilmu psikologi. Kenaikan kelas di banyak sekolah akan selesai dengan penerimaan rapor. Tidak mewariskan kesan dan pesan reflektif sebuah proses pembelajaran dialog antara guru dan siswanya selama dua semester.
Padahal proses belajar 12 bulan oleh guru dan siswa pastilah penuh dinamika pembelajaran. Apakah pendidikan kemudian tidak lebih dari sekadar angka-angka di rapor itu?
Meski rapor juga penting sebagai laporan evaluasi belajar siswa. Betapapun sudah banyak rapor sekolah mulai memberi pembobotan kualtitatif deskriptif selain angka ukur selama ini.
Berangkat dari proses belajar para siswa sehari-hari di kelas yang dianggap sepele. Dengan sedikit sentuhan kolaborasi para murid, orang tua, dan guru wali serta guru mapel, anak-anak kemudian mampu mengeksplorasi diri lebih daripada yang kita bayangkan. Dari sekadar mengerjakan soal, ujian, bahkan lomba-lombaan dari tradisi pemeringkatan dalam budaya didik memelajari sesuatu (learning of learning) yang sudah lama kita lestarikan dengan agak dangkal dan salah kaprah ini.
Sebutlah Ea yang mengungkapkan “rasa cintanya”: “Halo Bu Felis terima kasih atas ilmunya. Walaupun kita nakal Bu Felis sabar walopun kadang aku takut dimarahi Bu Felis. Terima kasih selama kelas 2 ini Bu Novi, Bu Ninok, Pak Ervan atas ilmu ibu, bapak guru yang sudah membagi ilmu.” – Salam sayang, Ea.
Ada pula surat menyentuh dari sebutlah Londra yang menyiratkan permohonan maaf kepada sang guru. Sebuah ungkapan guilty feeling yang semoga kelak juga menjadi modal pemekaran sikap etis yang kian langka: “Terima kasih bu Felis karna sudah mengajarkan kami setiap hari. Maaf Bu Felis karna aku nakal dan juga tidak mendengarkan Bu Felis. Terima kasih Bu Felis, Londra
Masih dalam nada senada. Keugaharian siswa kepada gurunya untuk memohon maaf dari Joy: Halo bu Felis terima kasih ya sudah mengajar sampai sekarang walaupun kita suka marah-marah dan nakal, tapi Bu Felis tetap sabar. Sekali lagi terima kasih, Bu. Hello Bu Ninok, terima kasih ya bu diajarin musik belajar membuat dram dan kartu warna warni. Oh iya aku sekarang jadi jago lohh bu. Sekali lagi terima kasih Bu Ninok.
Bahkan ada siswa bernama sebutlah Hai yang teringat saat diajar berhitung dengan telaten oleh bu Felis: “Terima kasih Bu Felis sudah mengajariku perkalian, pengurangan, penjumlahan, pembagian. Terima kasih Bu Ninok, terima kasih Mam Nindi, terima kasih Mam Novi, dan yang lainnya.”
Tersirat pula harapan untuk Bu Felis bila mereka telah naik ke kelas 3 seperti dituliskan oleh Ri: “Terima kasih Bu Felis sudah menemani kami selama ini dan mengajar kami. Semoga Bu Felis bangga dengan kami. Semoga Bu Felis selalu mengenang foto kami. Semoga saat naik kelas 3 Bu Felis selalu ingat kami.”
Masih banyak ungkapan rasa cinta dan harapan dari 20 anak lainnya buat guru mereka. Ada yang menulis, menggambar, bahkan menempeli stiker bikin surat cintanya seperti Ndi yang lebih kuat kemampuan visualnya ketimbang tekstual dan masih banyak ekspresi unik para siswa yang berusia sekira 8-10 tahun ini.
Ternyata membuat buku karya siswa itu mungkin. Bahkan mencipta sebuah “karya akhir apik” buku kenangan buat Guru, perpustakan bahkan buat refleksi pendidikan lembaga sekolah.
Karya buku berdimensi memanjang horizontal 30×22 cm, warna merah jambu bersampul amplop berisi bunga-bunga menyembul hasil kolaborasi si Ri dan ibunya tersebut, seperti halnya buku “Supermangun”. Sebuah komik apik yang telah terbit sebelumnya, karya guru Bu Vika dan Bu Felis SD Mangunan salah satu contoh. Pendekatan portfolio (belajar berbasis proyek karya) kini sejatinya sudah mulai dilakukan di banyak sekolah.
Tentu dengan pendampingan para orang tua yang terlibat aktif saat para siswa belajar di rumah. Dukungan penciptaan suasana pembelajaran baik di sekolah pun di rumah lah yang mampu mendorong anak-anak berkarya efektif namun tetap menyenangkan.
Bu Felis yang hadir didampingi Suster Desta wali kelas 3 Impian dimana para siswa kini berada, sempat berkaca-kaca. Saat membacakan salah satu bab “Selarik Maaf dan Harapan”:
“Guru tidak pernah menjadi ‘bekas guru’. Ilmu dan kebajikan yang telah diajarkan dan diteladankan kekal adanya….dimanapun kelak mereka berdiaspora. Menempuh rute-rute mereka masing-masing dengan unik dan penuh percaya diri…”
Spirit “pendidikan bebas”
Sekolah Mangunan yang dirintis dan disemangati oleh spirit “pendidikan bebas” Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya alias Romo Mangun tersebut kini sudah bertumbuh dari TK, SD hingga SMP. Kini sekolah yang sudah banyak dikunjungi berbagai sekolah se-Indonesia dan komunitas kemasyarakatan buat studi banding. Bahkan beberapa alumni kampus rela magang buat berguru karena keunikan metode pembelajarannya tersebut, telah berhasil dilanjutkan oleh para kader Romo dan penggiat pendidikan di kota pendidikan tersebut.
Dari orang tua, Pak Dodi yang turut bantu menyusun buku merasa bersyukur dengan hasil karya anak-anak. “Betapapapun, ikut bantu menyeleksi ratusan foto dokumentasi itu melelahkan dan kerja luar biasa….sebuah buku mampu menghadirkan pesan visual yang lebih riil daripada filmnya. Karya anak-anak layak kita apresiasi dan menjadi bahan refleksi kita semua”, cetus perancang buku di sebuah penerbitan itu.
Sang kepala sekolah Pak Carol yang juga turut hadir, menyitir pesan Romo Mangun sang pendiri: menjadi guru atau mendidik anak ibarat menjadi bidan. Orang yang sabar menunggui, setia mengamati, dan tangkas menyiapkan menjelang kelahiran sang bayi. Para murid adalah sang bayi-bayi yang siap dilahirkan itu. Demikian pula peran orang tua kurang lebih sama. Terima kasih telah berkenan menjadi bidan-bidan bagi anak-anak kita,” kata Pak Carol.
Suster Desta wali kelas baru ke 25 siswa pun turut mengamini, “Saya sungguh berterima kasih sekali diundang dan ambil bagian. Terima kasih pula kini giliran saya diberi kepercayaan berikutnya, mendampingi para putera-puteri Ibu dan Bapak sekalian. Mari kita terus bersamai anak-anak kita ini…”.
Ya, betapa sungguh benar pesan suster guru wali kelas 3 Impian ini: “Anakmu, ya anakku pula rasanya…”
Dalam sambutannya, Bu Felis yang juga memberikan catatan 25 profil tiap anak dengan terperinci sebagai bahan bab “Sosok Murid” itu menulis demikian: “Saya begitu gembira menjadi teman belajar bagi teman-tema kecil 2C. Menemani mereka belajar, berelasi, berkonflik dan menyelesaikan konflik. Mereka adalah anak-anak yang aktif, kritis, peduli, dan menyenangkan. Besar harapan saya, anak-anak ini dapat tumbuh subur dengan segala potensinya, sehingga mekar dan migunani bagi lingkungan sekitarnya. Harapan ini dapat terwujud tentu saja tidak dengan usaha sendiri, namun juga campur tangan orang tua paguyuban yang setia mendukung bekerja sama demi mekarnya si pohon.”
Ungkapan ibu guru Felis tidaklah berlebihan. Sebagaimana dalam larik pengantar buku tertulis: Buku ini tak lain adalah ungkapan cinta dan terima kasih dari para murid kepada sang Guru yang telah mengantarkan mereka kepada batas-batas cakrawala baru itu. (Ben Antono, orangtua siswa)












