bernasnews — Kampung Tangguh Bencana (KTB) Suryoputran menggelar acara peringatan ulang tahun yang pertama berdirinya lembaga tersebut, bertempat di Halaman Balai Kampung Suryoputran, Jalan Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta, Jumat malam (6/10/2023).
Acara yang dikemas dengan sederhana itu dihadiri puluhan peserta, yang terdiri dari Ketua RW/ RT se-Kampung Suryoputran, para relawan dan Ketua KTB se-Kelurahan Panembahan. Juga dihadiri oleh perwakilan BPBD Kota Yogyakarta, perwakilan Polsek Kraton, Lurah Panembahan, serta Ketua Kampung Suryoputran.
Ketua KTB Suryoputran Amtono Prasutanto mengemukakan, bahwa bicara mengenai KTB Suryoputran berarti adalah kampung bukan beberapa orang. Kegiatan relawan KTB Suryoputran itu dibagi tiga, kegiatan intern di dalam kampung sendiri. Kedua adalah kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh lembaga kampung maupun pihak luar, dan ketiga adalah kegiatan membantu dalam rangka musibah dan lain-lain di luar Kampung Suryoputran.
“Tahun 2022 relawan KTB Suryoputran telah berhasil gotong royong dalam rangka menutup tanah yang terkikis air di wilayah RW 8 dan RW 10. Dalam mitigasi bencana juga melakukan pemotongan beberapa pohon yang dipandang menyebakan resiko apabila terjadi angin besar. Selain itu, kita juga mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Masjid Wiworojati, antara lain berpartisipasi dalam pengawalan takbir keliling dan saat Idul Kurban. Juga berpartisipasi dalam kegiatan HUT Ke-78 RI oleh Kampung Suryoputran,” terang dia.
Selain itu, imbuh Amtono, keluar relawan KTB Suryoputran juga membantu berpartisipasi adanya beberapa pohon tumbang di wilayah Kota Yogyakarta, serta berpartisipasi atas kejadian laka air yang terjadi di luar Kota Yogyakarta. “Sudah satu tahun kita merasa adanya kebutuhan satu sistem penanggulangan bencana di wilayah kampug ini makin diperlukan, terutama dengan adanya relawan-relawan bila ada kegiatan yang sesuai dengan tupoksinya. Masih ada beberapa rencana yang belum bisa dilaksanakan terutama terkait pelatihan-pelatihan yang berhubungan BPBD,” bebernya.
“Berdasar amanat undang-undang bahwa penanggulangan bencana berbasis masyarakat, yang artinya masyarakat diajak ikut aktif berperan serta dalam sistem penanggulangan bencana. KTB adalah bagian masyarakat yang melakukan itu. Kenapa masyarakat diikut sertakan? Pasalnya masyarakatlah yang ada dalam wilayah bencana, sehingga masyarakat yang telah terlatih dalam manajemen kebencanaan itulah yang diharapkan dapat melakukan self rescue atau istilah lain mereka memiliki survive ability dibanding yang lain,” tandas Amtono.
Dalam sambutannya, Ketua Kampung Suryoputran H. Bandrio Utomo, SE mengucapkan selamat ulang tahun kepada KTB Suryoputran dan semoga selalu di hati warga Suryoputran. Menurut Bandrio, semenjak hadirnya KTB Suryoputran trennya sangat positif apabila dalam kacamata bisnis itu untung dan profit.
“KTB sendiri merupakan lembaga kemasyarakatan non profit tapi bisa menghasilkan profit. Menghasilkan profit untuk warga juga untuk KTB itu sendiri. Satu contoh peran KTB yang menguntungkan yaitu sewaktu diminta menebang pohon atau membantu warga yang kebetulan kondisi bangunan rumahnya berbahaya tentunya hal ini menguntungkan bagi warga,” ujarnya.
“Profit tidak harus diukur dengan uang namun juga sebagai amal. Sebaik-sebaik orang adalah yang bermanfaat untuk orang lain salah satunya adalah KTB,” lanjut Bandrio, yang juga Ketua Takmir Masjid Wiworojati Suryoputran.
Pihaknya juga mengajak KTB Suryoputran agar melakukan sinergitas dengan Takmir Masjid Wiworojati dalam bidang joint operations dan joint mentenance atau perwatan peralatan. Ada beberapa peralatan yang dimiliki oleh takmir yang tidak dimiliki oleh KTB namun bisa berfungsi untuk kegiatan KTB. “Salah satunya ialah takmir mempunyai chainsaw (gergaji mesin) besar, dimana KTB tidak memiliki namun butuh. Nah inilah yang dinamai simbiosis mutualisme yaitu sama-sama menguntungkan,” ungkap Bandrio.

Sementara itu, Lurah Panembahan RM. Murti Buntoro, SH, MIP mengapresiasi dan mengucapkan selamat ulang tahun pertama untuk KTB Suryoputran, yang tepat pada tanggal 1 Oktober lalu. Menurut Murti, keberadaan KTB ini harus sensitif meskipun wilayah kita jauh dari sungai atau gunung. “Sensistif dengan keberadaan pohon-pohon, terutama kondisi ranting dan dahan yang membahayakan,” ujarnya.
Lurah Panembahan juga mengajak Para KTB yang hadir untuk ikut berperan dalam persoalan sampah yang apabila tidak dikelola dengan baik tentu kedepan akan menjadikan bencana. Program Mbah Dirjo Resik dari Pemkot hendaknya KTB bisa ikut menggerakkan warga yang ada di wilayahnya. “Persoalan sampah sejatinya berangkan dari mindset warga, pada tahun 2024 nantinya TPS hanya benar-benar menerima sampah dalam kategori residu,” tandas Murti.
Hal senada juga disampaikan oleh perwakilan dari BPBD Kota Yogyakarta yang mengapresiasi dan mengucapkan selamat atas penyelenggaraan peringatan satu tahun berdirinya KTB Suryoputran, disertai harapan semoga bermanfaat bagi warga kampung setempat juga wlayah Kemantren Kraton pada umumnya. Anggota relawannya juga semakin berkembang tumbuh banyak.
Dalam sesi saresehan, Ketua KTB Suyoputran mengemukakan dengan telah tercatatnya Sumbu Filosofi Kota Yogyakarta dan keterkaitan dengan program pembangunan revitalisasi Kraton Yogyakarta di mana benteng kraton akan dipugar sebagaimana aslinya, lengkap dengan bangunan plengkungnya. Ia mengingatkan agar pembangunan khususnya plengkung dapat disesuaikan kondisinya untuk masuknya armada mobil damkar yang relatif besar. Acara selanjutnya ditutup dengan hiburan musik organ tunggal oleh Mas Bento dan kawan-kawan. (ted)











