News  

International  Masterclass: Gelar Pelatihan Pengelolaan Heritage

Dr. Laretna T. Adishakti, Ketua Panitia International Masterclass. (Foto: Dok. Pribadi)

bernasnews — Kali pertama di Indonesia akan diselenggarakan acara International Masterclass ‘Introduction for Main Street’, bertempat di Gedung Pancabrata Prof. Herman Yohanes, ERIC, FT UGM, Yogyakarta, pada tanggal 18 – 21 September 2023.

Pada bulan September 2023, nominasi ‘The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks’ (Sumbu Filosofi Yogyakarta, red), dalam sesi 45 World Heritage Committee UNESCO di Riyadh Saudi Arabia, telah direkomendasikan untuk ditetapkan sebagai World Heritage Site.

Penetapan nominasi Yogyakarta sebagai World Heritage Site menuntut pula peningkatan kompetensi kolaborasi pelestarian dan pengelolaan World Heritage Site dari berbagai pemangku kepentingan di Yogyakarta. “International Masterclass menjadi salah satu cara untuk peningkatan kompetensi tersebut dan kesempatan langka ini perlu pula dipelajari oleh kawasan-kawasan pusaka yang lain di Indonesia,” ungkap Laretna T. Adishakti, Dosen Departemen Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM selaku Ketua Panitia Pelaksana International Masterclass.

Event internasional ini diselenggarakan oleh Grup Riset Pelestarian & Pengelolaan Kota Pusaka, Engineering Research and Innovation Center/ERIC FT UGM, Bumi Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), dan Heritage Strategies International (HIS) Washington DC, USA. Kegiatan ini juga memperoleh dukungan dari Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta;  dan Keluarga Alumni Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA).

Lebih lanjut Laretna menjelaskan, bahwa mengacu pengalaman implementasi  ‘Main Street’ di banyak negara, ditengarai pendekatan ini mampu merevitalisasi Kawasan World Heritage Site. Menurut dia, Amerika Serikat telah 40 tahun melaksanakan ‘Main Street’ yaitu sebuah pendekatan sistematis untuk menggunakan bangunan pusaka sebagai dasar revitalisasi kawasan bisnis atau niaga.

‘Main Street’ sendiri sejauh ini telah menjadi bentuk pembangunan ekonomi yang paling hemat biaya di Amerika Serikat,” tandas Laretna.

Dikatakan, lebih dari 2000 kota telah menggunakan pendekatan ‘Main Street’ guna membangkitkan kembali kehidupan ekonomi di kawasan binsis atau niaga mereka, termasuk kota Boston, Philadelphia, Baltimore, Chicago, Washington dan lain-lain. “Upaya revitalisasi ‘Main Street’ yang luar biasa sukses, dilakukan dengan Pendekatan 4 titik yaitu Organisasi, Promosi, Desain, dan Vitalitas Ekonomi,” imbuh Laretna.  

Selanjutnya Laretna menjelaskan rahasia kesuksesan ‘Main Street’  adalah lantaran komprehensif.  Perbaikan bangunan pusaka memang diperlukan, tetapi ini saja tidak cukup untuk revitalisasi pun dibutuhkan elemen lain dari Pendekatan Main Street. ‘Main Street’ juga dilaksnakan secara bertahap.

“Program ini tidak serta merta menjanjikan perbaikan dan solusi instan, serta dibangun di atas aset yang ada, berkolaborasi bekerja melalui kemitraan dengan pemerintah daerah, pemilik bisnis dan properti, serta organisasi lain.” pungas Laretna.

Kegiatan International Masterclass  ‘Introduction for Main Street’ akan menghadirkan fasilitator yang sangat kompeten di bidangnya, antara lain adalah: Mr. Donovan Rypkema (Principal, HIS),  Mr. Rodney Swink, FASLA, PLA (Senior Associate for Planning and Development, HIS),  Ms. Katlyn Cotton (Director of Communications and Design, HIS), Dr. Laretna T. Adishakti (ERIC FT UGM & BPPI), Dr. Catrini P. Kubontubuh (Ketua Dewan Pimpinan BPPI & Ketua SEACHA), dan Dr. Amiluhur Soeroso (Kaprodi Magister Pariwisata STIPRAM Yogyakarta & Pengurus ISEI Yogyakarta).

“Pelatihan ini diharapkan diikuti oleh perwakilan pemerintah (pusat dan daerah), akadenisi, profesional bidang arsitektur, pelestarian pusaka serta bisnis dan ekonomi,” harap Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, dalam rilisnya, Jumat (1/9/2023)

Menurut Susilo, peserta diharapkan memahami konsep pendekatan empat titik dari Main Street dan bagaimana menggunakannya untuk merevitalisasi area kawasan pusaka. Peserta juga akan memperoleh sertifikat dan bagi anggota IAI ditambah KUM 32. “Bagi calon peserta yang akan memperoleh informasi dan mendaftar sikahkan menghubungi Yeny Paulina Leibo HP/WA +62 813-9205-9690,” imbuh Dosen FBE UAJY, yang juga penggiat pariwisata. (*/ted)