bernasnews – Dalam rangka memperingati HUT Ke-78 RI, Gereja Kristus Raja Baciro Kota Yogyakarta kembali menggelar dialog kebangsaan pada Rabu (23/8/2023) malam.
Dialog yang dihadiri oleh sejumlah tokoh dari lintas iman dan lintas profesi ini diharapkan dapat memupuk kebhinnekaan yang selama ini sudah terjalin dengan baik.
Selain berbicara terkait dengan kebhinekaan, Seksi Lintas Agama Panitia Dialog Kebangsaan Gereja Kristus Raja Baciro Kota Jogja Prayogo Sunaryo mengatakan para narasumber juga akan mengaitkannya dengan tahun electoral dan pesta demokrasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan di negara ini.
Tak bisa dipungkiri bahwa moment pergantian kekuasaan itu selalu menghadirkan suasana dan adrenalin tersendiri, baik bagi para penggiat politik dan demokrasi, partai politik, politisi, dan juga bagi seluruh warga bangsa.
Apalagi di Yogyakarta memiliki latar belakang masyarakat dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia. Kondisi ini harus menjadi kekuatan tersendiri untuk saling bersinergi memajukan bangsa, bukan menjadi bibit perpecahan.
“Ada beberapa pihak yang menginginkan perpecahan terjadi di tengah Masyarakat karena mereka mendapatkan keuntungan dari perpecahan itu. Gerakan-gerakan ke arah upaya memecah belah ini harus terus dicermati untuk bisa saling bergandeng tangan dan menyatukan,” kata Seksi Lintas Agama Panitia Dialog Kebangsaan Gereja Kristus Raja Baciro Kota Jogja Prayogo Sunaryo, Rabu (23/8/2023), malam.
Adapun narasumber yang dihadirkan dalam dialog kebangsaan kali ini antara lain Rm. Kolonel Joseph Marcellinus Bintoro seorang pastor anggota TNI AU, kemudian Profesor Al Makin Rektor UIN Sunan Kalijaga dan Brigjen TNI Rachmat Puji Susetyo.
Kepala BIN DIY Brigjen TNI Rachmat Puji Susetyo mengatakan tidak banyak negara yang terdiri multikultur bisa bersatu seperti Indonesia. Tak heran jika banyak pihak tertentu yang berusaha memecah belah persatuan dan kesatuan Indonesia dengan berbagai cara termasuk melalui pemilu 2024 mendatang.

Oleh karenanya, perlu mempersiapkan semua komponen bangsa termasuk lintas agama dan lintas profesi ini untuk terus dirawat dan dijaga agar tak terjadi perpecahan menjelang pesta demokrasi lima tahunan itu.
“Jelang pemilu (inil saya melihat ada potensi dimanfaatkan untuk memecah belah. (Meski begitu) sampai saat ini kita masih bisa mempertahankan dan terus harus kita jaga bersama,” kata Kepala BIN DIY Brigjen TNI Rachmat Puji Susetyo dalam Dialog Kebangsaan bertajuk Merawat Pilar-pilar Kebhinnekaan di Gereja Kristus Raja Baciro, Yogyakarta.
Susetyo menilai dialog kebangsaan sangat perlu menjelang tahun politik, untuk mendinginkan suhu politik dan menjaga kondusifitas di tengah banyaknya provokasi terhadap masyarakat dengan embel-embel indentitas agama.
“Boleh berbeda pilihan tetapi (tetap) menjunjung kebersamaan. Ini penting karena ada upaya-upaya menggunakan pemilu untuk kepentingan jangka panjang seperti merubah bentuk negara,” ucapnya.
Pastor TNI AU Rm. Kolonel Joseph Marcellinus Bintor menambahkan keberagaman telah menjadi bagian dari Indonesia. Selama ini kebersamaan itu telah menjadi modal sosial dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga harus dijaga keutuhannya.
“Justru modal sosial kita adalah kekayaan keberagaman dari sabang sampai Merauke dari Rote sampai Mianggas. Yogyakarta adalah barometernya nasionalisme dan keberagaman,” kata Pastor TNI AU Rm. Kolonel Joseph Marcellinus Bintor.
Sementara Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Al Makin mengatakan, dialog kebangsaan di Gereja Kristus Raja Baciro ini untuk menggelorakan lagi keberagaman khususnya dalam hal beragama. Apalagi, sejatinya fondasi bangsa Indonesia adalah kebhinekaan atau keberagaman.
Dialog kebangsaan itu diharapkan dapat memperkokoh kebinekaan, semangat persatuan, dan menjadikan Jogja city of tolerance. Ia yakin seluruh masyarakat DIY cinta damai menjunjung tinggi perbedaan.
“Termasuk pemilu, saya yakin pasti banyak sekali perbedaan pandangan politik, bagaimana kita mengedukasi masyarakat agar bisa saling mengerti dengan adanya perbedaan itu,” pungkasnya. (lan)












