News  

Peringati Tahun Baru Islam 1445 Hijriah, Takmir Masjid Wiworojati Suryoputran Gelar Tabligh Akbar dan Berbagi Pada Anak Yatim

Ustad Awaluddin Kiraman, S.Ag, Pimpinan Harian Panti Asuhan Al-Idris, Nogotirto, Gamping, Sleman saat menyampaikan tausiah dalam acara Tabligh Akbar memperingati Tahun Baru 1455 Hijriah oleh PHBI Takmir Masjid Wiworojati Suryoputran, Kota Yogyakarta, Kamis malam (20/7/2023). Foto: Tedy Kartyadi/ bernasnews.

bernasnews — Menyambut dan memeriahkan pergantian tahun baru Islam, 1 Muharam 1445 Hijriah, Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Takmir Masjid Wiworjati menggelar acara Tabligh Akbar, di masjid setempat, Jalan Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta, Kamis malam (20/7/2023).

Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 200 jamaah masjid Wiworojati dan warga sekitar Kampung Suryoputran, rencana menghadirkan Ustad Agus Sutrisno, S.Sos.I namun dikarenakan berhalangan hadir lantaran sakit digantikan oleh Ustad Awaluddin Kiraman, S. Ag, Pimpinan Harian Panti Asuhan Al-Idris, Nogotirto, Gamping, Sleman.

Ketua Takmir Masjid Wiworojati H. Bandrio Utomo, SE dalam sambutannya mengemukakan, bahwa malam hari ini merupakan acara peringatan Tahun Baru 1445 Hijriah yang merupakan program PHBI Takmir Masjid Wiworojati dalam memperingati hari-hari besar Islam. Kegiatan hari ini merupakan kegiatan kali keduanya, yang pertama kemarin memperingati Isro’ Mi’raj.

“Kami juga terima kasih kepada para jamaah yang telah meluangkan waktunya untuk menghadiri acara malam ini. Cukup luar biasa yang hadir, panitia telah membuat 200 undangan namun bila melihat kotak snack tinggal beberapa artinya ini adalah sesuatu yang positif dalam tingkat jumlah kehadiran,” ujarnya.

Pada kesempatan ini, lanjut Bandrio mengatakan, takmir juga akan mengajak dalam memaknai peringatan Tahun Baru Hijriah, yang mana hijriah itu sendiri mempunyai dua makna. Pertama, arti hijriah adalah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, makna yang kedua dari kondisi yang sebelumnya ke kondisi yang lebih baik.

“Untuk hal ini, tentunya sejalan apa yang dilakukan oleh program takmir yaitu bagaimana kita bisa memakmurkan masjid ini dan lebih meningkat lagi kemakmurannya bersama-sama para jamaah. Kedua, kami selaku takmir juga berusaha meningkatkan pelayanan dalam beribadah, termasuk kelayaakan para jamaah Wiworojati. Dan itu kami implimentasikan berupa bantuan anak yatim dan anak asuh,” terangnya.

Dikatakan, anak yatim yang dimaksud adalah anak yatim yang masih bersekolah SD, SMP dan SMA sederajat. Ini adalah bantuan yang berasal dari infaq, sodakoh, zakat mal yang diberikan kepada jamaah melalui takmir yang disalurkan kepada anak yatim dan anak asuh yang masih sekolah, besaran bantuan yang diberikan nilainya sangat relatif.

“Besar kecilnya bantuan ini tergantung jumlah perolehan infaq, sodakoh maupun zakat mal dari jamaah. Ini baru memulai jadi jangan dinilai dari jumlah namun kepeduliannya, serta upaya takmir dalam menyalurkan amal dari para jamaah. Apabila perolehan dari jamaah besar tentu yang kita berikan juga nilainya besar yang kita bagikan,” ujar Bandrio.

“Kami mewakili pengurus takmir mohon agar para jamaah bisa mendukung program pendidikan untuk anak yatim dan anak asuh. Bagaimana caranya? Berapapun yang akan disalurkan infaq, sodakoh, dan zakat mal sampaikan kepada takmir. Amanah tersebut akan kami salurkan melalui acara seperti ini dan program ini mudah-mudahan bisa berkelanjutan.Program ini akan dilakukan setiap tahun ajaran baru. Sederhana saja kita menerima ifaq, sodakoh, zakat mal tidak berdasar target. Jamaah memberikan sebanyak-banyaknya kami tidak menolak, sebaliknya memberikan sedikit kami tidak memaksa,” lanjut Bandrio, yang juga sebagai Ketua Kampung Suryoputran itu.

Perwakilan anak yatim dan anak asuh penerima bantuan dari Takmir Masjid Wiworojati Suryoputran, untuk sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA Sederajat foto bersama diapit oleh Ketua Takmir H. Bandrio Utomo (Kiri) dan Perwakilan Dewan Syuro Masjid Wiworojati H. Bambang Sarjana (Kanan). Foto: Tedy Kartyadi/ bernasnews.

Sebelum acara puncak berupa tauziah oleh Ustad Awaluddin Kiraman, dilaksanakan acara pemberian bantuan kepada anak yatim dan anak asuh yang masih bersekolah SD, SMP dan SMA Sederajat sejumlah 26 anak. Secara simbolis bantuan diserahkan dari Ketua Takmir Masjid Wiworojati kepada Dewan Syuro Masjid Wiworojati yang diwakili oleh H. Bambang Sarjana. Kemudia dari Dewan Syuro diserahkan kepada tiga anak yang mewakili, untuk tingkat SD diterima oleh Ananda Masderan, untuk wakil SMP oleh Eri Kuserian Ramadan, dan wakil SMA oleh Zulian Putera.

Sementara dalam acara puncak Tabligh Akbar memperingati Tahun Baru 1455 Hijriah oleh Takmir Masjid Wiworojati Suryoputran itu, Ustad Awaluddin Kiraman menyampaikan tausiah, dengan tema ‘Memaknai Pergantian Tahun Baru Hijriah dan Barokah Umur Panjang’. Ustad dari Pulau Solor,NTT namun faseh berbahasa Jawa ini mengatakan, bahwa menurut penelitian seseorang yang duduk dan mendengarkan serta bisa menangkap apa yang disampaikan itu maksimal 15 menit.

Suasana jamaah saat mengikuti gelaran Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Tahun Baru 1455 Hijriah yang diadalan oleh PHBI Takmir Masjid Wiworojati Suryoputran. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

“Malam ini kita semua telah berada di hari ketiga bulan Muharam tahun 1455 Hijriah. Pertama, secara umum kalau pergantan tahun Hijriah sepi dan beda dengan pergantian tahun Masehi selalu dengan acara yang luar biasa. Pengertian kita bahwa pergantian tahun itu berarti umur kita bertambah, itu adalah perhitngan dunia. Tapi kalau perhitungan akherat usia kita tidak pernah bertambah namun justru berkurang,” kata dia.

Setiap peringatan ulang tahun doanya adalah panjang umur, dalam ilmu pengetahuan ada umur biologis, yang berdasar lama hidup kita. Tapi juga ada umur kronologis merupakan umur yang bisa disiasati. Contoh, ada seorang ibu yang usia 60 tahun tapi terlihat seperti masih remaja puteri berusia 25 tahun lantaran adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Ada sebuah hadis yang mengatakan, barang siapa dipanjangkan umurnya oleh Allah maka nilai kebaikan dan amal sholehnya juga harus bertambah. Sementara manusia yang merugi adalah dia yang dipanjangkan umurnya nilai kebaikan dan amal sholehnya tidak pernah bertambah. Maka pergantian tahun Hijriah itu adalah meomentum yang tepat untuk melakukan munasabah, mengkoreksi diri, intropeksi diri sendiri,” pungkas Ustad Awaluddin. (ted)